EKSTRAKSI
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat
berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang
berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik.
Proses
ekstraksi dapat berlangsung pada:
- Ekstraksi parfum, untuk mendapatkan komponen dari bahan yang wangi.
- Ekstraksi cair-cair atau dikenal juga dengan nama ekstraksi solven. Ekstraksi jenis ini merupakan proses yang umum digunakan dalam skala laboratorium maupun skala industri.
- Leaching, adalah proses pemisahan kimia yang bertujuan untuk memisahkan suatu senyawa kimia dari matriks padatan ke dalam cairan.
Bahan
Material atau bahan adalah zat atau benda yang dari mana sesuatu dapat dibuat darinya, atau
barang yang dibutuhkan untuk membuat sesuatu.
Material adalah sebuah masukan dalam produksi. Mereka seringkali adalah bahan
mentah - yang belum diproses, tetapi kadang kala telah diproses sebelum
digunakan untuk proses produksi lebih lanjut. Umumnya, dalam masyarakat
teknologi maju, material adalah bahan konsumen yang belum selesai. Beberapa
contohnya adalah kertas dan sutra.
|
Daftar isi
|
Material
teknik adalah jenis material yang banyak dipakai dalam proses rekayasa dan
industri. Material teknik dikelompokkan menjadi 6 golongan, a.l.:
- Logam : baja, besi cor, titanium, logam paduan, dll
- Polimer : polietilan, polipropilen, polikarbonat, dll
- Karet : isopren, neopren, karet alam, dll
- Gelas : gelas soda, gelas silika, gelas borosilikat
- Keramik : alumina, karbida silikon, nitrida silikon dll
- Hibrida : komposit, sandwich, foam Sifat-sifat bahan
- Sifat mekanikal, meliputi kekuatan tarik dan tekan, elastisitas, kekuatan kejut, dll
- Sifat termal, meliputi konduktivitas panas, temperatur kerja maksimum, koefisien ekspansi termal, difusivitas termal, dll
- Sifat listrik dan magnetik, meliputi konduktivitas listrik, dielektrika, magnetisasi, dll
- Sifat optik, meliputi refraktivitas, reflektivitas, absostif, dll
- Sifat kimia, meliputi korosifitas, oksidasi, ketahanan terhadap sinar ultraviolet, dll
karena 2+5
sama dengan tujuh
EKSTRAKSI PADAT CAIR (DIFFUSER) NIRA TEBU
March 25th, 2009 | Author:
Pada saat
ini di Indonesia terdapat 61 pabrik gula (PG) dimana pada proses pemerahan nira
dari tebu kebanyakan memakai gilingan. Ada metode lain yang dapat digunakan
untuk memerah nira dari tebu, yaitu menggunakan ‘DIFFUSER” atau ekstraksi padat
cair (EPC). Dari 61 PG hanya ada 2 pabrik gula yang menggunakan diffuser yaitu
PG. Kedawung (1984) dan PG. Bungamayang (1994).
Eksperimen
penggunaan difusi untuk mengesktrak nira dari tebu dimulai sejak 1886 – 1889
oleh Spencer di Lousiana. Diffuser skala pilot telah dicoba dan dan dievaluasi
pada tahun 1950 an di pabrik gula di Hawaii. Pada kongres XII di Puerto Rico
ekstraksi nira menggunakan diffuser menjadi topik pembahasan yang hangat.
Keuntungan
dari pemakaian alat EPC antara lain dengan mudah dapat mencapai ekstraksi 97 –
98 %, biaya operasi lebih rendah, kebutuhan tenaga lebih rendah dan demikian
pula investasi yang diperlukan relatif lebih rendah daripada sistim gilingan.
Suhu yang cukup tinggi diperlukan untuk memperbaiki denaturasi dari sel-sel
tebu, sanitasi dan viskositas. Pemberian kapur sampai pH yang ditetapkan untuk
mengurangi proses inversi dan korosi. Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya
korosi dan abrasi maka permukaan dari diffuser paling sedikit setinggi lapisan
cacahan (2 meter) dan penampung nira dilapisi dengan baja tahan karat.
Untuk
mencapai hasil ekstraksi yang tinggi seperti halnya di gilingan, diperlukan
pencacahan tebu yang cukup, imbibisi yang cukup, suhu dalam diffuser sekitar 750
C. pH dalam EPC 6 – 6.5 dan waktu ekstraksi 50 – 60 menit. Sirkulasi yang
optimal dalam diffuser dapat menghasilkan ekstraksi yang cukup tinggi pada
imbibisi dibawah 300 % sabut dan dengan pengaturan aliran nira / deflektor.
PROSES
EKSTRAKSI PADAT CAIR (diffuser)
Proses
ekstraksi gula dari batang tebu giling sebelum dimasukkan ke gilingan atau alat
diffuser terlebih dahulu melalui peralatan preparasi tebu, antara lain : cane
cutter, shredder, hammer shredder dll, sehingga dihasilkan cacahan tebu atau
preparation index (PI) yang baik.
Pencacahan
dilakukan sampai batas tertentu 90 – 92 % untuk selanjutnya hasil cacahan
dimasukkan kegilingan atau ke dalam alat diffuser dengan feeder sehingga
cacahan tebu dapat terbagi rata selebar diffuser. Dalam pelaksanaannya cacahan
tebu tersebut bergerak dari arah depan ke belakang melalui rantai pengangkut
dengan kecepatan 0.9 – 1.2 m/min atau 50 – 60 menit, supaya nira dalam diffuser
tidak tinggal terlalu lama dan mengurangi inversi karena seringnya sirkulasi.
Alat EPC
(diffuser) tipe horisontal terdiri dari 12 tray, gambar 1. Tiap-tiap tray
terdapat deflektor. Kegunaan deflektor adalah untuk mengatur jatuhnya nira yang
dipompa atau disirkulasi dari tray berikutnya dan alat ini dapat dirubah-rubah
sesuai dengan kapasitas giling. Pada tray no. 2 dan no. 10 dipasang lifting screw sepanjang
lebar diffuser, gunanya untuk mengaduk cacahan tebu supaya tidak padat. Untuk
mengurangi terjadinya inversi, maka ditambahkan susu kapur sehingga pH nira
terjaga pada pH 6 – 6.5.
Pemberian
air imbibisi panas kedalam EPC dilakukan dengan countercurrent dimana cacahan
tebu bergerak dari depan ke belakang dan cairan dipompa dari belakang ke depan
sehingga proses ekstraksi akan berjalan dengan sendirinya. Pada tray paling
depan atau tray no. 1 dihasilkan konsentrasi nira yang paling tinggi atau
kandungan saccharosanya tinggi, makin ke belakang kandungan saccharosanya makin
rendah. Nira pada tray no. 1 selanjutnya dipompa ke proses pengolahan untuk
proses lebih lanjut sampai menghasilkan gula produk.
Ampas yang
keluar dari diffuser melewati sebuah dewatering drum untuk mengurangi kandungan
airnya, selanjutnya ampas diperah pada dewatering mill dimana nira hasil
pemerahan dipompa dan dikembalikan ke diffuser dan ampasnya untuk bahan bakar
boiler.
Keuntungan
dan Kerugian pemakaian EPC (Hugot, 1986) :
1. Keuntungan teknis
- Penggunaan power lebih rendah dibandinkan dengan gilingan.
- Retention time yang lebih lama pada EPC berpengaruh terhadap ekstraksi, sehingga dapat dicapai > 97 %
- Suhu kerja yang tinggi 80 – 900 C mengakibatkan kenaikan ekstraksi disamping mereduser munculnya bakteri yang mengaikbatkan inversi pada sukrosa.
- Beban juicer rendah rendah, karena nira di diffuser suhunya tinggi
- Penggunaan tenaga operator lebih sedikit.
- Cara operasional alat EPC lebih mudah
2. Keuntungan dari
segi ekonomis
· Harga EPC
± 70 % lebih rendah dari gilingan dengan kapasitas yang sama.
· Biaya
perawatan lebih murah.
· Peningkatan
ekstraksi ± 3 %.
3. Kerugian :
- Pemakaian uap lebih besar daripada gilingan.
- Kasaman dalam diffuser harus dijaga supaya tidak terjadi korosi dan inversi.
- Pemakaian imbibisi lebih besar, sehingga menambah beban evaporator.
Menurut Rein dan Ingham (1992) mengatakan jumlah air
imbibisi bukan merupakan faktor utama untuk mendapatkan ekstraksi yang tinggi
akan tetapi ditentukan oleh bagaimana cara mengatur sirkulasi yang baik, dapat
diharapkan kecepatan perkolasi yang maksimal sehingga bisa didapatkan pula
hasil ekstraksi yang tinggi.
Pengaruh kondisi operasional terhadap ekstraksi, antara
lain :
1. Ukuran
partikel
Biasanya diukur dengan angka preparation index (PI) yang
ditentukan oleh kesiapan alat pencacah (cane cutter, shredder, hammer shredder)
2. Perbedaan
konsentrasi
Ditentukan dengan jumlah dan pencampuran imbibisi nira
dan air yang diberikan dipompa dengan cacahan tebu di masing-masing tray.
3. Kecepatan
perkolasi
Kecepatan imbibisi nira atau air dalam menembus lapisan
cacahan tebu dalam tray. Kecepatan perkolasi tentunya akan dipengaruhi oleh
ukuran partikel, bila ukuran partikel terlalu halus akan mengakibatkan banjir
atau dengan perkataan lain jumlah imbibisi yang ditambahkan lebih cepat
dibanding yang mampu menembus cacahan tebu
4. Waktu
tinggal
Pengaruh positif atas kenaikan waktun tinggal terhadap
ekstraksi harus diperhitungkan dengan kenaikan inversi dan peningkatan warna
nira apabila waktu tinggal terlalu lama
5. Suhu dan
pH
Suhu yang tinggi akan berpengaruh positif terhadap
ekstraksi karena adanya peningkatan kecepatan difusi dan penurunan viskositas
namun akan berpengaruh negatif terhadap kecepatan perkulasi karena cacahan tebu
akan semakin kompak. pH yang terlalu tinggi akan menurunkan kecepatan perkolasi
hal ini mungkin karena pengaruh endapan kalsium fosfat pada lapisan tebu,
tetapi pH yang terlalu rendah akan menyebabkan inversi.
No comments:
Post a Comment