BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Penelitian Terdahulu
Sebagai bahan
pertimbangan dalam mengadakan penelitian ini, penulis mengacu kepada
penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yaitu
2.1.1
Kamalachandran
Nirushan (2017)
Penelitian ini di lakukan oleh Kamalachandran
Nirushan
(2017) dari Trincomalee
Campus, Eastern University, Sri Lanka berjudul “The Impact of Price and Trust on Purchase Intention of Organic
Food Products in Trincomalee District”(Dampak Harga dan
Kepercayaan Terhadap Niat Pembelian Produk Makanan Organik di Distrik
Trincomalee). Penelitian ini mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi niat beli
terhadap produk makanan organik di Distrik Trincomalee. Data dikumpulkan dari
352 pelanggan dengan kuesioner terstruktur. Teknik analisis yang
digunakan adalah analisis korelasi dengan menggunakan SPSS. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa harga memiliki korelasi
terhadap niat beli produk makanan organik. Sementara kepercayaan berpengaruh
positif terhadap niat beli produk makanan organik ini digambarkan pada gambar 2.1
Harga Kepercayaan Niat Beli
Sumber
:
Kamalachandran Nirushan (2017)
Gambar 2.1
KERANGKA PEMIKIRAN NIRUSHAN (2017)
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan
dilakukan adalah metode pengumpulan data dengan
menggunakan kuesioner. Sementara Perbedaan penelitian Jumlah ini dengan penelitian
yang akan dilakukan adalah jumlah sampel penelitian terdahulu sebanyak 347 responden, sedangkan penelitian yang akan dilakukan menggunakan jumlah 100 responden, selain Lokasi penelitiaan terdahulu dilakukan di Sri Langka, sedangkan peneliti
yang akan dilakukan di Surabaya
2.1.2
Waqas Mehmood, Owais
Shafiq
(2015)
Penelitian ini dilakukan oleh Waqas Mehmood, Owais Shafiq (2015) di Islamia
University of Bahawalpur, Punjab, Pakistan dengan judul “Impact of Customer Satisfaction, Service
Quality, Brand Image on Purchase Intention” (Dampak Kepuasan Pelanggan,
Kualitas Layanan, Citra Merek terhadap Niat Pembelian)
Tujuan utama dari penelitian
ini adalah untuk menyelidiki dampak kepuasan pelanggan dan kualitas layanan, citra merek pada niat beli konsumen. Variabel
utama penelitian adalah niat beli, kepuasan pelanggan, citra merek, kualitas layanan. Teknis analisis yang di gunakan
adalah analisis regresi linier Hasil
uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan SPSS. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa kepuasan pelanggan memiliki dampak langsung terhadap niat beli. Juga
citra merek memiliki dampak yang positif terhadap niat beli Kerangka pemikiran dari
penelitian ini digambarkan pada Citra merk Kualitas layanan Niat pembelian Kepuasaan pelanggan
Sumber : Waqas Mehmood, Owais Shafiq (2015)
Gambar 2.2
KERANGKA PEMIKIRAN MEHMOOD, SHAFIQ(2015)
Persamaan penelitian ini dengan
penelitian yang akan dilakukan adalah Metode pengumpulan
data dengan menggunakan kuesioner. Juga Teknik analisis data dimana penelitian ini menggunakan SPSS, sedangkan peneliti juga menggunakan SPSS, Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan adalah Jumlah sampel penelitian ini
sebanyak 120 responden,
sedangkan penelitian yang akan dilakukan menggunakan jumlah 100 responden
2.1.3
Asma Saleemα, Abdul Ghafar, Muhammad
Ibrahim, Muhammad Yousuf & Naveed Ahmed (2015)
Jurnal ini di tulis oleh Asma Saleemα, Abdul Ghafar, Muhammad
Ibrahim, Muhammad Yousuf & Naveed Ahmed (2015) dalam Global
Journal of Management and Business Research: E Marketing, Global Journals Inc. (USA) berjudul “Product Perceived Quality and Purchase
Intention with Consumer Satisfaction”. (Persepsi
Kualitas
Produk dan Niat Beli dengan Kepuasan Konsumen) Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengukur dampak persepsi
kualitas produk dan kepuasan pelanggan pada niat beli
konsumen Teknis analisis yang digunakan adalah regresi
linier dengan alat analisis SPSS.. Kerangka pemikiran penelitian ini digambarkan pada gambar 2.3
Persepsi Kualitas Produk Kepuasan Pelanggan Niat
beli konsumen
Sumber : Saleemα et al (2015)
GAMBAR 2.3
KERANGKA PEMIKIRAN SALEEMΑ ET AL (
2015 )
Persamaan penelitian ini dengan
penelitian yang akan dilakukan adalah Metode pengumpulan data dengan
menggunakan kuesioner. sementara Perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan
terletak pada jumlah sempel, dimana penelitian terdahulu menggunakan 122 responden, sedangkan penelitian yang
akan dilakukan
menggunakan jumlah 100 responden
Tabel 2.1
PERBANDINGAN PENELITIAN SAAT INI DENGAN PENELITIAN TERDAHULU
|
Keterangan |
Kamalachandran
Nirushan (2017) |
Waqas Mehmood, Owais Shafiq (2015) |
Asma Saleemα, Dkk (2015) |
Hasyim Abidin (2019) |
|
Variabel Bebas |
Harga dan Kepercayaan |
Kepuasan Pelanggan, Kualitas Layanan,Citra Merek |
Kualitas
Produk dan Niat Pembelian |
Harga,
Kualitas Produk, Dan Kepuasan Pelanggan |
|
Variabel Terikat |
Niat Pembelian |
Niat Pembelian |
Kepuasan Konsumen |
Niat Beli |
|
Teknik analisis |
Regresi
Linier |
Regrsi Linier |
Regresi Linier |
Regresi Linier |
|
Alat Analisis |
SPSS |
SPSS |
SPSS |
SPSS |
|
Instrumen Penelitian |
Kuesioner |
Kuesioner |
Kuesioner |
Kuesioner |
|
Jumlah Responden |
347 responden |
120 respopnden |
122 responden |
100 responden |
|
Pengukuran |
Skala Likert |
Skala Likert |
Skala Likert |
Skala Likert |
|
Objek penelitian |
Organic Food Products |
Ponsel |
Laptop Merek DELL |
Toyota calya |
|
Lokasi |
Sri Lanka |
Pakistan |
Pakistan |
Surabaya,Indonesia |
|
Hasil |
1. Harga tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli 2. Kepercayaan
berpengaruh signifikan terhadap minat beli |
1. Kepuasan pelanggan
memiliki dampak langsung pada niat beli 2. Citra merek
memiliki dampak posotif pada niat pembelian 3. Kualitas layanan
memiliki dampak positif pada niat pembelian |
1. Kualitas Produk berpengaruh signifikan terhadap kepuasan
konsumen 2. Niat Pembelian berpengaruh signifikan terhadap kepuasan
konsumen |
2.2
Landasan Teori
Pada sub bab ini
akan membahas teori yang mendasari dan mendukung penelitian :
2.2.1
Harga
Menurut Nirushan (2017) niat
pembelian konsumen di pengaruhi oleh Harga, Harga adalah faktor utama yang
menentukan proses pemasaran suatu produk namun demikian penetapan harga
merupakan pisau bermata dua. Penetapan harga yang tinggi di satu sisi akan
memberikan opini positif terkait kualitas produk.namun disisi lain menghalangi
konsumen untuk membeli produk. (Shaw et al 2007 Dalam Nirushan (2017))
2.2.2
Kualitas Produk
Kualitas produk juga menjadi faktor penentu konsumen untuk niat
pembelian suatu barang, Kualitas produk merupakan kepemilikan fitur tertentu yang membedakan satu
produk dengan produk lain dan fitur tersebut mampu meningkatkan kinerja produk
tersebut (Dunk,2002 dalam Saleema ET AL (2015)).
2.2.3
Kepuasan Pelanggan
Kepuasan pelanggan
juga menjadi faktor niat pembelian suatu barang, Kepuasan
didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan (Zeithaml et al, 2003. (dalam Shafiq (2015))
2.2.4
Niat Beli
niat beli dikatakan ketika
konsumen menarik ke arah merek tertentu dikenal sebagai niat beli. Menurut
Porter ia mengatakan bahwa kata-kata kombinasi untuk memilih dan lebih pada
merek tertentu hanya karena niat beli. Konsumen dapat memilih merek tertentu
dengan tidak hanya positioning tetapi
unsur dan kualitas yang membayar bertujuan untuk mengeluarkan merek yang selanjutnya dedikasi
membayar bagian tertentu untuk membeli (Porter, 1974 dalam
(Shafiq 2015))
2.2.5
Pengaruh
Harga terhadap niat beli
Menurut penelitian Wanninayake
WMC B (2014) harga merupakan pendukung sebagai faktor utama dalam perilaku dan
niat beli konsumen. Dalam penelitian yang dilakukan 57,5% dari orang orang yang
telah dijadikan objek menolak untuk membayar tambahan harga untuk produk beras
organic meskipun produk tersebut ramah lingkungan. Orang-orang dengan
pendapatan yang lebih tinggi mungkin bersedia untuk membayar lebih dan membeli
produk yang lebih organik. Menurut Kyriakopoulos dan Van Dijk (1997) dalam
studi konsumen Belanda menemukan bahwa pendapatan yang lebih tinggi dipengaruhi
secara positif membeli niat terhadap produk makanan organik. Mereka
menyimpulkan bahwa ketersediaan anggaran cenderung meningkatkan keinginan
konsumen untuk membeli organic. Dari 2 penelitian di atas dapat disimpulkan
bahwa harga sangat berpengaruh terhadap niat beli konsumen. Semakin rendah
harga yang ditawarkan maka niat beli konsumen akan semakin tinggi, dan
sebaliknya semakin tinggi harga yang ditawarkan maka niat beli konsumen akan
semakin rendah. Namun terdapat keaadaan dimana seseorang yang memiliki
pendapatan yang lebih tinggi tidak akan terlalu memntingkan sebuah harga, asal
produk yang diterima memiliki kualitas yang baik.
2.2.6
Pengaruh
Kualitas Produk terhadap niat beli
Dalam penelitian Asma Saleeem dkk (2015) mengungkapkan bahwa produk yang berkualitas dirasakan langsung mempengaruhi pelanggan untuk niat membeli. Pelanggan memiliki beberapa persepsi tentang kualitas produk sebelum memutuskan pergi untuk membeli suatu produk. Setelah membeli produk tersebut, dapat meningkatkan niat serta menguranginya. Jika produk memiliki kualitas yang tinggi, maka niat beli konsumen juga tinggi. Sehingga kedua hal tersebut saling mempengaruhi satu sama lain.
2.2.7
Pengaruh
Kepuasan Pelanggan terhadap niat beli
Kepuasan pelanggan dianggap konstruksi paling penting
dalam pemasaran (Erevelles dan Leavitt) dalam penelitian Asma Saleeem dkk (2015). Kepuasan memainkan peran penting
dalam pemasaran karena merupakan prediksi yang baik dari perilaku pembelian
(McQuitty et al., 2000) dalam penelitian Asma
Saleeem dkk (2015).
2.3
Kerangka Pemikiran
Berdasarkan latar belakang, rumusan
masalah, dan tujuan penelitian maka alur kualitas hubungan antara variabel
terikat (niat beli) dan variabel bebas (citra merek, kesadaran merek, dan
kepuasan pelanggan) yang akan diteliti, dapat
Harga Kualitas Produk Kepuasan Pelanggan Niat Beli H1 H2
GAMBAR 2.4
KERANGKA PEMIKIRAN
Berdasarkan
perumusan masalah, penelitian terdahulu, dan landasan teori, maka hipotesis
yang diangkat pada penelitian ini adalah sebagai berikut ini:
H1 : Harga
berpengaruh signifikan terhadap niat beli konsumen mobil Toyota Calya di Surabaya.
H2 : Kualitas
produk berpengaruh signifikan terhadap niat beli konsumen mobil Toyota Calya di Surabaya.
H3 : Kepuasan
Pelanggan berpengaruh signifikan terhadap niat beli konsumen mobil Toyota Calya di Surabaya.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Rancangan Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti akan menganalisis
tentang pengaruh harga, kualitas produk, dan kepuasan pelanggan terhadap niat
beli konsumen mobil Toyota calya di Surabaya.
Penelitian ini menggunakan metode survey
dengan membagikan kuesioner. Dalam penyusunan kuesioner ini, jawaban responden
akan diukur menggunakan Skala Likert.
Skala Likert adalah skala pengukuran
dengan lima kategori respon yang berkisar antara “sangat setuju” hingga “sangat
tidak setuju” yang mengharuskan responden menentukan derajat persetujuan atau
ketidaksetujuan mereka terhadap masing-masing dari serangkaian pertanyaan
mengenai objek.
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang
digunakan dengan cara memberikan sebuah pertanyaan-pertanyaan kepada para
responden untuk dijawab. Serta merupakan teknik pengumpulan data yang lebih
efisien untuk pengukuran variabel untuk para responden tersebut. Kuesioner
sangat efektif digunakan jika jumlah para responden cukup besar dan tersebar
diwilayah yang luas.
3.2
Batasan Penelitian
Dalam
penelitian ini, peneliti menyadari adanya keterbatasan operasional dan
sumbernya yang digunakan. Terdapat batasan dimana untuk proses dan hasilnya
sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Batasan-batasan tersebut adalah sebagai
berikut:
1.
Variabel penelitian ini hanya berfokus pada pengaruh harga, kualitas produk, dan kepuasan pelanggan
sebagai variabel bebas, dan niat beli adalah variabel terikat.
2.
Sampel yang digunakan adalah responden yang ada di wilayah
Surabaya yang pernah menggunakan dan akan menggunakan jasa mobil Calya.
3.3
Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini terdapat dua
jenis variabel yang akan di analisis yaitu variabel terikat dengan variabel
bebas, antara lain:
A.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Niat Beli
B.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:
1.
Harga produk
2.
Kualitas produk
3.
Kepuasan pelanggan
3.4
Definisi Operasional dan
Pengukuran Variabel
Definisi operasional variabel dan pengukuran variabel
di penelitian ini
mempunyai hubungan sebab akibat agar penelitian ini tetap
berjalan sesuai dengan tujuan dan tidak menyimpang dari apa yang telah
dirancang.
3.4.1
Definisi Operasional
Definisi operasional variabel
yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi variabel
bebas (X) dan variabel terikat (Y) yang mempunyai hubungan
sebab akibat sebagai berikut :
a.
Variabel Bebas
1. Harga
Merupakan sejumlah uang yang digunakan
sebagai prioritas untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan
pelayanannya.
Definisi harga menurut Kotler dan Armstrong (2015: 85)
adalah sejumlah uang yang ditukarkan untuk sebuah produk atau jasa. Variabel ini di ukur melalui
beberapa faktor berikut:
a)
Keseuaian harga terhadap produk, yaitu sejauhmana produk
memiliki kualitas yang cukup untuk mendapatkan barang yang akan dibeli baik
untuk menjaga kepuasan konsumen sehingga tidak beralih ke produk lain.
b)
Potongan harga, artinya konsumen mendapatkan potongan biaya
yang akan dikeluarkan untuk membeli produk yang sifatnya tidak mengikat dan
memberatkan penjual dan pembeli.
c)
Harga yang dipersepsikan, yaitu perkiraan konsumen saat
mengetahui produk yang akan dibeli dan menyesuaikan dengan biaya yang
dimilikinya untuk membeli.
2. Kualitas Produk
Kualitas produk adalah ukuran
seberapa lengkapnya produk, dan tahan lamanya produk tersebut dapat dipercayai
produk tersebut ketetapannya, mudah dioperasikan dan memeliharanya serta
atribut lain yang dinilai baik.
Kotler
dan Armstrong (2015: 253) mendefinisikan kualitas produk sebagai berikut: “Kualitas produk
adalah karakteristik dari suatu produk atau layanan yang bergantung pada
kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang dinyatakan atau tersirat”.
Adapun indikator kualitas
produk yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.
Kinerja (Performance),
merujuk pada karakter produk meliputi merek, atribut yang dapat diukur dari aspek-aspek
kinerja dan didasari preferensi subyektif pelanggan.
b.
Keragaman Produk (features),
diukur secara subjektif oleh masing-masing konsumen yang menunjukkan adanya
perbedaan kualitas suatu produk atau jasa.
c.
Keandalan (reliability), Keandalan suatu produk menandakan
tingkat kualitas sangat berarti tinggi bagi konsumen dalam memilih produk.
d.
Kesesuaian (conformance), diukur dari tingkat akurasi dan
waktu penyelesaian termasuk juga perhitngan kesalahan yang terjadi,
keterlambatan yang tidak dapat diantisipasi, dan beberapa kesalahan lain.
e.
Ketahanan atau daya tahan (durability), ukuran ketahan suatu produk meliputi segi teknis yang
diperoleh seseorang sebelum mengalami penurunan kualitas, dan segi ekonomis
suatu produk dilihat dari terjadi kerusakan dan keputusan untuk mengganti
produk.
f.
Kemampuan Pelayanan (servicebility), disebut dengan
kecepatan, kompetensi, kegunaan, kemudahaan produk yang dinilai secara
subjektif oleh konsumen.
g.
Estetika (aesthetics), dilihat dari bagaimana suatu produk
terdengar konsumen, bagaimana penampilan luar suatu produk, rasa, maupun bau
sebagai penilaian dan refleksi yang dirasakan konsumen.
3. Kepuasan
Pelanggan
Kepuasan pelanggan adalah
perasaan konsumen setelah merasakan pengalaman dengan suatu barang atau jasa
dengan membandingkan hasil yang dirasakan dengan harapan akan barang atau jasa
tersebut.
Kepuasan konsumen
menurut Kotler dan Keller (2016:153), adalah: “Kepuasan adalah perasaan senang
atau kecewa seseorang yang dihasilkan dari membandingkan kinerja produk (atau
hasil) yang dirasakan dengan harapan”.
Kepuasan pelanggan sangat tergantung pada persepsi dan ekspektasi
pelanggan, maka sebagai pemasok produk perlu mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Terdapat empat elemen dalam kepuasan konsumen menurut Lupiyoadi
(2011:182) yaitu sebagai berikut:
1. Kualitas Produk.
Pelanggan akan merasa puas
bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan
berkualitas.
2. Harga.
Produk dengan kualitas
yang sama tetapi menetapkan harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang
tinggi pada pelanggan.
3. Kualitas Pelayanan
Pelanggan akan merasa puas
bila mereka mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai dengan harapannya.
4. Faktor Emosional.
Pelanggan akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa orang lain
kagum bila konsumen menggunakan produk merek tertentu.
b.
Variabel Terikat
1.
Niat Beli
Zarrad dan Debabi
(2015) mendefinisikan niat sebagai faktor motivasi yang mempengaruhi perilaku
seseorang untuk melakukan sesuatu. Kotler dan Susanto Variabel ini di ukur menggunakan indikator sebagai
berikut:
a)
Rekomendasi Merek, yaitu pengetahuan konsumen akan produk
Asus berdasarkan rekomendasi.
b)
Keinginan Membeli Ulang, artinya niat konsumen untuk kembali
membeli dan menggunakan produk Asus dari pengalaman sebelumnya.
3.4.2
Pengukuran Variabel
Dalam penelitian ini pengukuran variabel yang menggunakan kuesioner, yang
bertujuan untuk mengetahui pendapat dari para responden yang telah mengisi
kuisioner. Kriteria penilaian indikator ini pernyataan atau pertanyaan yang
diberikan kepada para responden.
Kriteria
penilaian indikator pernyataan yang diberikan kepada para responden seperti
tabel 3.1 dibawah ini :
Tabel
3.1
KRITERIA
PENILAIAN INDIKATOR
|
A |
SANGAT
SETUJU (SS) |
5 |
|
B |
SETUJU
(S) |
4 |
|
C |
RATA-RATA (RR) |
3 |
|
D |
TIDAK
SETUJU (TS) |
2 |
|
E |
SANGAT TIDAK SETUJU (STS) |
1 |
3.5
Populasi,
Sampel Dan Teknik Pengambilan Sampel
3.5.1
Populasi
Menurut Sugiyono (2017:80), definisi populasi adalah sebagai berikut:
"Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas; obyek/subyek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya". Populasi dalam penelitian
ini adalah konsumen yang membeli mobil Toyota Calya di Surabaya.
3.5.2
Sampel dan Teknik
Pengambilan Sampel
Menurut Sugiyono (2017:81), sampel adalah sebagai berikut : "Sampel
adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua
yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu,
maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu"
Menurut Sugiyono (2017:81) mengemukakan teknik sampling adalahsebagai
berikut : "Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel.
Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai
teknik sampling yang digunkanan."
Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini non-probability sampling, artinya tidak
semua anggota masyarakat dapat dijadikan sebagai anggota sampel (Sugiyono, 2016: 167). Teknik ini dikombinasikan dengan metode purposive sampling, yaitu anggota sampel adalah anggota masyarakat
yang dijadikan sampel harus memenuhi kriteria tertentu. Sehingga dapat
disimpulkan menggunakan rumus:
N = 50 + 8m
=
50 + 8(3)
=
50 + 24
= 74
Keterangan:
N = ∑ 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
m = Variabel Bebas
Dari perhitungan diatas maka ditentukan jumlah
responden yang diambil pada penelitian ini minimal sebanyak 74 responden dan 30
responden diambil untuk menjaga validitas data atau alternatif data jika
terjadi error sample. Karena menurut
Sugiyono
(2016) jumlah anggota sampel yang paling
tepat digunakan dalam penelitian adalah tergantung pada tingkat ketelitian atau
kesalahan yang dikehendaki. Sehingga total responden yang digunakan pada penelitian ini
sebanyak 104 responden.
Anggota populasi
akan dipilih oleh peneliti, sehingga tidak ada populasi lain untuk menjadi
sampel diluar pertimbangan peneliti. Dalam perencanaan pengambilan sampel pada
penelitian ini akan diambil sebanyak 100 responden yang sesuai dengan kriteria.
Kriteria responden
dalam penelitian ini adalah :
1.
Minimal Berusia 17 Tahun.
2.
Berdomisili di Surabaya.
2.6 Instrumen
Penelitian
Tabel 3.2
Desain
Instrumen Penelitian
|
Variabel |
Indikator |
Pernyataan |
No
Item |
|
Harga (X1) Kotler dan Armstrong (2015 : 85) |
1.
Kesesuain harga terhadap produk |
Pelanggan
mempertimbangkan harga produk terhadap kualitas yang dimiliki |
H1 |
|
2.
Potongan harga |
Potongan
harga adalah hal yang penting bagi pelanggan |
H2 |
|
|
3.
Harga yang dipersepsikan |
Pelanggan
menganggap harga suatu produk dapat menggambarkan kualitas produk |
H3 |
|
|
Kualitas
Produk
(X2) Kotler dan Armstrong
(2015:253) |
1.
Kinerja (Performance) |
Produk yang dihasilkan mempunyai kinerja yang cukup
baik. |
KPr1 |
|
2.
Keragaman produk (Features) |
Keragaman
produk yang dihasilkan cukup banyak sehingga membuat pelanggan memiliki
banyak pilihan |
KPr2 |
|
|
3.
Keandalan (Reliability) |
Produk yang dihasilkan dirasa sangat andal saat
dipakai. |
KPr3 |
|
|
4.
Kesesuaian (Conformance) |
Kualitas
produk sesuai dengan harga yang dihasilkan |
KPr4 |
|
|
5.
Ketahanan atau daya tahan (Durability) |
Produk
memiliki daya tahan yang cukup baik dibandingkan pesaing |
KPr5 |
|
|
6.
Kemampuan Pelayanan (Servicebility) |
Produk
memiliki daya guna yang cukup baik saat dipakai sehari-hari |
KPr6 |
|
|
7.
Estetika (aesthetics) |
Produk
memiliki nilai keindahan yang baik bagi pelanggan |
KPr7 |
|
|
Kepuasan
Pelanggan (X3) Lupiyoadi (2011:182) |
1.
Kualitas Produk |
Pelanggan
merasa puas akan kualitas produk yang dihasilkan |
Kpe1 |
|
2.
Harga |
Pelanggan merasa puas akan harga yang ditawarkan |
Kpe2 |
|
|
3.
Kualitas Pelayanan |
Pelanggan
merasa puas akan pelayanan yang baik dari para karyawan |
Kpe3 |
|
|
4.
Faktor emosional |
Pelanggan merasa bangga saat memakai produk yang
dihasilkan disbanding produk lainnya |
Kpe4 |
|
|
Niat
Beli (Y) Zarrad dan Debabi (2015) |
1.
Rekomendasi merek |
Pelanggan
merekomendasikan merek yang dipakai kepada pelanggan lain |
NB1 |
|
2.
Keinginan membeli ulang |
Pelanggan
meras puas dan memiliki niat untuk membeli produk lagi. |
NB25 |
Sumber : Peneliti (2019)
2.7 Data dan Metode
Pengumpulan Data
3.7.1 Data
Sumber data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer.
Menurut Sugiyono (2017: 137) mendefinisikan data primer adalah sebagai berikut:
“Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data”.
Data dalam
penelitian ini berjenis data primer. Data primer merupakan sumber data yang
diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data
primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individual atau kelompok, hasil
observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil
pengujian. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data primer yaitu metode
survei dan metode observasi.
1.7.2
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan
data dalam penelitian ini dengan menggunakan kuesioner yang telah disebarkan
kepada responden penelitian, selanjutnya setelah responden selesai mengisi
kuesioner yang telah diberikan data akan dikumpulkan dan dilakukan pengolahan
untuk data yang valid oleh peneliti.
2.8
Uji Validitas dan
Reliabilitas Instrumen Penelitian
2.8.1
Uji Validitas
Suatu instrumen dinyatakan valid apabila mampu
mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang
diteliti secara tepat. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui suatu data
dapat dipercaya kebenarannya sesuai dengan kenyataan. Sugiyono (2015:121)
menyatakan bahwa: “Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk
mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat
digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.” Uji validitas yang
dilakukan bertujuan untuk menguji item kuesioner yang valid dan tidak valid.
Dalam penelitian ini menggunakan jenis
uji validitas isi yang menguji ketepatan isi instrumen yang sudah relevan dan
tidak keluar dari batasan tujuan pengukuran. Pembuktian Uji Validitas dilihat dari pengujiannya yang dilakukan dengan cara
mengkorelasikan antara skor individu masing-masing pernyataan dengan skor total
dari variabel. Jika korelasi antara tiap variabel dengan total variabel secara
keseluruhan lebih kecil dari taraf signifikansi
0,05 maka variabel tersebut dinyatakan valid.
3.8.2 Uji
Reliabilitas
Uji reliablitas dilakukan untuk mengetahui
seberapa jauh hasil pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran dua
kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan alat pengukur yang sama. Sugiyono
(2015:121) reliabilitas menyatakan bahwa: “Instrumen yang bila digunakan
beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.”
2.9
Teknik Analisis Data
2.9.1
Analisis Data Deskriptif
Menurut Sugiyono (2004 : 169) analisis deskriptif adalah statistik yang
digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan
atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang
berlaku untuk umum atau generalisasi.
2.9.2
Uji Asumsi Klasik
3.9.2.1 Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2011:160) uji normalitas bertujuan
untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel independen dan variabel
dependen keduanya mempunyai distribusi normal atau mendekati normal. Dalam
penelitian ini, uji normalitas menggunakan Normal Probability Plot (P-P Plot).
Ghozali (2011: 163) juga menjelaskan suatu variabel dikatakan normal jika
gambar distribusi dengan titik-titik data yang menyebar di sekitar garis
diagonal, dan penyebaran titik-titik data searah mengikuti garis diagonal.
3.9.2.2
Uji Heteroskedastisitas
Ghozali, (2011:139) menejelaskan, uji
heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.
Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap maka
disebut homoskedastisitas, jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model
regresi yang baik adalah homoskedastisitas. Deteksi ada atau tidaknya
heteroskedestisitas dapat dilihat dari ada atau tidaknya pola tertentu pada
grafik scatterplot. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang membentuk
pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit) maka mengindikasikan
bahwa telah terjadi heteroskedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta
titik-titik yang menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y maka tidak
terjadi heteroskedestisitas.
3.9.2.3 Uji Multikoliniearitas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah
model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Model
regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel
independen. Untuk mengetahui adanya multikolonieritas dapat dilihat dari nilai toleransinya
dan lawannya atau variance inflation faktor (VIF). Jika VIF kurang dari 10 dan
nilai toleransi lebih dari 0,1 maka regresi bebas dari multikolinieritas.
3.
Dasar pengambilan keputusan :
4.
Nilai tolerance > 0,10 tidak terjadi multikolinieritas
5.
Nilai tolerance < 0,10 terjadi multikolinieritas
6. Nilai VIF < 10,00 tidak
terjadi multikolinieritas
3.9.3
Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linear berganda digunakan
oleh peneliti, bila peneliti meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya)
variabel dependen (kriterium), bila dua atau lebih variabel independen sebagai
faktor predictor dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya. Jadi analisis regresi
berganda akan dilakukan bila jumlah variabel independennya minimal 2 (Sugiyono
2017:275)
Penelitian ini, penulis menggunakan persamaan
regresi linear berganda karena variabel bebas dalam penelitian lebih dari satu.
Adapun persamaan regresi linear berganda menurut Sugiyono (2017:275) dapat
dirumuskan sebagai berikut:
𝑌 = α + 𝑏1 𝑋1 + 𝑏2 𝑋2 + 𝑏3 𝑋3 + 𝑏4 𝑋4 + 𝜀
Keterangan :
Y = Variabel Persistensi Laba
α = Konstanta
b1,b2,b3,b4 = Koefisien regresi variabel
independen
X1 = Variabel Volatilitas Arus Kas
X2 = Variabel Volatilitas Penjualan
X3 = Variabel Ukuran Perusahaan
X4 = Variabel Leverage
e = Standar error
3.9.4
Pengujian Hipotesis
Hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai
suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan suatu ha yang sering dituntut untuk
melakukan pengecekannya.
Sugiyono (2017:87) mendefinisikan hipotesis
statistik yaitu sebagai berikut: “Dalam perumusan hipotesis statistik, antara
hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha) selalu berpasangan, bila salah
satu ditolak, maka yang lain pasti diterima sehingga keputusan yang tegas,
yaitu kalau Ho ditolak Ha diterima. Hipotesis statistik dinyatakan melalui
simbol-simbol.” Rancangan pengujian hipotesis digunakan untuk mengetahui
korelasi dari kedua variabel yang diteliti. Tahap–tahap dalam rancangan
pengujian hipotesis ini dimulai dengan penetapan hipotesis nol (Ho) dan
hipotesis alternative (Ha), pemilihan tes statistik, perhitungan nilai
statistik dan penetapan tingkat signifikan
3.9.4.1
Uji Parsial (Uji t)
Menurut Imam Ghozali (2011 : 98) uji t digunakan untuk
melihat atau menguji apakah variabel independen secara parsial (individu)
memiliki pengaruh terhadap variabel dependen. Hipotesis nol (H0)
yang hendak diuji adalah apakah suatu parameter (b1) sama dengan nol, atau :
H0 :b1 = b2 = b3
= 0
Artinya, variabel tersebut merupakan penjelas yang tidak
signifikan terhadap variabel dependen.
Hipotesis alternatifnya (HA) parameter suatu variabel
tidak sama dengan nol, atau:
HA : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0
Artinya, variabel tersebut merupakan penjelas yang
signifikan terhadap variabel dependen.
Cara melakukan uji t adalah sebagai berikut:
- Bila jumlah degree of
freedom (df) adalah 20 atau lebih, dan taraf signifikan α = 5% atau
0.05, maka H0 yang menyatakan b1 = 0 dapat ditolak bila nilai t
lebih besar dari 2 (dalam nilai absolut). Dengan kata lain menerima
hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa suatu variabel independen
secara individual mempengaruhi variabel dependen.
- Membandingkan nilai statistik t dengan titik kritis menurut tabel.
Apabila t hitung lebih besar daripada t tabel, berarti menerima hipotesis
alternatif yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara
individual mempengaruhi variabel dependen.
ALEX PEPSEGA INDRA PUTRA
No comments:
Post a Comment