Monday, September 3, 2012

MSDS ASAM SALISILAT

ASAM SALISILAT
Salycylic Acid
1. N a m a
1.1. Golongan
Carboxylic acids, hydroxyls, aromatic.
1.2. Sinonim / Nama Dagang
Benzoic Acid, 2 – Hydroxy -; O - Carboxyphenol; 2 - carboxyphenol; 2 -Hydroxybenzenecarboxylic acid; O-Hydroxybenzoic acid; 2-Hydroxybenzoic Acid; Phenol-2-Carboxylic acid;
1.3. Nomor Identifikasi :
Nomor CAS :
69-72-7
Nomor OHS :
20315
Nomor RTECS :
V00525000
Nomor EC (EINECS) :
200-712-3
Nomor UN : -
Nomor EU Index : -
2. Sifat Fisika Kimia
2.1. Nama bahan

Asam Salisilat

2.2. Deskripsi
Rasa tajam, Titik lebur 318 0F (159 0C), Titik sublimasi 412 0F (211 0C) , Tekanan uap  @  114 0C   1.0 mmHg, Berat Molekul   138,13;  Kerapatan uap  ( udara = 1) =  4,8. Kerapatan relatif ( air = 1)  1,443 ;  
Kelarutan dalam air 0.22% . pH larutan 2,4. Larut dalam alkohol, eter, aseton;  Sedikit larut dalam kloroform, minyak terpentin, gliserol, lemak, minyak.  Sangat tidak larut dalam benzen.
2.3. Frasa Risiko, Frasa Keamanan dan Tingkat bahaya
Tingkatan  NFPA  ( skala  0 – 4 )  :
Kesehatan       2   =  tingkat keparahan tinggi

Kebakaran       1   =  dapat terbakar

Reaktivitas       0   =  tidak reaktif
Kasifikasi EC  ( Kalkulasi )  :
Xn    Berbahaya
R  22  =  berbahaya bila tertelan
R  36  =  menyebabkan iritasi pada mata
R  37  =  menyebabkan iritasi pada sal. pernafasan
3. Penggunaan
      Sebagai bahan pengawet  makanan, pembuatan metil salisilat, asetil salisilat atau salisilat yang lain;   lem perekat cair, lem, salep kulit, pewarna dan reagensia kimia analitik
4. Identifikasi Bahaya
4.1. Risiko utama dan sasaran organ
Bahaya utama terhadap kesehatan  :  iritasi saluran pernafasan, mata iritasi.
Bahaya fisik  :   Campuran debu dalam udara dapat terbakar atau meledak.
4.2. Rute Paparan
4.2.1. Paparan jangka pendek
Terhirup
Sama seperti efek pada paparan jangka pendek bila tertelan, iritasi, telinga berdengung, susah bernafas, sakit kepala, pusing.
Kontak dengan kulit
Sama seperti efek pada paparan jangka pendek bila tertelan, iritasi ringan, ruam.
Kontak dengan mata
Iritasi
Tertelan
Telinga berdengung, mual, muntah, diare, susah bernafas, asma, sakit kepala, mengantuk, pusing, gangguan keseimbangan tubuh, pendengaran hilang, gangguan penglihatan, kongesti paru-paru , kerusakan ginjal, kejang, koma.
4.2.2. Paparan jangka panjang
Terhirup
Tidak tersedia  informasi .
Kontak dengan kulit
Rasa panas seperti terbakar, telinga berdengung, mual, muntah, diare,   pusing.
Kontak dengan mata
Sama seperti efek  pada paparan jangka  pendek.
Tertelan
Sama seperi efek pada paparan jangka pendek, ruam.
5. Tancampurkan
Reaktivitas : Polimerisasi dengan perkembangan panas. Hindari penyimpanan dan penggunaan di atas temperatur kamar
Kondisi yang dihindarkan : Hindari panas, api, bunga api dan sumber api yang lain. Gas berbahaya dapat terakumulasi dalam tempat terbatas. Dapat menyala atau meledak dalam kontak dengan bahan yang mudah terbakar.
Inkompatibel dengan oksidator.
Dengan oksidator menyebabkan reaksi kuat
6.

Penyimpanan

  Simpan dan tangani sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan dan standar yang berlaku.
7. Toksikologi
7.1. Toksisitas
             Data manusia  : 
             TDLo  kulit – laki laki  57  mg/kg;  TDLo intermiten kulit -  wanita.
Data binatang
LD50 oral – tikus 891 mg/kg; LD50  kulit - tikus > 2 gm/kg, LD50 intraperitoneal- tikus 157 mg/kg; LD50 oral - mencit 480 mg/kg; LD50 intraperitoneal - mencit 300 mg/kg, LD50 s.c - mencit 520 mg/kg;  LD50  i.v - mencit 184 mg/kg; LD50  oral - kucing 400 mg/kg; LD50    oral - kelinci  1300 mg/kg; LD50  kulit- kelinci   > 10gm/kg.
7.2. Mutagenik
       Mutasi mikroorganisme- salmonella typhimurium  100 ug/lempeng  (+S9);  kerusakan DNA – Bacillus subtillis 5 mg/empeng;  Mutasi mikroorganisme – Saccharomyces serevisae  1 mmol/L  (-S9)   3 jam  ; penghambatan DNA – oral, mencit  100 mg/kg.
7.3. Informasi Ekologi
Toksisitas pada Ikan :   LC50  (mortalitas) Ide, Silver or golden orfe (Leuciscus idus)  90000 ug/ L  NR 
hour(s).
Toksisitas pada Invertebrata :  EC50  (Locomotor) Water flea (Daphnia magna)  143000  ug/L  NR 
hour(s).
Toksisitas pada Alga : EC10 (Population Growth) Green algae (Haematococcus pluvialis )  165000  ug/L 
NR hour(s)
8. Efek klinis
8.1. Keracunan akut
Terhirup
Asam salisilat :  inhalasi debunya dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan disertai batuk, bersin dan dispnea. Pemaparan yang berat dapat menyebabkan toksik setempat; tanda-tandanya termasuk sakit kepala, pusing, denyut nadi cepat, dan tinitus. Gejala-gejala lain yang juga terjadi mungkin sama seperti yang diuraikan akibat penelanan akut. Pemaparan asam salisilat sampai 0,9 mg/l  pada binatang menyebabkan salivasi dan pengeluaran cairan melalui hidung .
Kontak dengan kulit
Asam salisilat ;  Mungkin iritasi ringan. Kontak yang sering dan tertahan terutama  pada kulit yang rusak, dapat menyebabkan eritema, gatal dan mengelupas. Pada individu yang sensitif dapat berkembang  menjadi ruam kulit. Bila terkena kulit dengan area yang luas, terutama bagian luar atau kulit yang rusak, bila yang diserap cukup banyak dapat membentuk daerah toksik disertai gejala-gejala sama seperti yang diuraikan dalam penelanan akut.
Kontak dengan mata
Asam salisilat  :  Pada manusia, larutan 3% dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan conjunktiva sedang dan dapat mengalami kesembuhan yang sempurna.Penggunaan pada mata binatang dapat menyebabkan iritasi yang berat.
Tertelan
Asam salisilat  : Salisilat dengan dosis yang besar terutama dapat menyebabkan rasa sakit  seperti terbakar pada mulut, kerongkongan dan saluran pencernaan, mual, muntah, sakit kepala, pusing, letargi, tinnitus, kadang-kadang pendengaran hilang, penglihatan berkurang, kadang-kadang pernafasan cepat dan
mendalam, diare.  Dalam kasus yang berat mungkin terjadi demam, berkeringat, haus dan dehidrasi, gangguan keseimbangan, iritabilitas,  gelisah, konfusi, delirium, tremor, mengantuk, dan cenderung terjadi perdarahan. Dalam kasus yang berat, koma, konvulsi, oliguria, gangguan ginjal, edema pulmonal dan jarang, dapat terjadi edema cerebral. Gangguan klinis yang lain termasuk gangguan keseimbangan asam-basa, perubahan kadar gula darah dan hepatotoksisitas yang reversibel. Dalam kasus yang fatal, kematian biasanya karena gangguan pernafasan atau kolaps kardiovaskular.  Gejala-gejala atipical asma, edema angioneurotik. Dilaporkan rasa gatal berbintik bintik merah karena idiosinkrasi atau reaksi hipersensitivitas. Juga dilaporkan mempengaruhi  kesuburan  binatang.
8.2. Keracunan kronis
Terhirup :
Asam salisilat  :  Terhisap serbuk salisilat dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan disertai batuk, bersin dan dispnea. Pemaparan yang berat menyebabkan keracunan sistemik; gejala-gejala termasuk sakit kepala, pusing, denyut nadi cepat, dan tinitus. Gejala yang lain bisa jadi sama seperti yang diuraikan akibat penelanan akut. Pemaparan asam salisilat pada binatang sampai 0,9 mg/l  menyebabkan salivasi dan pengeluaran cairan melalui hidung.
Kontak dengan kulit  :  Asam salisilat : kontak yang berulang pada kulit atau dalam jangka waktu yang lama menyebabkan dermatitis, ditandai dengan iritasi atau terbakar ringan. Penyerapan yang kronik menyebabkan mual, muntah, diare, pusing, hilang pendengaran, tinitus, letargi, hipernea, gangguan fisik dan pengaruh lain seperti yang diuraikan akibat penelanan.
Kontak dengan mata  :  Asam salisilat ;  Pemaparan berulang atau dalam jangka waktu yang lama menjadi iritan dan dapat menyebabkan conjunktivitis.
Tertelan  :  Asam salisilat :  Penggunaan berulang dengan jumlah yang besar  menyebabkan salisilismus;  efeknya termasuk erupsi kulit, mempengaruhi pankreas dan gejala-gejala yang lain seperti yang  diuraikan akibat pemaparan akut.
Penelanan salisilat sedikit-sedikit pada wanita hamil  mempengaruhi kelahiran dengan berat badan rendah, meningkat  pada kematian perinatal, perdarahan antepartum dan postpartum, masa kehamilan yang lama dan bertambah  parah.
9. Pertolongan Pertama
9.1. Terhirup
Segera pindahkan dari paparan. Jika perlu gunakan masker    berkatup atau   peralatan    serupa  untuk   melakukan   pernafasan    buatan ( pernafasan penyelamatan ). Segera hubungi dokter.
9.2. Kontak dengan kulit
  Lepaskan segera  pakaian, perhiasan dan sepatu yang terkontaminasi. Cuci dengan sabun atau deterjen lunak dan bilas dengan air yang banyak hingga tidak ada sisa bahan kimia ( sekurang-kurangnya 15-20 menit ).  Bila perlu segera hubungi  dokter.
9.3. Kontak dengan mata
Segera cuci mata dengan air yang banyak atau larutan garam fisiologis ( 0.9% b/v ), buka sekali-sekali kelopak mata  bagian atas dan bawah hingga tidak ada lagi sisa bahan kimia . Segera hubungi dokter.
9.4. Tertelan
Segera hubungi Pusat Informasi Keracunan  atau dokter terdekat..  Jangan membuat korban yang tidak sadar untuk muntah atau memberi cairan untuk diminum. Bila terjadi muntah, letakkan posisi kepala lebih rendah dari panggul untuk mencegah aspirasi. Jika korban pingsan, letakkan posisi kepala menghadap kesamping   Segera hubungi dokter.
 
10. Penatalaksanaan
10.1. Stabilisasi
   
Langkah langkah pertolongan pertama pada kasus keracunan akut :
Ø      Periksalah apakah pasien sadar
Ø      Periksalah apakah pasien bernafas dan apakah ada sumbatan jalan nafas
       Prosedur evaluasi ini tidak boleh melebihi  3- 5 detik
      Jika pasien tidak bernafas atau ada gangguan pernafasan, lakukan  :
a. Penatalaksanaan jalan nafas, yaitu membebaskan jalan nafas untuk menjamin pertukaran udara.
b.
Penatalaksanaan fungsi pernafasan, yaitu memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernafasan buatan untuk menjamin cukupnya kebutuhan oksigen dan pengeluaran karbon dioksida.
c. Penatalaksanaan sirkulasi, mengembalikan fungsi sirkulasi darah.
d. Resusitasi jantung paru, yaitu untuk mengatasi henti jantung dan henti nafas.
10.2. Dekontaminasi
Dekontaminasi bertujuan untuk menurunkan paparan terhadap racun, mencegah kerusakan dan mengurangi absorbsi. Dekontaminasi yang dilakukan sedini mungkin dapat mencegah bahaya dan menyelamatkan nyawa
a. Dekontaminasi mata
Dilakukan sebelum membersihkan kulit :
-
Posisi pasien duduk atau berbaring dengan kepala tengadah dan miring ke sisi mata yang terkena atau terburuk kondisinya.
-
Secara perlahan bukalah kelopak mata yang terkena dan sejumlah air bersih dingin atau larutan NaCl 0,9% perlahan selama 15-20 menit.
- Hindari bekas air cucian mengenai wajah atau mata lainnya.
- Jika masih belum yakin bersih, cuci kembali selama 10 menit.
- Jangan biarkan pasien menggosok matanya.
- Tutuplah mata dengan kain kassa steril dan segera kirim/konsul ke dokter mata.
b. Dekontaminasi kulit (termasuk rambut dan kuku)
- Bawa segera pasien ke air pancuran terdekat.
-
Cuci segera bagian kulit yamg terkena dengan air mengalir air dingin atau hangat dan sabun minimal 10 menit.
-
Jika tidak ada air, sekalah kulit dan rambut pasien dengan kain atau kertas secara lembut. Jangan digosok.
-
Lepaskan pakaian, arloji dan sepatu yang terkontaminasi atau muntahannya dan buanglah dalam wadah/plastik tertutup.
- Penolong perlu dilindungi dari percikan, misalnya dengan menggunakan sarung tangan, masker hidung dan apron. Hati-hati untuk tidak menghirupnya.
- Keringkan dengan handuk yang kering dan lembut.
c.
Dekontaminasi gastrointestinal
-
Keracunan salisilat perlu dilakukan pengosongan lambung.
a.       Induksi muntah
Kontra indikasi
-         Pasien tidak sadar atau sangat mengantuk
-         Pasien kejang
-         Pemaparan lebih dari  4 jam
-         Jika tidak yakin aman, karena kemungkinan terjadi henti nafas mendadak dan kejang.
C a r a  : Dengan menyentuh pangkal tenggorokan dengan jari   atau ujung sendok..
Jika induksi muntah tidak berhasil, dapat diberi Sirup Ipekak  30 menit setelah penelanan ( cukup  efektif ).
                Dosis sirup Ipekak :    Dewasa           30  ml
       Anak-anak       15  ml
      b.   Aspirasi dan bilas lambung.
Efektif bila dilakukan  2 – 4 jam  pertama dan dengan teknik yang baik.
Indikasi segera dilakukan setelah tertelan, atau penderita yang koma atau dengan resiko konvulsi.  Lindungi jalan pernafasan dengan posisi Trendelenburg dan  left lateral decubitus atau intubasi endotrakheal.
Setelah diawasi adanya kejang, lakukan bilas lambung.  Volume bilas kurang lebih sama dengan cairan yang diberikan.   
c.   Arang aktif
Dosis  tunggal  ;   1 gram/kg  atau dewasa   30  -  100  gr
Anak-anak      15  –  30    gr .
Cara pemberian  :
Dicampur rata dengan perbandingan  5 – 10 gram arang aktif dengan  100 -  200  ml  air sehingga seperti sop kental.
Dewasa    :   10   gram  tiap  20 menit   
Anak-anak      5   gram  tiap  20 menit
d.   Katartik  :   Saline atau Sorbitol    
Catatan  untuk dokter : Bila tertelan pertimbangkan bilas    lambung, katartik dan tertelannya karbo adsorbent.    Hindari depresan. Pertimbangkan pemberian oksigen.
11. Batas paparan dan alat pelindung diri
Ventilasi  :  Sediakan penghisap udara setempat (local exhaust) atau sistem ventilasi proses tertutup. Bila bahan mempunyai konsentrasi ledakan, gunakan peralatan ventilasi tahan ledakan.  Pastikan dipatuhinya paparan yang dapat diterapkan.
Proteksi mata  : Gunakan kaca mata pengaman dan pelindung muka tahan percikan. Sediakan kran pencuci mata keadaan darurat (emergency eye wash fountain) dan semprotan air deras (quick drench shower) dekat area kerja.
     Pakaian           :    Kenakan pakaian tahan bahan kimia yang sesuai.
     Sarung tangan :  Pakailah sarung tangan tahan bahan kimia yang sesuai.
12. Manajemen Pemadam Kebakaran
Bahaya kebakaran dan ledakan  : Bahaya kebakaran kecil/ sedikit. Campuran debu dalam udara dapat menyala atau meledak
Media pemadam kebakaran :  kimia kering biasa, karbondioksida, air, busa biasa.
Kebakaran besar :  gunakan busa biasa atau  siram dengan semprotan air yang halus.
Pemadaman api : Pindahkan wadah dari area kebakaran jika mungkin tanpa resiko. Jangan menyebarkan tumpahan bahan dengan semprotan air bertekanan tinggi.  Bendung/ sekat kemudian dimusnahkan.   Gunakan media pemadam kebakaran yang tepat di sekeliling api. Hindari terhirupnya bahan atau hasil pembakarannya. Bertahan di tempat arah angin dan menghindar dari tempat yang lebih rendah. Air atau busa dapat menyebabkan berbuih.
13.  Manajemen tumpahan
Pelepasan di tempat kerja
Tumpahan yang banyak : Kumpulkan tumpahan bahan dalam wadah yang tepat untuk dimusnahkan. Hindari penyebaran debu. Bersihkan residu dengan vakum penyaring partikel  evisiensi tinggi.
14. Daftar Pustaka
    Sentra Informasi Keracunan et al , 2001,Pedoman Penatalaksanaan Keracunan Untuk Rumah Sakit, Sentra
    Informasi Keracunan Ditjen POM Depkes RI, Jakarta.
    OHS,  1994 - 1997, MDL  Information  Systems,  INC,  1420  Danelson  Pike, Suite A-18. Nashville.TN 37217.
    Susan Budavari (Ed), 1996, “The Merck Index”, Twelfth Edition, Merck & CO, INC, Whitehouse Station, N.J, 
    Page1414
    Richard J.Lewis,Sr, 1993, "Condensed Chemical Dictionary", Twelfth Edition, Van Nostrand Reinhold
    Company, New York, page  1068

No comments:

Post a Comment