Uji Tarik merupakan salah satu pengujian untuk
mengetahui sifat-sifat suatu bahan. Dengan menarik suatu bahan kita akan segera
mengetahui bagaimana bahan tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan
mengetahui sejauh mana material itu bertambah panjang. Alat eksperimen untuk
uji tarik ini harus memiliki cengkeraman (grip) yang kuat dan kekakuan
yang tinggi (highly stiff).
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari
hasil uji tarik.
Bila kita terus menarik suatu bahan (dalam hal ini suatu logam) sampai putus,
kita akan mendapatkan profil tarikan yang lengkap yang berupa kurva seperti
digambarkan pada Gambar 1. Kurva ini menunjukkan hubungan antara gaya tarikan
dengan perubahan panjang. Profil ini sangat diperlukan dalam desain yang memakai
bahan tersebut
Hukum Hooke (Hooke's Law)Hampir semua logam,
pada tahap sangat awal dari uji tarik, hubungan antara beban atau gaya yang
diberikan berbanding lurus dengan perubahan panjang bahan tersebut. Ini disebut
daerah linier atau linear zone. Di daerah ini, kurva pertambahan panjang vs
beban mengikuti aturan Hooke yaitu rasio tegangan (stress) dan regangan
(strain) adalah konstan.
“Stress adalah beban dibagi luas penampang bahan”
“strain adalah pertambahan panjang dibagi panjang awa
Batas
elastic σE (elastic limit), Pada Gambar
3 dinyatakan dengan titik A. Bila sebuah bahan diberi beban sampai pada titik
A, kemudian bebannya dihilangkan, maka bahan tersebut akan kembali ke kondisi
semula (tepatnya hampir kembali ke kondisi semula) yaitu regangan “nol” pada
titik O (lihat Gambar 3). Tetapi bila beban ditarik sampai melewati titik A,
hukum Hooke tidak lagi berlaku.
Batas
proporsional σp (proportional limit). Titik di mana
penerapan hukum Hooke masih bisa ditolerir. Tidak ada standarisasi tentang
nilai ini. Dalam praktek, biasanya batas proporsional sama dengan batas
elastis.
Deformasi
plastis (plastic deformation). Perubahan bentuk yang tidak kembali
ke keadaan semula. Pada Gambar 3 yaitu bila bahan ditarik sampai melewati
batas proporsional dan mencapai daerah landing.
Tegangan
luluh atas σuy (upper yield stress). Tegangan maksimum
sebelum bahan memasuki fase daerah landing peralihan deformasi elastis ke
plastis.
Tegangan
luluh bawah σly (lower yield stress). Tegangan rata-rata
daerah landing sebelum benar-benar memasuki fase deformasi plastis. Bila
hanya disebutkan tegangan luluh (yield stress), maka yang dimaksud
adalah tegangan mekanis pada titik ini.
Regangan
luluh εy (yield strain). Regangan permanen
saat bahan akan memasuki fase deformasi plastis.
Regangan
elastis εe (elastic strain). Regangan yang
diakibatkan perubahan elastis bahan. Pada saat beban dilepaskan regangan ini
akan kembali ke posisi semula.
Regangan
plastis εp (plastic strain). Regangan yang diakibatkan
perubahan plastis. Pada saat beban dilepaskan regangan ini tetap tinggal
sebagai perubahan permanen bahan.
Regangan
total (total strain). Merupakan gabungan regangan plastis dan
regangan elastic (εT = εe+εp). Perhatikan
beban dengan arah OABE. Pada titik B, regangan yang ada adalah regangan total.
Ketika beban dilepaskan, posisi regangan ada pada titik E dan besar regangan
yang tinggal (OE) adalah regangan plastis.
Tegangan
tarik maksimum (UTS, Ultimate Tensile Strength). Pada Gambar
3 ditunjukkan dengan titik C (σβ), merupakan besar tegangan
maksimum yang didapatkan dalam uji tarik.
Kekuatan
patah (breaking strength). Pada Gambar 3 ditunjukkan dengan
titik D, merupakan besar tegangan di mana bahan yang diuji putus atau patah.
Kekerasan
(Hardness)
adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical properties) dari suatu
material. Kekerasan suatu material harus diketahui khususnya untuk material
yang dalam penggunaanya akan mangalami pergesekan (frictional force) dan
deformasi plastis. Deformasi plastis sendiri suatu keadaan dari suatu material
ketika material tersebut diberikan gaya maka struktur mikro dari material
tersebut sudah tidak bisa kembali ke bentuk asal artinya material tersebut
tidak dapat kembali ke bentuknya semula. Lebih ringkasnya kekerasan
didefinisikan sebagai kemampuan suatu material untuk menahan beban identasi
atau penetrasi (penekanan).
Di
dalam aplikasi manufaktur, material dilakukan pengujian dengan dua pertimbangan
yaitu untuk mengetahui karakteristik suatu material baru dan melihat mutu untuk
memastikan suatu material memiliki spesifikasi kualitas tertentu.
Didunia
teknik, umumnya pengujian kekerasan menggunakan 4 macam metode pengujian
kekerasan, yakni
Brinnel
(HB / BHN)
Pengujian kekerasan dengan metode
Brinnel bertujuan untuk menentukan kekerasan suatu material dalam bentuk daya
tahan material terhadap bola baja (identor) yang ditekankan pada permukaan
material uji tersebut (spesimen). Idealnya, pengujian Brinnel diperuntukan
untuk material yang memiliki permukaan yang kasar dengan uji kekuatan berkisar
500-3000 kgf. Identor (Bola baja) biasanya telah dikeraskan dan diplating
ataupun terbuat dari bahan Karbida Tungsten.
No comments:
Post a Comment