Pendahuluan
Angkak merupakan salah satu pewarna alami yang diperoleh dari
cendawan. Cendawan yang berperan adalah jenis Monascus sp. dan biasanya
adalah Monascus purpureus. Cendawan ini biasa dikulturkan dalam butir
beras dan dibiarkan mengkolonisasi beras. Dari hasil pertumbuhannya,
mampu dihasilkan pigmen warna merah dan beberapa metabolit lain yang
berguna bagi manusia.
Pengolahan bahan pangan berupa bahan mentah yang diikuti fermentasi
telah menjadi budaya di berbagai belahan dunia, khususnya di Asia. Salah
satu bahan pangan tradisional yang diolah dengan fermentasi adalah
keju, tape, tape ketan, arak beras, anggur, dan lain sebagainya.
Pengolahan bahan pangan dengan fermentasi mampu meningkatkan daya
simpan, daya cerna, dan penerimaan manusia terhadap makanan tersebut.
Kultur Monascus sp. dapat ditumbuhkan pada media cair. Aktivitas
produksi pigmen dapat diketahui dengan menumbuhkan Monascus sp. pada
media cair dengan substrat yang berbeda. Selain itu, aktivitas pewarnaan
pigmen dari angkak dapat diujikan pada tape singkong untuk mengetahui
pengaruh pigmen pada penampakan tape dan pertumbuhan ragi dalam
fermentasi tape.
Bahan dan Metode
Isolasi Monascus sp. dan pertumbuhannya dalam berbagai media cair
Isolat Monascus sp. diperoleh dari produk angkak komersil berupa biakan
Monascus sp. pada beras koleksi Ibu Lisdar E Manaf. Sebanyak 3 butir
beras angkak diinokulasikan ke dalam media Malt Extract Agar yang
ditambahkan antibiotik. Biakan kemudian diinkubasi selama 1 minggu.
Biakan hasil inkubasi dipilih yang terbaik digunakan untuk penyimpanan
biakan dan menumbuhkannya ke dalam berbagai media cair. Media cair yang
digunakan adalah media cair tepung ketan putih 15%, media cair tepung
beras 15%, dan media cair tapioka 15%. Kontrol yang digunakan adalah
media air gula 15%. Masing-masing media memiliki volume 200 ml dan
diletakkan di dalam labu Erlenmeyer (3 ulangan). Inokulasi ke dalam
media cair dilakukan setelah 1 minggu sejak inokulasi pada media Malt
Extract Agar.
Setelah inkubasi selama 7 hari dilakukan analisis pigmen angkak dengan
pengamatan filtrat dari biakan Monascus sp. pada masing-masing media
cair. Pengamatan dilakukan dengan pengukuran absorbansi dengan
menggunakan spektrofotometer UV. Selain pengukuran absorbansi filtrat,
dilakukan pengukuran absorbansi ekstrak sel. Ekstraksi sel dilakukan
dengan menggunakan methanol. Absorbansi diukur dengan menggunakan
spektrofotometer.
Pengaruh pigmen Monascus sp. terhadap fermentasi dalam pembuatan tape
Sebanyak 1 sdm beras angkak dimasukkan ke dalam panci berisi air dan
singkong yang dilanjutkan dengan perebusannya. Perebusan dilakukan
sampai singkong setengah matang. Kontrol yang digunakan adalah perebusan
singkong tanpa penambahan beras angkak.
Singkong kemudian ditiriskan dan ditunggu sampai dingin. Singkong yang
telah dingin diinokulasi dengan ragi komersial untuk dilakukan
fermentasi tape. Tape yang telah matang kemudian diamati dan diuji
secara organoleptik.
Selain pembuatan tape, dilakukan pengujian fermentasi langsung ragi tape
pada beras angkak. Beras angkak dimasak setengah matang dan dilanjutkan
dengan penaburan ragi tape di atas permukaan beras angkak.
Hasil
Isolasi Monascus sp. dan pertumbuhannya dalam berbagai media cair
Inokulasi beras angkak pada media Malt Extract Agar diamati setelah 1
minggu inkubasi. Miselium Monascus sp. dapat tumbuh pada media, namun,
terdapat kontaminasi pada media (Gambar 1).
Gambar 1 Inokuasi beras angkak pada media Malt Extract Agar
Inokulasi Monascus sp. pada berbagai media cair menunjukkan hasil visual
berupa kepekatan warna merah yang berbeda-beda. Warna merah paling
pekat ditunjukkan pada biakan pada media cair tepung beras ketan 15%,
diikuti dengan media cair tepung beras 15%, media cair tapioka 15%, dan
media cair kontrol (Gambar 2).
Gambar 2 Produksi pigmen Monascus sp. dalam berbagai media cair. A:
air gula 15%, B: Tepung beras 15%, C: Tepung beras ketan 15%, D: tapioka
15%
Produksi pigmen berdasarkan pengamatan visual pada masing-masing
substrat sebanding dengan biomassa sel yang dihasilkan selama inkubasi.
Biomassa sel paling tinggi diperoleh pada media cair tepung beras ketan
15% dan paling rendah diperoleh pada media cair tapioka 15% (Gambar 3).
Gambar 3 Biomassa sel yang dihasilkan setelah tujuh hari inkubasi pada produksi pigmen dengan substrat yang berbeda.
Filtrat yang berasal dari kultur media cair dengan berbagai substrat
diukur dengan menggunakan spektrofotometer. Hasil pengukuran dapat
dilihat pada Tabel 1. Absorbansi ekstraksi sel dengan menggunakan
methanol dapat dilihat pada Gambar 4 dan Tabel 2.
Tabel 1 Pengukuran absorbansi filtrat dari media cair
Substrat Panjang gelombang (nm) Absorbansi
Tepung ketan 15% 200,5 0,362
304 0,050
482,5 0,022
Tepung beras 15% 219,5 1,654
303,5 1,484
Tapioka 15% 212 1,033
304 0,578
Gula 15% 200 0,354
304 0,031
Gambar 4 Pengukuran absorbansi pada ekstrak sel yang dilarutkan
dengan methanol. A: gula 15%, B: Tepung beras 15%, C: Tepung beras
ketan 15%, D: tapioka 15%
Tabel 2 Pengukuran absorbansi pada ekstrak sel yang dilarutkan dengan methanol
Substrat Panjang gelombang (nm) Absorbansi
Tepung ketan 15% 240 2,48
301 2,176
349,5 1,947
471,5 2,224
489,5 1,227
Tepung beras 15% 237,5 2,352
301,5 1,650
349 1,520
402,5 1,890
494,5 0,816
Tapioka 15% 224,5 0,694
271,5 0,403
466 0,406
Gula 15% 223,5 0,292
398,5 0,90
Keterangan : Untuk ekstrak sel pada media cair tepung beras 15% diencerkan ½ kali karena tidak terbaca oleh spektrofotometer.
Pengaruh pigmen Monascus sp. terhadap fermentasi dalam pembuatan tape
Hasil rebusan singkong bersama beras angkak menunjukkan pigmen merah
yang meresap ke dalam singkong (Gambar 4). Tekstur singkong yang
dihasilkan tidak jauh berbeda dengan singkong yang direbus dengan cara
biasa. Setelah dilakukan fermentasi dengan menggunakan ragi, tape diuji
secara organoleptik. Hasil uji organoleptik dapat dilihat pada Tabel 3.
Gambar 4 hasil perebusan singkong yang ditambahkan beras angkak
Tabel 3 Data organoleptik tape yang diwarnai dengan pigmen dari Monascus
NO KARAKTER TAPE I TAPE II TAPE III KONTROL
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
Preference test
1 Kesukaan 2 3 3 1 1 5 3 2 2 4 1 1 2 2 1 3
2 Tekstur 1 4 3 1 5 4 2 2 3 1 1 4 4
3 Rasa 1 3 5 1 6 2 1 3 3 1 1 2 4 2
4 Aroma 2 5 2 2 1 6 1 3 5 1 3 2 3
5 Warna 3 3 3 3 6 2 5 2 1 3 5
Difference test
1 Kelunakan 3 4 2 1 4 4 1 4 4 1 1 4 3
2 Asam 1 4 2 1 1 4 3 1 3 3 1 2 1 2 3 3
3 Aroma 4 6 1 5 4 4 3 2 3 4 2
4 Warna (kuning/merah) 1 4 3 1 1 3 5 2 1 5 1 2 5 1 1
Keterangan: 1=sangat tidak suka 2=tidak suka 3=netral 4=suka 5=sangat suka
Pembahasan
Isolasi Monascus sp. dan pertumbuhannya dalam berbagai media cair
Monascus sp. mampu tumbuh pada media Malt Extract Agar (Gambar 1).
Namun, media juga mengalami kontaminasi. Kontaminasi yang muncul berupa
jenis bakteri dan cendawan. Kontaminasi disebabkan karena tidak
dilaksanakannya teknik aseptik dengan baik. Kontaminasi dapat berasal
dari udara atau peralatan yang digunakan.
Hasil pengamatan secara visual kultur Monascus sp. dalam media cair
berbagai substrat menunjukkan adanya perbedaan kepekatan warna yang
dihasilkan (Gambar 2). Kultur Monascus sp. pada media cair tepung beras
ketan 15% memiliki kepekatan yang paling tinggi, diikuti oleh media cair
tepung beras 15%, media cair tapioka 15%, dan kontrol. Sedangkan pada
pengukuran filtrat dengan spektrofotometer UV, absorbansi pada dua
panjang gelombang menunjukkan hasil yang berbeda dengan pengamatan
visual (Tabel 1). Hal ini bisa jadi disebabkan oleh filtrat yang tidak
murni, masih mengandung pengotor seperti sisa tepung atau bagian tubuh
Monascus sp..
Hasil absorbansi pigmen angkak pada ekstraksi sel dengan metanol (Gambar
4, Tabel 2) memiliki perbedaan dengan absorbansi filtrat media cair
(Tabel 1) dan pengamatan visual (Gambar 2). Ekstraksi sel ini
memungkinkan filtrat yang lebih bersih dan kemungkinan pigmen yang
diperoleh lebih banyak. Absorbansi paling tinggi diperoleh dari media
cair tepung beras 15%. Kepekatan warna pada media cair disebabkan oleh
produksi pigmen oleh Monascus sp.. Pigmen merah yang dihasilkan Monascus
sp. ini disebut monascorubrin (C22H24O5) dan pigmen warna kuningnya
disebut monascoflavin (C17H22O4) (Gray 1970). Perbedaan produksi pigmen
memiliki kaitan dengan komposisi nutrisi dalam setiap substrat dari
media cair.
Menurut Danuri (2008), produksi pigmen dan lovastatin tinggi pada kultur
Monascus sp. dalam media beras. Hal ini disebabkan kandungan amilosa
(25-33%) yang lebih tinggi pada beras dibanding amilokpektin. Amilosa
lebih mudah didegradasi oleh Monascus sp. dibanding dengan amilopektin
sehingga mudah digunakan sebagai substrat pertumbuhan. Jika dibandingkan
dengan beras ketan (Oryza sativa qlutinous), beras ketan mengandung 80%
karbohidrat, 4% lemak, 6% protein 6%, dan 10% air. 1% dan 99%.
Karbohidrat (pati) pada beras ketan mengandung 1-2% amilosa dan 88-89%
amilopektin.
Absorbansi terendah terdapat pada media cair tapioka 15% (Tabel 2).
Absorbansi yang rendah menunjukkan rendahknya pigmen angkak yang
dihasilkan. Menurut Carvalho et al. (2005), produksi pigmen pada
substrat tepung tapioka oleh Monascus sp. galur CCT3802 dan NRRL1991
lebih rendah kurang lebih sebesar 8 kali dibandingkan produksinya pada
substrat beras, sedangkan produksi pigmen Monascus sp. galur LPB31 pada
substrat tepung tapioka lebih rendah sebesar 4 kali daripada produksinya
pada susbtrat beras.
Dilihat dari komposisi tapioka, tapioka memiliki konsentrasi karbon dan
nitrogen yang lebih rendah dibandingkan beras ketan dan beras biasa.
Tapioka berasal dari akar ubi kayu (kasava) yang diolah menjadi tepung.
Analisis terhadap akar ubi kayu yang khas mengidentifikasikan terdapat
kandungan kadar air 70%, pati 24%, serat 2%, protein 1% serta komponen
lain (mineral, lemak, gula) 3%. Komposisi nutrisi dalam tapioka ini
diduga mempengaruhi pertumbuhan Monascus sp.. Jika dibandingkan dengan
media yang mengandung glukosa dan maltose, media yang tapioka akan
memberikan hasil produksi pigmen Monascus sp. yang lebih tinggi
(Timotius 2005).
Produksi pigmen Monascus sp. pada substrat tapioka dipengaruhi oleh
penambahan nutrisi tambahan dari luar. Carvalho et al. (2006) menyatakan
bahwa produksi pigmen Monascus sp. dengan substrat tepung tapioka
maupun produk singkong lainnya memerlukan penambahan nitrogen, fosfor,
dan sumber mikronutrien.
Substrat-substrat yang digunakan memiliki kandungan karbohidrat, protein
dan fosfor dalam jumlah yang mirip. Meskipun demikian, pigmen yang
dihasilkan dari berbagai substrat tersebut berbeda. Hal ini disebabkan
sumber karbon dan sumber nitrogen diketahui berpengaruh terhadap
pertumbuhan sel dan produksi pigmen (Pastrana et al 1995; Vidyalakshmi
et al. 2009). Konsentrasi karbon dan nitrogen yang terlalu tinggi
justru menyebabkan turunnya pertumbuhan sel dan produksi pigmen (Lee et
al. 2001). Selain itu, penambahan beberapa mineral pada media mampu
meningkatkan produksi angkak secara signifikan (Danuri 2008).
Selain memproduksi pigmen, Monascus sp. juga dapat menghasilkan enzim α
dan β–amilase, glukoamilase, protease, dan lipase (Permana et al. 2004).
Enzim ini digunakan Monascus sp. untuk dapat memanfaatkan substrat yang
terdapat dalam media produksi, menggunakannya sebagai sumber energi dan
sebagai sumber C, dan N penyusun komponen sel. Selain itu, Monascus sp.
diketahui mampu memproduksi lovastatin. Produksi lovastatin oleh
Monascus pilosus ditekan oleh glukosa dan diaktifasi oleh maltosa, dan
pada konsentrasi berlebih nitrogen menghambat produksi lovastatin
(Miyake et al. 2006). Dalam penelitian lainnya dilaporkan bahwa
konsentrasi lovastatin yang diproduksi oleh Monascus sp. relatif lebih
tinggi dalam media dengan glukosa sebagai sumber karbon dibandingkan
maltosa, namun konsentrasi tertinggi dihasilkan dari kultur dengan
soluble starch sebagai sumber karbon (Lee et al. 2001). Selain
dipengaruhi oleh sumber karbon dan sumber N, produksi lovasttain juga
dipengaruhi oleh temperatur, lamanya waktu fermentasi, pH, serta jumlah
inokulum (Panda et al. 2008).
Produksi pigmen pada masing-masing substrat sebanding dengan biomassa
sel Monascus sp. yang diperoleh selama masa pertumbuhan atau masa
inkubasi (Gambar 3). Biomassa sel terbentuk dari pertumbuhan sel.
Semakin baik pertumbuhan sel, semakin banyak biomassa yang terbentuk dan
semakin banyak pigmen yang dihasilkan. Di sisi lain, penggunaan air
terlalu banyak dalam media tumbuh cair mampu menghambat pertumbuhan
Monascus sp. (Gray 1970).
Pada umumnya produksi pigmen Monascus sp. secara tradisional menggunakan
fermentasi pada media padat, namun sekarang ini Monascus sp. telah
berhasil dikulturkan dalam media cair dan produksi skala industri juga
telah menggunakan cara ini. Keuntungan penggunaan tepung-tepungan
sebagai substrat dalam fermentasi Monascus sp. adalah bahan yang mudah
diperoleh dan terjangkau, tidak berwarna, serta mudah dapat langsung
dicerna dan dimanfaatkan oleh kapang. Namun, fermentasi kapang Monascus
dalam media cair dengan tepung-tepungan sebagai substrat memiliki
kesulitan, antara lain, kekentalan yang tinggi dari tepung kasar
menghalangi penggunaan dalam konsentrasi tinggi, menghasilkan
konsentrasi akhir sel dan pigmen yang relatif rendah, karena tidak
cukupnya suplai oksigen untuk produksi pigmen yang tinggi akibat media
terlalu kental (Lee et al 1995).
Pengaruh pigmen Monascus sp. terhadap fermentasi dalam pembuatan tape
Dari keseluruhan parameter pada uji organoleptik, nilai tertinggi adalah
3 sampai 4, yaitu netral dan suka, hasil yang sama juga diperoleh dari
kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa antara kontrol dan perlakuan
(tape dengan pewarna angkak) tidak terlalu berbeda baik kelunakan, rasa,
tekstur maupun aroma, namun disukai. Tidak diketahui daya simpan tape
hasil praktikum. Bisa jadi terdapat pengaruh pigmen angkak pada daya
simpan tape. Menurut Law et al. (2011) daya simpan tape biasa dapat
bertahan sampai 3-4.
Hasil fermentasi yang menunjukkan tidak berbeda nyata antara perlakuan
pemberian angkak terhadap substrat ubi kayu maupun beras merah
mengindikasikan bahwa pewarna angkak tidak mempengaruhi ragi tape dalam
aktivitasnya untuk mengubah substrat menjadi tape.
Tape merupakan singkong hasil fermentasi oleh ragi. Pada daerah
Peninsular Malaysia tape memiliki popularitas yang baik sebagai bahan
pangan yang dapat langsung dimakan atau diolah menjadi bahan pangan lain
(Law et al. 2011). Pengolahan tape menjadi bahan pangan lain salah
satunya adalah dibuat menjadi kek atau makanan ringan. Adanya pigmen
warna merah dari Monascus sp. mampu member penampakan yang baik pada
tape. Namun, jika tape diolah menjadi bahan pangan lain tidak diketahui
apakah warna merah tape masih terlihat atau tidak.
Kesimpulan
Monascus sp. berhasil diisolasi dari beras angkak komersil. Pada
inokulasi Monascus sp. dalam kultur media cair berbagai substrat, pigmen
paling banyak terdapat pada kultur media cair tepung beras 15%.
Kandungan amilosa dalam beras memungkinkan Monascus sp. tumbuh dengan
baik. Tape dengan warna merah dari pigmen Monascus sp. berhasil dibuat.
Hasil uji organoleptik menunjukkan penerimaan terhadap tape netral
sampai suka.
Daftar Pustaka
Carvalho JC, Bruno OO, Ashok P, Carlos RS. 2005. Biopigments from
Monascus: Strains Selection, Citrinin Production and Color Stability
Brazilian Archiv and Technol 48: 885-894.
Carvalho JC et al. 2006. Effect of substrates on the production of
Monascus biopigments by solid- fermentation dan pigment extraction using
different solvents. Indi J Biotechnol 6: 194-199.
Danuri H. 2008. Optimizing Angkak Pigments and Lovastatin Production By Monascus purpureus. Hayati 15 (2): 61-66
Gray WD. 1970. The Use of Fungi As Food and in Food Processing. CRC Press, Ohio.
Law SV, Abu Bakar F, Mat Hashim D, Abdul Hamid A. 2011. Popular
fermented foods and beverages in Southeast Asia. International Food
Research Journal 18: 474-483.
Lee YK, Chen DC, Chauvatcharin S, Seki T, Yoshida T. 1995. Production of
Monascus pigments by solid-liquid state culture method. J Ferm Bioeng
79(5): 516-518.
Lee BK, Park NH, Piao HY, Chung WJ. 2001. Production of red pigments by
Monascus sp. in submerged culture. Biotechnol Bioprocess Eng 6: 341-346.
Panda BP, Saleem J, Mohammad A. 2008.Optimization of Fermentation
Parameters for Higher Lovastatin Production in Red Mold Rice through
Co-culture of Monascus sp. and Monascus ruber. Food Bioprocess Technol :
008-0072.
Pastrana L, Blanc PJ, Santerre AL, Loret MO, Goma G. 1995. Production of
red pigments by Monascus ruber in synthetic media with a strictly
controlled nitrogen source. Process Biochem 30(4): 333-341.
Permana DR, Sunnati M, Tisnadjaja D. 2004. Analisis Kualitas Produk
Fermentasi Beras (Red Fermented Rice) dengan Monascus sp. 3090.
Biodiversitas 5: 7-12.
Timotius KH. 2005. The influence of tapioca on the growth, the activity
of glucoamylase and pigment production of Monascus sp. UKSW 40 in
soybean-soaking wastewater. World J Microbiol Biotechnol 21: 615-617.
Vidyalakshmi R, Paranthaman R, Murugesh S, Singaravadivel K. 2009.
Stimulation of Monascus pigments by invention of different nitrogen
sources. Global J Biotechnol Biochem 4(1): 25-28.
No comments:
Post a Comment