BAB II SELEKSI DAN URAIAN PROSES
alex pepsega indra putra
II.1 Macam – macam Proses Pembuatan Gelatin
Pada
prinsipnya proses pembuatan gelatin dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu
proses asam dan basa. Perbedaan keduanya terletak pada proses perendamannya.
Dimana pada proses asam, bahan baku diberi perlakuan perendaman dalam larutan
asam (Gelatin tipe A). sedangkan pada proses basa, bahan baku diberi perlakuan
perendaman dalam larutan basa (Gelatin tipe B).
II.1.1
Perendaman Asam
Perendaman asam dilakukan dalam
pembuatan gelatin tipe A (acid). Tipe
A ini umumnya dibuat dari kulit hewan muda (terutama kulit babi), sehingga
proses pelunakannya dapat dilakukan dengan cepat yaitu dengan sistem perendaman
dalam larutan asam. Kulit dari babi muda tidak memerlukan penanganan alkalis
yang intensif karena jaringan ikatnya belum kuat terikat. Untuk itu cukup
direndam dalam asam lemah (encer) dalam waktu yang tidak terlalu lama. Selain
bahan baku berupa kulit hewan muda, gelatin tipe A dapat diperoleh dari ossein (Tulang lunak) dengan perendaman
asam. Konsentrasi larutan asam dan waktu perendaman harus disesuaikan (Schrieber, 2007).
Pada perendaman asam, bahan baku (raw material) terlebih dahulu dilakukan
perendaman dengan larutan asam sebelum melalui proses hidrolisis menjadi
gelatin. Proses perendaman dalam larutan asam yang bertujuan untuk mengkonversi
kolagen menjadi bentuk yang sesuai untuk ekstraksi, yaitu dengan adanya
interaksi ion H+ dari larutan asam dengan kolagen. Sebagian ikatan
hidrogen dalam tropokolagen serta ikatan-ikatan silang yang menghubungkan
tropokolagen satu dengan tropokolagen yang lainnya dihidrolisis menghasilkan
rantai-rantai tropokolagen yang mulai kehilangan struktur triple heliknya. Pada
tahapan ini dilakukan perendaman dengan larutan HCl dengan konsentrasi 4-6%
selama 1-2 hari dan suhu operasi adalah 40-90oC. Proses ini akan
menghasilkan tulang yang sudah lunak yang disebut ossein yang terdapat kolagen didalamnya (Schrieber, 2007).


![]()
Tulang Ikan

HCl
(Gambar II.1 Blok Diagram Proses
Perendaman Asam)
II.1.2
Perendaman Basa
Perendaman basa biasa digunakan untuk
bahan baku yang keras seperti dari kulit hewan tua atau tulang sapi maupun
tulang babi. Dalam proses ini, kolagen direaksikan dengan NaOH serta melalui
tahapan liming yang panjang sebelum
diekstraksi.
Setelah melalui perendaman basa, kolagen
dicuci hingga bebas dari basa dan
direaksikan dengan asam dengan tujuan untuk menghilangkan garam-garam yang
terdapat pada bahan baku serta mencapai harga pH ekstraksi yang diinginkan. Hal
ini dikarenakan untuk memenuhi rasio kekuatan gel terhadap viskositas pada
produk akhir. Kualitas gelatin yang dihasilkan, meliputi bloom dan viskositas,
merupakan hasil dari hubungan antara konsentrasi NaOH, suhu, dan durasi pengkondisian.
Pada pengkondisian yang lebih sesuai akan menghasilkan viskositas yang lebih
besar. Kemudian kolagen didenaturisasi dan dikonversi menjadi gelatin melalui
pemanasan,sama seperti pada proses asam.
Karena pada proses basa menggunakan
kapur (liming processes), maka
terdapat garam yang tinggi. Hal ini harus diatasi dengan menggunakan mekanisme
pertukaran ion untuk menghilangkan jumlah garam yang berlebih tersebut.
Selebihnya, proses berlangsung sebagaimana pada proses secara asam.
Jika direaksikan dengan basa berlebih,
maka kolagen menjadi larut dalam air dingin. Hal ini mengakibatkan selama bahan
baku dicuci dengan basa, kolagen akan larut dalam fase larutan dan berdampak
pada yield yang lebih rendah.



![]()
Tulang ikan tuna

HCl
(Gambar II.2 Blok Diagram Proses
Perendaman Basa)
II.2 Seleksi Proses
Berdasarkan penjelasan macam-macam proses diatas, maka
dapat dilihat perbandingan masing-masing proses pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.1 Perbandingan Proses
Perendaman Asam dan Basa
|
Karakteristik |
Perendaman asam |
Perendaman Basa |
|
Bahan Baku |
Kulit hewan muda : (kuliat babi),
Kulit ikan, Tulang Lunak (ossein) |
Bahan baku yang keras (kulit
hewan tua, Tulang sapi, Tulang babi) |
|
Waktu Perendaman |
1-2 hari |
2-3 bulan |
|
Yield |
lebih besar dari proses basa |
Lebih kecil dari proses asam |
|
Kekuatan Gel |
150-300 bloom |
50-200 bloom |
Berdasarkan tabel 2.1, maka dipilih
proses perendaman asam, pemilihan ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan
berikut ini :
·
Waktu perendaman yang tidak terlalu
lama untuk proses asam yaitu selama 1-2 hari.
·
Yield yang dihasilkan untuk proses
asam lebih banyak daripada proses basa. Asam mampu mengubah serat kolagen
triple heliks menjadi rantai tunggal, sedangkan larutan perendam basa hanya
mampu menghasilkan rantai ganda. Hal ini menyebabkan pada waktu yang sama
jumlah kolagen yang dihidrolisis oleh larutan asam lebih banyak daripada
larutan basa.
·
Kekuatan gel yang dihasilkan dari
perendaman asam lebih sesuai untuk penggunaan gelatin secara komersial yaitu
sekitar 150-300 bloom. Selain itu juga semakin tinggi nilai bloom-nya (gaya yang digunakan untuk menekan
per gram gelatin dalam suatu analisa tekstur 4 mm dari permukaan dengan
kandungan 6.67% gelatin sampel pada 10ºC) maka semakin mudah gelatin membentuk
gel dan semakin kuat kestabilan yang diberikan oleh gelatin pada campuran
terhadap zat lain
II.3 Uraian Proses
Proses pembuatan
gelatin dari tulang ikan kakap dibagi dalam 5 unit.
Adapun unit
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Unit persiapan bahan
baku (raw material pre treatment unit)
Pada unit ini terdapat 5 tahapan proses yaitu pengeringan
bahan baku, pengecilan ukuran (size
reduction process), penghilangan lemak (degreasing
process), Pengendapan dan pemisahan, dan proses demineralisasi (perendaman
asam).
2. Unit reaksi (reaction
unit)
Pada unit ini terjadi konversi kolagen menjadi gelatin
melalui proses ekstraksi dan hidrolisis.
3.
Unit pemurnian (purification unit)
Unit
purifikasi terdiri atas 3 tahapan proses yaitu penyaringan (filtration), pertukaran ion (ion
exchange) dan penguapan (evaporation).
4.
Unit finishing
Pada
unit ini terdiri atas proses ekstrusi, proses pengeringan (drying), dan proses penggerusan.
5.
Unit Packaging
Unit ini merupakan proses pengepakan (packaging).



Tulang Ikan Tuna

![]()
Gelatin
(Gambar II.3 Blok
Diagram Proses Produksi Gelatin dari Tulang Ikan Kakap)
II.3.1 Unit Persiapan Bahan Baku (Raw Material Pre Treatment Unit)
II.3.1.1
Tahap Pengeringan
Pada tahapan ini dilakukan proses
pengeringan bahan baku dengan metode alami, yaitu dengan cara dijemur.
Pengeringan ini bertujuan untuk memastikan bahwa bahan baku yang akan disimpan
didalam fish bone storage (F-111)
memiliki kadar air rendah, sehingga dapat disimpan lebih lama. Proses
pengeringan ini berlangsung selama 1 hari. Pada proses ini bahan baku yang
dikeringkan dapat memenuhi kebutuhan perhari yang digunakan pada tahapan proses
selanjutnya. Dengan memperhitungkan faktor keamanan maka jumlah bahan baku
ditambahkan sebanyak 50% dari total kebutuhan perhari, sehingga total bahan
baku yang dikeringkan berkisar 33 ton.
II.3.1.2 Tahap Pengecilan Ukuran (Size Reduction Process)
Pada tahapan persiapan bahan baku ini,
tulang ikan kakap dari hasil limbah industri pengolahan ikan diangkut dengan
menggunakan truk menuju storage tulang
ikan kakap kemudian ditrasnport menggunakan belt
conveyor (J-112) menuju ke alat pengecilan ukuran (size reduction). Alat pengecilan ukuran yang digunakan adalah roll crushers (C-110) yang dilengkapi
dengan screener (X- 113). Tulang ikan yang keluar dari proses size reduction diharapkan dapat
memperkecil ukuran bahan baku dair ukuran masukan sebesar 5-30 cm menjadi
berukuran sekitar 0,5 cm, sehingga memperluas luas permukaan dari bahan baku
dan mempermudah proses treatment pada tahap selanjutnya. Untuk tulang ikan
kakap yang berukuran lebih besar dari 0,5 cm diumpankan kembali ke roll crushers melalui belt conveyor (J-114) dan bucket elevator (J-115) yang diharapkan
ukuran tulang ikan kakap sebesar 0,5 cm. Tulang ikan kakap yang berukuran 0,5cm
lolos screener di tampung di hopper (F-116)
dan selanjutnya diumpankan ke dalam degreasing
tank (M-120) dengan menggunakan belt
conveyor (J-117) dan bucket elevator (J-122).
II.3.1.3 Penghilangan Lemak
(Degreasing)
Tulang ikan kakap yang setelah melalui
proses pengecilan ukuran (size reduction)
ditransport menggunakan belt conveyor (J-117)
dan bucket elevator (J- 122). menuju
ke Degreasing Tank (M-120). Pada
proses ini diharapkan deposit lemak yang tinggi dan campuran kotoran yang
melekat pada tulang ikan kakap dihilangkan dengan menggunakan air panas dengan
perbandingan antara tulang ikan dan air panas sebesar (1:2). Air panas akan
berkontak langsung dengan tulang ikan yang sudah mengalami proses pengecilan
ukuran. Kondisi temperatur yang diberlakukan adalah pada suhu antara titik cair
lemak dan suhu koagulasi albumin tulang yaitu antara 32oC-80oC
sehingga dihasilkan kelarutan lemak yang optimum. Oleh karena itu, diharapkan
air panas masuk dalam proses yaitu sebesar (85-90oC) untuk berkontak
dengan tulang ikan. Adanya agitator atau pengaduk diperlukan agar proses
penghilangan lemak terjadi secara merata dan lemak-lemak yang masih terdeposit
dalam campuran dapat dihilangkan secara sempurna.
Kemudian
lemak-lemak dan kotoran pada tulang ikan kakap dipisahkan di alat
settler (H-121).
II.3.1.4
Pengendapan dan Pemisahan
Tahapan ini merupakan tahapan
penghilangan sisa minyak dari bahan baku. Tahapan ini terjadi pada alat settler (H-121). Proses settler akan
memisahkan minyak yang terdapat dalam bahan baku. Minyak yang masih terkandung
pada bahan baku akan mengapung pada bagian atas air. Minyak yang sudah
terkumpul pada bahan baku akan dibuang sebagai waste water. Sedangkan bahan baku yang sudah bersih dari minyak
akan dialirkan menuju ke tahap demineralisasi (perendaman asam) untuk
dihilangkan kandungan mineralnya melalui screw
conveyor (J-131).
II.3.1.5 Demineralisasi
Demineralisasi yaitu proses perendaman
dalam larutan asam yang bertujuan untuk menghilangkan garam kalsium dan garam
mineral lainnya dalam tulang ikan kakap. Proses ini akan menghasilkan tulang
yang sudah lunak yang disebut ossein yang
terdapat kolagen didalamnya dengan pH 4. Fungsi lain dari proses ini adalah
menginisiasi terjadinya hidrolisis kolagen dan menghilangkan impurities non-kolagen.
Tulang ikan kakap dari Tangki
pengendapan kemudian ditransport menggunakan screw conveyor (J-131) menuju ke Demineralitation Tank (R-130) dengan perbandingan laju alir antara
tulang ikan kakap dan HCl sebesar (6:1). Pada tahapan ini dilakukan perendaman
dengan larutan HCl dengan konsentrasi 4% v/v selama 1 hari dan suhu operasi adalah
90oC. Reaksi yang terjadi pada tahapan ini adalah :
Ca3(PO4)2 (s)
+ 4HCl(l) àCaCl2(l) +
Ca(H2PO4)2 (g)
Proses perendaman dalam larutan asam
yang bertujuan untuk mengkonversi kolagen menjadi bentuk yang sesuai untuk
ekstraksi, yaitu dengan adanya interaksi ion H+ dari larutan asam
dengan kolagen. Sebagian ikatan hidrogen dalam tropokolagen serta ikatan-ikatan
silang yang menghubungkan tropokolagen satu dengan tropokolagen yang lainnya
dihidrolisis menghasilkan rantai-rantai tropokolagen yang mulai kehilangan
struktur triple heliknya. Hasil proses ini kemudian dialirkan menuju ke tangki penampung
dengan tujuan untuk
menampung sementara ossein yang diatur laju alirnya menuju
ke hidrolisis tank (R-210) . Setelah
melewati tahapan perendaman diharapkan pH nya mencapai 2 dengan tujuan untuk
didapatkan kondisi bahan baku yang sesuai untuk proses ekstraksi, dimana pada
pH 2 merupakan pH yang optimal untuk mendapatkan rendemen yang maksimal.
II.3.2
Unit Reaksi
II.3.2.1 Hidrolisis dan Ekstraksi
·
Hidrolisis
Pada unit reaksi terjadi di hidrolisis tank (R-210), umpan dialirkan
menuju ke tangki hidrolisis dengan menggunakan screw conveyor (J-131). Di dalam tangki hidrolisa terjadi proses
hidrolisis yang mana proses reaksi kimia yang memecah molekul air (H2O) menjadi
kation hidrogen (H+) dan anion hidroksida (OH-).
Proses ini biasanya digunakan untuk memecah polimer tertentu, terutama yang
dibuat dari proses polimerisasi tumbuh bertahap (step-growth polymerization) dimana terdapat rantai-rantai
penyusunnya terikat dalam satu ikatan. Pada proses ini kolagen yang merupakan
ikatan tropokolagen dipecah menghasilkan rantai-rantai tropokolagen yang mulai
kehilangan struktur tripel heliknya menjadi gelatin melalui hidrolisis. Adapun
reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
C102H149N31O38 + H2O à C102H151N31O39
Kolagen Air Gelatin
Suhu operasi berada diatas suhu susut
kolagen yaitu 60-90 oC sedangkan waktu yang paling optimal yaitu 6
jam dalam kondisi asam dengan pH 2 karena jika dilanjutkan ossein akan akan
hancur dan larut dalam air. Hidrolisis dengan pemanasan (T > 40 oC)
akan melanjutkan perusakan ikatan-ikatan silang serta untuk merusak ikatan
ikatan hidrogen. Ikatan-ikatan hidrogen yang telah dirusak dan ikatan-ikatan
kovalen yang dipecah akan menghasilkan konversi yang larut air. Tropokolagen
pada saat proses hidrolisis akan mengalami reaksi dengan reaksi hidrolisis
tropokolagen pada saat perendaman dalam larutan asam. Ikatan- ikatan hidrogen
dan ikatan silang kovalen tropokolagen diputus sehingga struktur triple helix
akan terpecah dan membentuk gelatin
yang larut dalam air. Ukuran
partikel yang masuk ke dalam proses akan mempengaruhi pula
pada kecepatan proses hidrolisis ini. Semakin kecil ukuran partikel yang masuk
maka proses berlangsung semakin cepat. Selain itu yield yang dihasilkan juga semakin besar. (Schrieber, 2007)
· Ekstraksi
Ekstraksi bertujuan untuk mengambil
gelatin dalam larutan campuran hasil hidrolisa air. Ekstraksi kolagen tulang
dilakukan dalam suasana asam pada pH 2 karena untuk mendapatkan rendemen yang
maksimal. Dimana faktor yang mempengaruhi hasil rendemen diantaranya pH, suhu
operasi dan ukuran bahan baku. Pada proses ini perlu diketahui bahwa air
mengambil kembali / mengekstrak kembali gelatin yang masih terkandung dalam
kolagen yang tidak bereaksi. Hasil dari proses ini sekitar 5 % larutan gelatin.
Tangki yang digunakan adalah tangki ekstraksi-hidrolisis dengan jacket pemanas dan pengaduk. Produk dari
hidrolisa tank (R-210) kemudian
ditampung dalam tangki netralisasi (M-212) untuk menetralkan Ph produk dengan
penambahan NaOH
II.3.3
Unit Purifikasi
II.3.3.1 Penyaringan (Filtration)
Filtrasi atau penyaringan bertujuan untuk menyaring
antara larutan gelatin dengan impurities yang
masih terbawa setelah melalui proses sebelumnya. Adapun pengotor tersebut
berupa koloid, bakteri dan abu yang masih terdapat dalam larutan gelatin.
Produk dari tangki netralisasi (M-212) kemudian ditransfer menggunakan pompa
(L-312) menuju filter press (H-310)
dimana gelatin dilewatkan pada saringan yang berukuran 1 mikron. Filtrat yang berupa larutan gelatin kemudian dipompa menuju Ion Exchanger (D-320) (Schrieber,
2007).
II.3.3.2 Deionisasi (Ion Exchange)
Deionisasi bertujuan untuk menghilangkan
ion-ion pada larutan gelatin yang masih encer. Digunakan resin kation (R-SO3H)
untuk menghilangkan kation berupa Na+ dan resin anion 2R-NH3OH
untuk menghilangkan anion berupa Cl- yang terdapat dalam
larutan gelatin. Resin yang digunakan berfungsi untuk mempertukarkan H+
dengan kation yang terdapat dalam larutan gelatin. Adapun reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut:
|
R-SO3H
+ NaCl |
à Na (R-SO3) |
+ HCl |
|
2R-NH3OH + HCl |
à (R-NH3)2Cl |
+ H2O |
Hal ini dilakukan untuk menghilangkan
efek-efek yang tidak dinginkan dan menghasilkan gelatin sesuai dengan standar
yang ditetapkan (Schrieber, 2007).
II.3.3.3 Pemekatan / Evaporasi
Dalam proses ini gelatin yang telah
dipurifikasi dan didemineralisasi terdiri lebih dari 90% air. Air ini harus
dihilangkan karena hanya gelatin yang telah dipekatkan hingga kandungan airnya
10-12% yang diperbolehkan dalam spesifikasi produk. Oleh sebab itu, digunakan double effect evaporator (V-340) untuk
melakukan proses pemekatan hingga kadar air larutan gelatin menjadi 50%. Dalam
proses pemekatan ini digunakan barometric
condenser (E-351) dan steam jet
ejector (G-352) untuk memvakumkan proses. Kemudian setelah melalui proses
evaporasi, selanjutnya di transport menggunakan centrifuge pump (L-411) menuju proses chilling extruder (M-410) (Schrieber,2007).
II.3.4 Unit Finishing
II.3.4.1 Chilling Ekstrusi
Ekstrusi adalah suatu proses dimana
bahan dipaksakan oleh sistem ulir untuk mengalir dalam suatu ruangan yang
sempit sehingga akan mengalami pencampuran dan pemasakan sekaligus dan
dirancang untuk menghasilkan produk ekstrusi yang menggelembung-kering (puff dry). Produk yang terbentuk
seperti mie yang panjangnya 1-2 feet panjang tebal 1.8 inch. Dengan chilling ekstrusi (M-
410) ini luas permukaan yang dihasilkan meningkat. Kemudian
setelah melewati proses chilling ekstrusi, selanjutnya produk menuju Tunnel Dryer (B-420) (Schrieber,2007).
II.3.4.2 Pengeringan (Drying)
Proses pengeringan ini menggunakan Tunnel dryer (B-420). Digunakan tipe tunnel dryer agar proses dapat
berlangsung secara kontinyu. Gelatin dengan kadar air berkisar antara 40-50%
kemudian dikeringkan hingga kadar airnya sekitar 10%. Tujuan pengeringan ini
sendiri adalah mendapatkan produk gelatin kering yang memiliki kadar air
relatif kecil. Udara yang digunakan untuk
pengeringan ini bersuhu 110oC. Setelah melalui
proses pengeringan, selanjutnya akan di transport menuju ball mill (C-430). (Schrieber,2007)
II.3.4.3 Penggilingan
Gelatin dengan kadar air sekitar 10%
kemudian dihancurkan sampai didapatkan bentuk ukuran yang diinginkan.
Penggilingan dilakukan oleh ball mill (C-430)
sehingga didapatkan ukuran gelatin sekitar 140 mesh yang siap untuk dikemas.
Setelah melewati tahap penggilingan, selanjutnya akan melalui tahap screener (X-431), setelah melewati tahap
screener produk yang belum sesuai
dengan ukuran yang diinginkan akan di transport menggunakan belt conveyor (J-
432) menuju bucket
elevator ( J-433) kemudian di kembalikan pada proses penggilingan agar
didapatkan ukuran yang sesuai. Produk yang lolos di transport menggunakan belt
conveyor menuju Gelatine bin (F-440).
II.3.5. Unit Packaging
Gelatin dikemas dalam wadah yang dapat
menampung 25 kg dan 50 kg. Tujuan pengepakan ini adalah untuk memudahkan dalam
pengangkutan bahan ke konsumen dan melindungi gelatin dari kondisi luar baik
berupa kelembapan, panas, kotoran, dan hal lain yang dapat merusak isi dari
gelatin.
No comments:
Post a Comment