ALEX PEPSEGA INDRA PUTRA
1.
SINTESIS POLILAKTIDA (PLA) DARI ASAM LAKTAT DENGAN METODE POLIMERISASI
PEMBUKAAN CINCIN MENGGUNAKAN KATALIS LIPASE
Pengembangan
dalam plastik berbasis bio dengan
memanfaatkan bahan-bahan biologis untuk dikonversikan menjadi polimer
biodegradable ramah lingkungan. Polilaktida (PLA) merupakan polimer yang
serbaguna, biodegradable dan berasal dari sumber daya terbarukan sehingga
berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengganti plastik konvensional.Disini
diketahui dalam Pembuatan polilaktida (PLA) dari asam laktat dengan metode
polimerisasi pembukaan cincin dilakukan menggunakan 3 tahapan proses yaitu
polikondensasi, depolimerisasi dan polimerisasi. Polikondensasi menghasilkan
oligomer PLA, depolimerisasi mengubah oligomer menjadi senyawa siklik ester
(laktida) dan polimerisasi laktida menghasilkan PLA. Salah satu faktor yang
mempengaruhi berat molekul PLA adalah optical purity laktida. Tujuan dari
penelitian ini adalah mendapatkan konsentrasi katalis optimum dalam pembuatan
laktida melalui tahapan polikondensasi dan depolimerisasi serta menghasilkan
PLA dengan metode polimerisasi pembukaan cincin laktida menggunakan katalis
lipase Candida rugosa 1%(b/b).
Referensi: jurnal.
umj.ac.id/index.php/semnastek
2.
PEMBUATAN CELLULAR GLASS DARI FLY ASH PABRIK KELAPA SAWIT

Dari
grafik diatas Gambar 5 (a), (b), (c) menunjukkan hasil analisa XRD pada
komposisi glass powder 45 %wt dengan penambahan dolomite 0 %wt, 8 %wt, 20 %wt.
Fase-fase kristalin yang terindentifikasi oleh analisa X-Ray Diffraction pada
penambahan dolomite 0; 8; 20 %wt diantaranya quartz, diopside dan augite.Maka
akan alex bahas satu persatu sebagai berikut :
a. Pada Gambar grafik (a) menunjukkan
bahwa tiga titik puncak tertinggi yang teridentifikasi pada foam glass
dihasilkan fase kristalin quartz (2θ = 26,009º), fase kristalin diopside (2θ =
29,2766º) dan fase kristalin augite (2θ = 35,0140º) dengan suhu sintering
900ºC.
b. Pada Gambar grafik (b) menunjukkan
bahwa tiga puncak tertinggi yang teridentifikasi menghasilkan fase kristalin
quartz (2θ = 26,075º), fase kristalin diopside (2θ = 29,415º) dan fase
kristalin augite (2θ = 35,076º) dengan kondisi proses yang sama.
c. Pada Gambar grafik (c) menunjukkan
fase kristalin yang teridenstifikasi pada 3 titik puncaknya yaitu fase
kristalin quartz (2θ = 26,5270º), fase kristalin diopside (2θ = 29,6646º) dan
fase kristalin augite (2θ = 35,30º).
Peningkatan
intensitas puncak fase kristalin diopside yang dihasilkan pada foam glass
dipengaruhi komposisi kalsium karbonat yang ditambahkan sehingga dengan
meningkatnya komposisi dolomite akan menghasilkan intensitas puncak fase
kristalin diopside yang semakin meningkat. Hal yang sama juga terjadi dengan
fase kristalin augite, yang mana akan semakin meningkat intensitas puncak fase
kristalin augite dengan adanya peningkatan penambahan dolomite sebagai foaming
agent.
Referensi :
https://repository.unri.ac.id/xmlui/handle/123456789/8818
3.
PABRIK POLISTIRENA DENGAN PROSES
POLIMERISASI LARUTAN.
Pembuatan polistirena
secara garis besar dapat dibagi menjadi lima tahap:
a. Tahap Penyiapan Bahan Baku
Stirena monomer sebagai bahan baku
utama disimpan dalam tangki atmosferis pada suhu 30oC dan tekanan 1
atm, dialirkan menggunakan pompa sentrifugal ke dalam mixer (M-120) untuk
dicampur dengan arus recycle, serta etil benzena sebagai pelarut yang dialirkan
dari tangki penyimpanan etil benzena pada suhu 30oC dan tekanan 1
atm menggunakan pompa sentrifugal. Campuran stirena monomer, arus recycle, dan
pelarut etil benzena ini selanjutnya dialirkan ke dalam reaktor untuk tahap
selanjutnya yaitu tahap reaksi, tetapi sebelum dimasukkan ke dalam reaktor
bahan perlu dipanaskan terlebih dahulu untuk mengurangi kebutuhan panas di
dalam reaktor dengan menggunakan pemanas heat exchanger.
b. Tahap Reaksi
Campuran stirena monomer, etil
benzena, dan inisiator benzoil peroksida dimasukkan ke dalam reaktor alir
tangki berpengaduk (RATB) (R-130) untuk direaksikan. Kondisi operasi dalam
reaktor dipertahankan pada suhu 90o dan tekanan 1 atm utuk mencapai
konversi 70%. Reaksi yang terjadi di dalam reaktor adalah reaksi eksotermis
(melepaskan panas), sehingga diperlukan pendingin dengan menggunakan jaket
pendingin.
c. Tahap Pemisahan
Produk yang keluar dari reaktor
dengan menggunakan pompa sentrifugal dialirkan ke flash drum (D-140) dengan
kondisi operasi pada suhu 171,74oC dan tekanan 1,2 atm untuk memisahkan sisa
pereaktan yang tidak bereaksi dan pelarut dengan produk. Uap yang terbentuk
menuju ke bagian atas flash drum sebagai hasil atas, yang akan dikondensasikan
di kondenser dan nantinya hasil kondensasi digunakan kembali sebagai umpan
recycle. Sedangkan fase cairnya sebagai hasil bawah dialirkan menuju extruder.
d. Tahap Pembentukan
Produk polistirena yang keluar
sebagai hasil bawah flash drum dimasukkan ke dalam extruder (S-150) untuk
membentuk lelehan polistirena menjadi polistirena berbentuk pellet berukuran
1/8 in. Extruder dilengkapi dengan cooling bath yang berfungsi untuk
mendinginkan polistirena, setelah melewati cooling bath kemudian dialirkan
udara yang dihembuskan oleh blower untuk mengeringkan polistirena. Polistirena
yang sudah kering kemudian masuk ke cutting machine untuk memotong polistirena
menjadi polistirena berbentuk pellet, kemudian polistirena yang sudah berbentuk
pellet diangkut menuju silo.
e. Tahap Penyimpanan
Polistirena yang sudah berbentuk
pellet diangkut menuju silo dan selanjutnya disimpan di gudang penyimpanan
untuk kemudian didistribusikan
4.
MODIFIKASI HOMOPOLIMER POLI (VINIL ASETAT) DENGAN VARIABEL HIDROFOBISITAS
EMULSIFIER UNTUK APLIKASI PERKAYUAN
Yang
kita tahu pada umumnya proses menyatukan kayu yang satu dengan lainnya dan
berbasis pada pelarut dibutuhkan lah lem. Sejauh ini pelarut sering digunakan
pelarut organik golongan BTX (Benzena, Toluene, dan Xylene) yang merupakan
pelarut berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Untuk itu perekat berbasis air
yang berbahan baku vinil asetat akan
diperkenalkan pada penelitian ini. Pengaruh hidrofobisitas surfaktan yang
digunakan terhadap viskositasnya dijadikan tujuan dari penelitian ini. Vinil asetat dan polivinil alkohol
digunakan sebagai bahan baku. Asam
tartrat dan amonium persulfat digunakan sebagai bahan pendukung proses.
Proses polimerisasi dilakukan di dalam reaktor dilengkapi kondensor,
termometer, dan motor pengaduk. Sintesis homopolimer PVAc telah berhasil
dilakukan dengan polimerisasi monomer vinil asetat dan PVOH menggunakan APS
sebagai inisiatornya. Penambahan surfaktan yang bersifat hidrofilik akan
mengurangi hidrofobisitas dari polimer yang akan berpengaruh pada menurunnya
viskositas. Penambahan surfaktan rantai panjang juga dapat mempengaruhi
peningkatan viskositas. hasil viskositas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan
oleh para pelaku industri sintetis perekat, khususnya perekat homopolimer PVAc,
baik skala kecil maupun skala besar, dengan menggunakan jenis surfaktan yang
sama maupun dengan pemanfaatan hidrofobisitas dari jenis surfaktan yang lain.
5.
Berikut contoh kombinasi material
polimer
a.
Polybenzimidazole dan ionic liquid komposit memba untuk polimer elektrolit
fuelcell bertemperatur tinggi
Referensi :
https://doi.org/10.1016/j.ssi.2021.115569
b.
Persiapan dan bioaktivasi dari chitosan 1 asam acetic 5 flurouracil
terkonjugasi sebagai obat kanker
Referensi :
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29117097/
c.
Pabrikasi dari selulosa acetat chitosan polyethylene glycol ultra filtrasi
membrane untuk penghilangan chromium
Referensi : https://www.researchgate.net/publication/269097188_Fabrication_of_cellulose_acetate-chitosan-polyethylene_glycol_ultrafiltration_membrane_for_chromium_removal
d.
Pengaruh Kombinasi Polimer Hidroksipropilmetilselulosa dan Natrium
Karboksimetilselulosa terhadap Sifat Fisik Sediaan Matrix-based Patch Ibuprofen
.
Referensi :
https://jurnal.uns.ac.id/jpscr/article/view/34525
e. Pemanfaatan
Karet Ban Bekas (Ground Rubber) Dan Polistirena Bekas Sebagai Bahan Aditif
Dalam Pembuatan Aspal Polimer
Referensi : http://jurnal.kimia.fmipa.unmul.ac.id
No comments:
Post a Comment