Bioetanol gel
memiliki beberapa kelebihan
dibanding bahan bakar
alternatif lainnya yaitu selama
pembakaran gel tidak berasap, tidak
berjelaga, tidak mengemisi gas berbahaya, non
karsinogenik, non korosif.
Bentuknya yang gel
memudahkan dalam pengemasan
dan dalam pendistribusian. Bioetanol
gel sangat cocok
digunakan untuk memasak,
dibawa pada saat
berkemah dll. Untuk membuat bioetanol
gel dibutuhkan pengental
berupa tepung, seperti
kalsium aasetat, atau
pengental lainnya seperti
xanthan gum, carbopol
EZ-3 polymer, dan
berbagai material turunan
selulosa (Tambunan, 2008).
Untuk pengental jenis
polimer carboxy vinyl
seperti carbopol dibutuhkan air untuk membentuk struktur gel yang
diinginkan. Penambahan pengental dan
air saat pembuatan
bioetanol gel sangat
mungkin mempengaruhi sifat fisik bioetanol gel yang dihasilkan. Sifat
fisik yang mungkin terpengaruh antara
lain flash point,
nilai kalor dan
viskositas. Namun data – data mengenai flash
point, nilai kalor dan
viskositas bioetanol gel
masih sulit ditemui
di literatur. Oleh
karena itu penelitian ini
dilakukan untuk mencari
pengaruh carbopol dan
air terhadap flash
point, nilai kalor, dan
viskositas bioetanol gel yang dihasilkan sehingga didapat kondisi operasi
optimum dalam pembuatan bioetanol gel. viskositas dipengaruhi oleh
carbopol. ( http://eprints.undip.ac.id/10605/)
Pembuatan
plastik biodegradabel dapat dilakukan dengan cara pencampuran antara LLDPE
(Linear Low Density Poly Ethylene) sebagai polimer sintetis dan pati tapioka
sebagai polimer alam dengan penembahan bahan aditif dimana plastik
biodegradabel yang dihasilkan dapat diaplikasikan menjadi suatu produk pengemas
yaitu berupa mangkok (cup). Dari hasil analisa Melt Flow Index (MFI= laju
aliran) menunjukkan bahwa semakin banyak konsentrasi pati tapioka yang
ditambahkan mengakibatkan nilai MFI semakin rendah. Hal ini berarti bahwa pada
konsentrasi pati tapioka yang semakin tinggi mengakibatkan bahan sulit
mengalir. Perlakuan konsentrasi pati berpengaruh nyata terhadap kekuatan
tarik dan perpanjangan putus plastik biodegradabel yang dihasilkan. Semakin
besar konsentrasi pati tapioka yang ditambahkan maka kekuatan tarik dan
perpanjangan putusnya akan semakin menurun. Hasil analisis spektrophotometer
inframerah menunjukkan pencampuran LLDPE dan pati tapioka dengan bahan aditif
bersifat pencampuran fisik saja, karena gugus yang terbentuk merupakan penggabungan
antara gugus fungsi LLDPE dan pati tapioka dan tidak memperlihatkan munculnya
gugus fungsi spesifik baru. Material plastik banyak digunakan karena
banyak mempunyai sifat unggul seperti ringan, transparan, tahan air, serta
harganya pun relative murah dan terjangkau oleh semua kalangan masayarakat.
Namun disamping sifat unggulnya, plastik masih mempunyai sifat sifat yang
kurang menguntungkan yaitu tidak mudah hancur karena lingkungan, baik oleh
cuaca hujan dan panas matahari ataupun mikroba yang hidup dalam tanah.
Peningkatan penggunaan material plastik yang pesat saat ini telah menimbulkan beberapa permasalahan diantaranya karena plastik tidak mudah hancur oleh lingkungan sehingga peningkatan material plastik menyebabkan timbunan limbah plastik. Pemakaian material ini terutama untuk pembuatan pengemas, karena masa pakai barang pengemas ini sangat singkat. Disamping itu sumber minyak yang digunakan sebagai bahan dasar polimer semakin lama semakin berkurang sehingga timbul pemikiran penggunaan bahan alternative untuk membuat material polimer yang ramah lingkungan (biodegradabel). ( http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=118)
Peningkatan penggunaan material plastik yang pesat saat ini telah menimbulkan beberapa permasalahan diantaranya karena plastik tidak mudah hancur oleh lingkungan sehingga peningkatan material plastik menyebabkan timbunan limbah plastik. Pemakaian material ini terutama untuk pembuatan pengemas, karena masa pakai barang pengemas ini sangat singkat. Disamping itu sumber minyak yang digunakan sebagai bahan dasar polimer semakin lama semakin berkurang sehingga timbul pemikiran penggunaan bahan alternative untuk membuat material polimer yang ramah lingkungan (biodegradabel). ( http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=118)
Fluidisasi dipakai untuk menerangkan atau menggambarkan salah
satu cara mengontakkan butiran-butiran padat dengan fluida (gas atau cair).
Sebagai ilustrasi dengan apa yang dinamakan fluidisasi ini, kita tinjau suatu
bejana dalam air di dalam mana ditempatkan sejumlah partikel padat berbentuk
bola, melalui unggun padatan ini kemudian dialirkan gas dengan arah aliran dari
bawah ke atas. Pada laju al ir yang cukup rendah partikel padat akan diam.
Keadaan yang demikian disebut sebagai unggun diam atau”fixed bed”.
Kalau laju alir gas dinaikkan, maka akan sampai pada suatu keadaan
dimana unggun padatan tadi tersuspensi di dalam aliran gas yang melaluinya.
Pada kondisi partikel yang mobil ini, sifat unggun akan menyerupai sifat-sifat
suatu cairan dengan viskositas tinggi, misalnya ada kecenderungan untuk
mengalir, mempunyai sifat hidrostatik. Keadaan demikian disebut “fluidized bed”. Aspek utama yang
akan ditinjau di dalam percobaan ini adalah untuk mengetahui besarnya
kehilangan tekanan di dalam unggun padatan yang cukup penting karena selain
erat sekali hubungannya dengan banyaknya energi yang diperlukan, juga bisa
memberikan indikasi tentang kelakuan unggun selama operasi berlangsung.
Korelasikorelasi matematik yang menggambarkan hubungan antara kehilangan
tekanan dengan laju alir fluida di dalam suatu sistem unggun diperoleh melalui
metode-metode yang bersifat semi empiris dengan menggunakan bilangan-bilangan
tak berdimensi.( http://lab.tekim.undip.ac.id/otk/2010/09/29/fluidisasi/)
Ketika fluida atau gas mengalir dengan laju kecil pada
kolom berisi unggun padatan maka tekanan gas akan berkurang sepanjang unggun
padatan. Apabila laju aliran gas diperbesar terus maka besarnya penurunan
tekanan gas sepanjang unggun juga akan bertambah, hingga pada suatu saat dimana
butiran padatan tersebut terangkat oleh aliran gas maka penurunan tekanan
menjadi tetap. Keadaan dimana padatan terangkat sehingga tidak lagi berupa
unggun diam disebut terfluidisasi, artinya padatan tersuspensi dalam gas dan
pada keadaan ini sifat dari padatan tidak lagi seperti semula tetapi berubah
seperti fluida, yaitu dapat dialirkan melalui pipa maupun keran. Besarnya
kecepatan minimum yang diperlukan untuk membuat padatan unggun diam menjadi
terfluidisasi tergantung beberapa faktor seperti besarnya diameter padatan,
porositas padata, rapat massa padatan dan faktor bentuk dari butiran padat.( http://matekim.blogspot.com/2010/05/fluidisasi-pada-gas.html)
Rittinger beranggapan bahwa besarnya energy yang diperlukan
untuk size reduction berbanding lurus dengan luasan baru partikel /
perbandingan luas permukaan partikel. Persamaanlain yang bisa digunakan adalah
persamaan Bond. Bond beranggapan bahwa energy yang dibutuhkan untuk membuat
partikel dengan ukuran Dp dari feed dengan ukuran sangat besar adalah
berbanding lurus dengan volume produk. ick beranggapan bahwa energy yang
dibutuhkan untuk pemecahan partikel zat padat adalah berbanding lurus dengan
ratio dari feed dengan produk.( http://lab.tekim.undip.ac.id/otk/2010/09/29/size-reduction/)
No comments:
Post a Comment