Monday, September 10, 2012

BIOETHANOL GEL


 
Bioetanol  gel  memiliki  beberapa  kelebihan  dibanding  bahan  bakar  alternatif  lainnya yaitu selama pembakaran gel tidak  berasap, tidak berjelaga, tidak mengemisi gas berbahaya, non  karsinogenik,  non  korosif.  Bentuknya  yang  gel  memudahkan  dalam  pengemasan  dan dalam  pendistribusian.  Bioetanol  gel  sangat  cocok  digunakan  untuk  memasak,  dibawa  pada  saat  berkemah dll. Untuk  membuat  bioetanol  gel  dibutuhkan  pengental  berupa  tepung,  seperti  kalsium  aasetat,  atau  pengental  lainnya  seperti  xanthan  gum,  carbopol  EZ-3  polymer,  dan  berbagai  material  turunan  selulosa  (Tambunan,  2008).  Untuk  pengental  jenis  polimer  carboxy  vinyl  seperti carbopol dibutuhkan air untuk membentuk struktur gel yang diinginkan. Penambahan  pengental  dan  air  saat  pembuatan  bioetanol  gel  sangat  mungkin mempengaruhi sifat fisik bioetanol gel yang dihasilkan. Sifat fisik yang mungkin terpengaruh antara  lain  flash  point,  nilai  kalor  dan  viskositas.  Namun  data    data  mengenai  flash  point, nilai  kalor  dan  viskositas  bioetanol  gel  masih  sulit  ditemui  di  literatur.  Oleh  karena  itu penelitian  ini  dilakukan  untuk  mencari  pengaruh  carbopol  dan  air  terhadap  flash  point,  nilai kalor, dan viskositas bioetanol gel yang dihasilkan sehingga didapat kondisi operasi optimum dalam pembuatan bioetanol gel. viskositas dipengaruhi  oleh  carbopol. ( http://eprints.undip.ac.id/10605/)
Pembuatan plastik biodegradabel dapat dilakukan dengan cara pencampuran antara LLDPE (Linear Low Density Poly Ethylene) sebagai polimer sintetis dan pati tapioka sebagai polimer alam dengan penembahan bahan aditif dimana plastik biodegradabel yang dihasilkan dapat diaplikasikan menjadi suatu produk pengemas yaitu berupa mangkok (cup). Dari hasil analisa Melt Flow Index (MFI= laju aliran) menunjukkan bahwa semakin banyak konsentrasi pati tapioka yang ditambahkan mengakibatkan nilai MFI semakin rendah. Hal ini berarti bahwa pada konsentrasi pati tapioka yang semakin tinggi mengakibatkan bahan sulit mengalir.  Perlakuan konsentrasi pati berpengaruh nyata terhadap kekuatan tarik dan perpanjangan putus plastik biodegradabel yang dihasilkan. Semakin besar konsentrasi pati tapioka yang ditambahkan maka kekuatan tarik dan perpanjangan putusnya akan semakin menurun. Hasil analisis spektrophotometer inframerah menunjukkan pencampuran LLDPE dan pati tapioka dengan bahan aditif bersifat pencampuran fisik saja, karena gugus yang terbentuk merupakan penggabungan antara gugus fungsi LLDPE dan pati tapioka dan tidak memperlihatkan munculnya gugus fungsi spesifik baru. Material plastik banyak digunakan karena banyak mempunyai sifat unggul seperti ringan, transparan, tahan air, serta harganya pun relative murah dan terjangkau oleh semua kalangan masayarakat. Namun disamping sifat unggulnya, plastik masih mempunyai sifat sifat yang kurang menguntungkan yaitu tidak mudah hancur karena lingkungan, baik oleh cuaca hujan dan panas matahari ataupun mikroba yang hidup dalam tanah.
Peningkatan penggunaan material plastik yang pesat saat ini telah menimbulkan beberapa permasalahan diantaranya karena plastik tidak mudah hancur oleh lingkungan sehingga peningkatan material plastik menyebabkan timbunan limbah plastik. Pemakaian material ini terutama untuk pembuatan pengemas, karena masa pakai barang pengemas ini sangat singkat. Disamping itu sumber minyak yang digunakan sebagai bahan dasar polimer semakin lama semakin berkurang sehingga timbul pemikiran penggunaan bahan alternative untuk membuat material polimer yang ramah lingkungan (biodegradabel). ( http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=118)
Fluidisasi dipakai untuk menerangkan atau menggambarkan salah satu cara mengontakkan butiran-butiran padat dengan fluida (gas atau cair). Sebagai ilustrasi dengan apa yang dinamakan fluidisasi ini, kita tinjau suatu bejana dalam air di dalam mana ditempatkan sejumlah partikel padat berbentuk bola, melalui unggun padatan ini kemudian dialirkan gas dengan arah aliran dari bawah ke atas. Pada laju al ir yang cukup rendah partikel padat akan diam. Keadaan yang demikian disebut sebagai unggun diam atau”fixed bed”. Kalau laju alir gas dinaikkan, maka akan sampai pada suatu keadaan dimana unggun padatan tadi tersuspensi di dalam aliran gas yang melaluinya. Pada kondisi partikel yang mobil ini, sifat unggun akan menyerupai sifat-sifat suatu cairan dengan viskositas tinggi, misalnya ada kecenderungan untuk mengalir, mempunyai sifat hidrostatik. Keadaan demikian disebut “fluidized bed”. Aspek utama yang akan ditinjau di dalam percobaan ini adalah untuk mengetahui besarnya kehilangan tekanan di dalam unggun padatan yang cukup penting karena selain erat sekali hubungannya dengan banyaknya energi yang diperlukan, juga bisa memberikan indikasi tentang kelakuan unggun selama operasi berlangsung. Korelasi­korelasi matematik yang menggambarkan hubungan antara kehilangan tekanan dengan laju alir fluida di dalam suatu sistem unggun diperoleh melalui metode-metode yang bersifat semi empiris dengan menggunakan bilangan-bilangan tak berdimensi.( http://lab.tekim.undip.ac.id/otk/2010/09/29/fluidisasi/)
Ketika fluida atau gas mengalir dengan laju kecil pada kolom berisi unggun padatan maka tekanan gas akan berkurang sepanjang unggun padatan. Apabila laju aliran gas diperbesar terus maka besarnya penurunan tekanan gas sepanjang unggun juga akan bertambah, hingga pada suatu saat dimana butiran padatan tersebut terangkat oleh aliran gas maka penurunan tekanan menjadi tetap. Keadaan dimana padatan terangkat sehingga tidak lagi berupa unggun diam disebut terfluidisasi, artinya padatan tersuspensi dalam gas dan pada keadaan ini sifat dari padatan tidak lagi seperti semula tetapi berubah seperti fluida, yaitu dapat dialirkan melalui pipa maupun keran. Besarnya kecepatan minimum yang diperlukan untuk membuat padatan unggun diam menjadi terfluidisasi tergantung beberapa faktor seperti besarnya diameter padatan, porositas padata, rapat massa padatan dan faktor bentuk dari butiran padat.( http://matekim.blogspot.com/2010/05/fluidisasi-pada-gas.html)
Rittinger beranggapan bahwa besarnya energy yang diperlukan untuk size reduction berbanding lurus dengan luasan baru partikel / perbandingan luas permukaan partikel. Persamaanlain yang bisa digunakan adalah persamaan Bond. Bond beranggapan bahwa energy yang dibutuhkan untuk membuat partikel dengan ukuran Dp dari feed dengan ukuran sangat besar adalah berbanding lurus dengan volume produk. ick beranggapan bahwa energy yang dibutuhkan untuk pemecahan partikel zat padat adalah berbanding lurus dengan ratio dari feed dengan produk.( http://lab.tekim.undip.ac.id/otk/2010/09/29/size-reduction/)

No comments:

Post a Comment