BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ciri khas yang paling mencolok dari logam alkali dan alkali tanah adalah
kereaktifannya yang luar biasa besar. Kebanyakan orang tidak mengenal
logam natrium, kalium dan kalsium karena logam-logam ini begitu aktif
sehingga mereka tak terdapat sebagai unsur, bila bersentuhan dengan
udara atau air akan terlihat korosi. Tak satupun dari unsur-unsur
golongan IA dan IIA terdapat di alam dalam keadaan unsurnya, semua unsur
alkali terdapat dalam senyawa alam sebagai ion unipositif
(positif-satu) dan semua unsur alkali tanah terdapat sebagai
iondipositif (positif-dua).
Dalam sistem periodik yang bersifat logam yaitu unsur-unsur golongan s
(Alkali = golongan IA dan Alkali tanah = golongan IIA). Logam Alkali
terdiri dari beberapa unsur diantaranya, Litium (Li), Natrium (Na),
Kalium (K), Rubidium (Ra), Cesium (Cs) dan Fransium (Fr). Pada golongan
Alkali tanah terdiri dari enam unsur, yaitu Berilium (Be), Magnesium
(Mg), Kalsium (Ca), Stronsium (Sr), Barium (Ba) dan Radium (Ra).
Berdasarkan hal tersebut maka dilakukan percobaan ini, untuk dapat
mengetahui sifat-sifat logam alkali dan alkali tanah dengan cara
analisis uji nyala dan kelarutan.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari percobaan ini yaitu, bagaimana mengetahui sifat
kelarutan dan reaksi nyala yang terbentuk dari logam alkali dan alkali
tanah.
C. Tujuan
Untuk mengetahui sifat logam alkali dan alkali tanah dengan analisis uji nyala dan kelarutan.
D. Manfaat Percobaan
1. Mahasiswa dapat mengetahui sifat kelarutan logam alkali dan alkali tanah
2. Mahasiswa dapat membedakan warna nyala yang terbentuk dari setiap unsur logam alkali tanah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Logam Alkali
Salah satu ciri khas dari logam alkali adalah memiliki spektrum emisi.
Sprektum ini dihasilkan bila larutan garamnya dipanaskan dalam nyala
Bunsen, atau dengan mengalirkan muatan listrik pada uapnya. Ketika atom
diberi energi (dipanaskan) elektronnya akan tereksitasi ke tingkat yang
lebih tinggi. Ketika energi itu dihentikan, maka elektronnya akan
kembali lagi ke tingkat dasar sehingga memancarkan energi radiasi
elektromagnetik.
Lagam alkali merupakan golongan IA pada unsur periodik yang terletak
pada lajur paling kiriyaitu pada grup 1. Unsur-unsur golongan alkali
(IA) terdiri dari tujuh unsur yaitu, Hidrogen (H), Litium (Li), Natrium
(Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Cesium (Cs) dan Fransium (Fr).
Unsur-unsur golongsn IA merupakan unsur logam alkali kecuali hidrogen
(H) yang merupakan unsur non logam. Unsur logam alkali merupakan unsur
yang paling elektropositif dibandingkan dengan unsur-unsur lain yang
seperiode, artinya unsur logam alkali mudah melepaskan 1 elektron
valensinya untik mencapai konfigurasi elektron gas mulia yang stabil dan
membentuk ion positif, contohnya Na (z = 11) melepaskan satu elektron
dan membentuk ion Na+ (z’= 10) yang konfigurasi elektronya menyerupai
atom unsur gas mulia Ne (z = 10).
Golongan alkali terdiri dari Li, Na, K, Rb, Cs, Fr. Logam alkali ini
berwarna keperakan berupa padatan yang sangat reakstif karena mempunyai
elektron terluar 1 elektron. Logam alkali mempunyai titik leleh yang
sangat rendah. Biasanya disimpan dalam minyak tanah untuk mencega
oksidasi oleh udara . bersifat sangat lunak sehingga muda dipotong
menggunakan pisau/spatula biasa dan sifat kimia dari golongan alkali
ialah, merupakan logam yang sangat reaktif, pereduksi yang baik bereaksi
kuat dengan air membentuk hidrogen, reaksi eksotermik dan eksplosif
serta larut dalam amonium.
Unsur-unsur logam alkali merupakan unsur yang sangat reaktif dan mudah
bereaksi dengan unsur-unsur lain. Selain itu unsur-unsur logam alkali
bersifat sebagai reduktor yang kuat dan dalam satu golongan semakin ke
bawah semakin kuat sefat reduktornya. Unsur natrium (Na) dan kalium (K)
merupakan unsur-unsur logam alkali yang paling banyak terdapat di alam
dibandingkan dengan unsur logam alkali lainnya, sedangkan unsur logam
alkali yang paling sedikit terdapat di alam adalah unsur fransium (Fr)
yang bersifat radioaktif.
Logam Alkali sangat reaktif, karena itu harus disimpan dalam minyak.
Sifat yang umum dimiliki oleh logam alkali adalah sebagai konduktor
panas yang baik, titik didih tinggi, permukaan berwarna abu-abu
keperakan. Atom logam alkali bereaksi dengan melepaskan 1 elektron
membentuk ion bermuatan +1. Na → Na+ + 1 e-. Susunan elektron dari
2.8.1, yang merupakan konfigurasi elektron gas mulia. Sifat lain logam
alkali, memiliki titik leleh rendah, densitas rendah, sangat lunak.
Kecenderungan golongan alkali dengan meningkatnya nomor atom yaitu,
Titik leleh dan titik didih menurun, unsur lebih reaktif, ukuran Atom
membesar (jari-jari makin besar), densitas meningkat proportional dengan
meningkatnya massa atom, kekerasan menurun. Jika dipanaskan diatas
nyala api memberikan warna yang spesifik. Litium – merah, natrium –
kuning, Kalium – lila/ungu, Cesium – biru.
Litium (Li) dan natrium (Na) dapat diperoleh dengan elektrolisis garam
leburan atau eutetik bertitik leleh rendah seperti CaCl2 + NaCl, karena
titik lelehnya yang rendah dan mudah menguap, K, Rb dan Cs tidak dapat
dengan mudah dibuat melalui elektrolisis namun dapat diperoleh dengan
mengolah lelehan klorida dengan uap natrium. Logam-logam dimurnikan
dengan destilasi. Li, Na, K dab Rb adalah keperakan tetapi Cs berwarna
kuning keemasan, karena hanya terdapat satu elektron valensi tiap atom
logam, energi ikatan dalam kemasan rapat kisi logam relatif lemah. Oleh
karenanya logam-logam tersebut lunak dengan titik leleh yang rendah.
Na-K dengan 77,2% K mempunyai titik leleh – 12.3.
Kalium (K) yang terdapat di alam bersifat sedikit radioaktif karena
mengandung kira-kira 0,02% isotop radioaktif 40K dengan waktu paruh 1.3 x
109 tahun. Ternyata, proporsi radiasi yang cukup signifikan dihasilkan
oleh tubuh manusia berasal dari isotop 40K. Ekstraksi logam kalium dalam
sel elektrolitik akan sangat berbahaya karena sifatnya yang sangat
reaktif. Proses ekstraksi melibatkan reaksi logam natrium dengan lelehan
kalium klorida pada temperatur 850oC, menurut persamaan reaksi:
KCl(l) + Na(l) K(g) + NaCl(l)
Kesetimbangan reaksi tersebut sesungguhnya menggeser ke kiri pada
temperatur 850oC, kalium berupa gas (titik didih kalium 766 oC dan titik
didih natrium 890 oC). Oleh karena itu dengan prinsip Le
Chatelier, kesetimbangan reaksi dapat didorong ke kanan dengan memompa
gas kalium hasil yang berwarna hijau keluar dari sistem untuk kemudian
dipadatkan.
B. Logam Alkali Tanah
Logam alkali tanah berwarna putih keperakan dan mempunyai densitas
(rapatan) relatif rendah yang semakin besar dengan naiknya nomor atom
kecuali kalsium (Ca). ikatan metalik logam-logam alkali tanah lebih kuat
daripada ikatan ikatan metalik logam alkali. Walaupun densitas naik
dengan naiknya nomor atom seperti halnya golngan alkali, titik leleh dan
entalpi atomisasi berubah hanya sedikit saja berbeda dengan golongan
alkali. Logam alkali tanah kurang reaktif artinya kurang elektropositif
daripada logam alkali, namun lebih reaktif disbanding logam-logam yang
lain. Ion logam alkali tanah selalu mempunyai tingkat osidasi +2 dan
senyawanya bersifat stabil, padatan bersifat ionik, tak berwarna kecuali
hadirnya anionik berwarna. Sebagian sifat kovalen dijumpai untuk
senyawa magnesium, terlebih-lebih senyawa berkalium didominasi oleh
ikatan kovalen.
Dibandingkan dengan logam alkali pada periode yang sama, titik leleh dan
titik didih lebih tinggi, lebih keras, lebih kuat dan lebih padat. Hal
ini disebabkan karena terdapat dua delokalisas elektron per ion dalam
kristal yang memberikan gaya elektronik lebih besar dengan muatan ion,
M2+ yang lebih tinggi. Sifat kimia sangat mirip misalnya dalam
pembentukan senyawa ionik tetapi berbeda dalam rumus dan reaktivitas
lebih rendah karena energi ionisasi (IE) pertama lebih tinggi dan
terdapatnya energi ionisasi kedua membentuk ion M2+ yang stabil.
Bilangan oksidasi senyawa selalu +2 di dalam senyawa, dua elektron s
terluar lepas, sedangkan energi ionisasi ketiga sangat tinggi untuk
membentu ion +3. Golongan 2 yang stabil membentuk konfigurasi elektron
gas mulia. Contoh; ion kalsium, Ca2+, 2,8,8 atau1s22s22p63s23p6, pada
umumnya makin ke bawah dalam satu golongan nomor atom cenderung makin
meningkat. Energi Ionisasi pertama atau kedua menurun, karena jari-jari
atom makin besar akibat adanya ekstra kulit yang terisi. Elektron
terluar sangat jauh dari inti sehinga tertarik lemah oleh inti sehingga
lebih sedikit energi yang diperlukan untuk melepaskannya.
Berkelium (Be) diperoleh dari mineral (Be3Al2(SiO3)6). Berkelium bebeda
dengan logam alkali tanah lainnya, karena Be dan senyawanya sangatlah
beracun sehingga memerlukan penanganan khusus. Berkelium merupakan
alkali tanah yang paling ringan biasanya digunakan dalam campuran
allois dengan Ni, Cu dan logam lainnya karena bisa meningkatkan kekuatan
logam dan melindungi dari korosi.
Magnesium (Mg) dapat dihasilkan dengan beberapa cara. Sumber yang
penting adalah batuan dolomite dan air laut yang mengandung 0,13% Mg.
pertama-tama dolomite dikalsinasi menjadi campuran CaO/MgO dari mana
kalsium akan dihasilkan dengan penukar ion menggunakan air laut.
Kesetimbangannya disukai karena kelarutan Mg(OH)2 lebih rendah daripada
Ca(OH)2. Magnesium berwrna putih keabu-abuan dan mempunyai permukaan
pelindung lapisan tipis oksida. Jadi ia tidak diserang oleh air meskipun
kemungkinannya sangat kuat, kecuali bila berupa amalgam. Meskipun
demikian ia mudah larut dalam asam encer. Magnesium digunakan dalam
aliasi konstruksi sinar dan untuk pembuatan pereaksi Grignard dengan
interaksinya terhadap alkali atau aril halida dsalam larutan encer.
Stronsium (Sr) merupakan unsur logam alkali tanah yang reaktif, mudah
ditempa, mudah dibentuk dan berwarna putih perak ketika baru dipotong.
Stronsium dapat segera teroksidasi di udara luar dan bereaksi dengan air
membebtuk stronsium hidroksida dan gas hidrogen. Di alam stronsium
tidak pernah ditemukan dalam keadaan bebas, tetapi dalam bentuk senyawa
Strontianit (SrCO3) dan Selestit (SrSO4). Sedangkan dalam laboratorium
dapat dibuat melalui elektrolisis senyawa-senyawa karbonat, sulfat atau
klorida dari stronsium. Stronsium (Sr) digunakan pada pembuatan kembang
api, petasan dan lampu jalan kereta api, digunakan pada pembuatan gula
pasir dan isotop stronsium-85 digunakan untuk mendeteksi kanker tulang.
C. Uji nyala
Teknik ini dikatakan uji warna nyala atau kadang disingkat uji nyala
adalah metoda analisis untuk logam. Prinsipnya sederhana, melihat
perubahan warna nyala api. Karena beberapa logam memberikan warna nyala
yang khas bila dibakar pada api oksidasi. metoda ini sebenernya metode
klasik tapi masih cukup akurat untuk analisis kualitatif, setidaknya
memberikan arah yang sangat jelas untuk analisis logam. Alat yang
dipakai hanyalah Kawat nikrom (sebuah alloy nikel-kromium) atau kawat
platina, harus logam ini yang dipakai karena kedua kawat tersebut tidak
akan memberikan warna bila dibakar, dan harus hati-hati dengan kawat
ose, karena bentuknya yang agak mirip.
Tabel 1. Hasil Uji Nyala
Logam gambar hasil
Natrium
Kalium
Litium
Kalsium
Tembaga
Keterangan : Li ( merah), Na (orange), K (pink), Rb (merah atau
lembayung kemerah-merahan), Cs (biru lembayung), Ca (orange-merah), Sr
(merah), Ba (hijau pucat), Cu (biru-hijau), Pb (putih keabu-abuan).
Warna-warna yang ada pada tabel tersebut hanya merupakan panduan. Hampir
setiap orang yang melakukan uji nyala berbeda dalam mengamati dan
menjelaskan warna yang terjadi. Sebagai contoh, beberapa orang
menggunakan kata "merah" beberapa kali untuk menunjukkan beberapa warna
yang bisa sangat berbeda satu sama lain. Disamping itu, ada juga yang
menggunakan kata seperti "merah padam" atau "merah tua" atau "merah
gelap", tapi tidak semua orang mengetahui perbedaan antara kata-kata
yang dipakai untuk menunjukkan warna ini.
Warna nyala dihasilkan dari pergerakan elektron dalam ion-ion logam yang
terdapat dalam senyawa. Sebagai contoh, sebuah ion natrium dalam
keadaan tidak tereksitasi memiliki struktur 1s2 2s2 2p6 . Jika
dipanaskan, elektron-elektron akan mendapatkan energi dan bisa berpindah
ke orbital kosong manapun pada level yang lebih tinggi – sebagai
contoh, berpindah ke orbital 7s atau 6p atau 4d atau yang lainnya,
tergantung pada berapa banyak energi yang diserap oleh elektron tertentu
dari nyala. Karena sekarang elektron-elektron berada pada level yang
lebih tinggi dan lebih tidak stabil dari segi energi, maka
elektron-elektron cenderung turun kembali ke level dimana sebelumnya
mereka berada – tapi tidak mesti sekaligus.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
A. Waktu dan Tempat
Waktu dan tempat dilaksanakanya percobaan ini adalah sebagai berikut:
Hari/Tanggal : Jumat, 29 April 2011
Waktu : PukuL 08.00-11.00 WITA
Tempat : Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar,
Samata Gowa.
B. Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu, gelas kimia 300 mL,
tabung reaksi, rak tabung, kawat platina, gegep kayu, pinset dan botol
semprot.
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu, aquades, asam klorida
(HCl) 10%, barium klorida (BaCl2) 0,01N, barium klorida (BaCl2 PA),
kalsium klorida (CaCl2) 0,01N, kalsium klorida (CaCl2 PA), magnesium
klorida (MgCl2) 0,01N, magnesium klorida (MgCl2 PA), natrium klorida
(NaCl) 0,05M, natrium klorida (NaCl PA), natrium hidroksida (NaOH) 1N,
natrium karbonat (Na2CO3) 0,01N, natrium sulfat (Na2SO4) 0,01N,
stronsium klorida (SrCl2) 0,01N, stronsium klorida (SrCl2 PA).
C. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut:.
1. Uji nyala
Membersihkan kawat platina dengan cara mencelupkan ke dalam HCl 10%,
kemudian panaskan kawat tersebut kedalam nyala, sampai tidak
menghasilkan warna lain (kawat yang bersih tidak mengubah warna).
Kemudian celupkan kawat ke dalam larutan uji dan kedalam larutan
padatnya, kemudian panaska dan amati warna yang dihasilkan.
2. Uji kelarutan logam alkali dan alkali tanah
a. Memasukkan 1 mL larutan MgCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan NaOH 1 N dan mengamati
kelarutannya.
b. Memasukkan 1 mL larutan CaCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan NaOH 1 N dan mengamati
kelarutannya.
c. Memasukkan 1 mL larutan SrCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan NaOH 1 N dan mengamati
kelarutannya.
d. Memasukkan 1 mL larutan BaCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan NaOH 1 N dan mengamati
kelarutannya.
e. Memasukkan 1 mL larutan MgCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan Na2SO4 0,01 N dan mengamati
kelarutannya.
f. Memasukkan 1 mL larutan CaCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan Na2SO4 0,01 N dan mengamati
kelarutannya.
g. Memasukkan 1 mL larutan SrCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan Na2SO4 0,01 N dan mengamati
kelarutannya.
h. Memasukkan 1 mL larutan BaCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan Na2SO4 0,01 N dan mengamati
kelarutannya.
i. Memasukkan 1 mL larutan MgCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan Na2CO3 0,01 N dan mengamati
kelarutannya.
j. Memasukkan 1 mL larutan CaCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan Na2CO3 0,01 N dan mengamati
kelarutannya.
k. Memasukkan 1 mL larutan SrCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan Na2CO3 0,01 N dan mengamati
kelarutannya.
l. Memasukkan 1 mL larutan BaCl2 0,01 N ke dalam tabung reaksi, kemudian
menambahkan tetes demi tetes larutan Na2CO3 0,01 N dan mengamati
kelarutannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Uji Kelarutan
Larutan NaOH Na2SO4 Na2CO3
MgCl2 sukar larut larut Larut
CaCl2 sukar larut larut Larut
SrCl2 sedikit larut sedikit larut sedikit larut
BaCl2 Larut sukar larut sukar larut
2. Uji Nyala
Larutan Warna
NaCl 0,05M kuning
MgCl2 0,01N putih
CaCl2 0,01N orange
SrCl2 0,01N merah
BaCl2 0,01N hijau
B. Reaksi
1. Uji nyala
a. BaCl2 (l) + O2 → BaO2(s) + Cl2 (g)
b. NaCl (l) + O2 → NaO(s) + Cl2 (g)
c. SrCl2 (l) + O2 → SrO2(s) + Cl2 (g)
d. CaCl2 (l) + O2 → CaO2(s) + Cl2 (g)
e. MgCl2 (l) + O2 → MgO2(s) + Cl2 (g)
2. Uji kelarutan alkali dan alkali tanah
a. MgCl2 (l) + 2NaOH(l) → Ba(OH)2(l) + 2 NaCl (l)
b. CaCl2 (l) + 2NaOH(l) → Ba(OH)2(l) + 2 NaCl (l)
c. SrCl2 (l) + 2NaOH(l) → Ba(OH)2(l) + 2 NaCl (l)
d. BaCl2 (l) + 2NaOH(l) → Ba(OH)2(l) + 2 NaCl (l)
e. MgCl2 (l) + Na2SO4(l) → MgSO4(l) + 2 NaCl (l)
f. CaCl2 (l) + Na2SO4(l) → CaSO4(l) + 2 NaCl (l)
g. SrCl2 (l) + Na2SO4(l) → SrSO4(l) + 2 NaCl (l)
h. BaCl2 (l) + Na2SO4(l) → BaSO4(l) + 2 NaCl (l)
i. MgCl2 (l) + Na2CO3(l) → MgCO3(l) + 2 NaCl (l)
j. CaCl2 (l) + Na2CO3(l) → CaCO3(l) + 2 NaCl (l)
k. SrCl2 (l) + Na2CO3(l) → SrCO3(l) + 2 NaCl (l)
l. BaCl2 (l) + Na2CO3(l) → BaCO3(l) + 2 NaCl (l)
C. Pembahasan
Pada percobaan alkali dan alkali tanah dilakukan dua uji yaitu uji nyala
dan uji kelarutan. Uji nyala adalah uji warna nyala untuk golongan
alkali, alkali tanah dan transisi dalam sistem periodik unsur. Jika
suatu atom diberi energi (panas, radiasi, listrik) maka elektron yang
terletak pada kulit terluar akan tereksitasi ke tingkat energi yang
lebih tinggi. Untuk kembali ke tingkat dasar, atom tersebut akan
melepaskan energi dengan cara memancarkan emisi yang khas untuk atom
tertentu. Energi yang dilepaskan dapat dideteksi dengan mata atau
menggunakan alat spektrofotometer yang terlihat sebagai warna nyala,
yang mana setiap atom akan menghasilkan warna nyala tertentu.
Pada percobaan uji nyala digunakan kawat platina, pemilihan kawat
platina karena sifatnya yang stabil, tidak bereaksi dengan logam atau
larutan uji. Sebelum digunakan kawat platina terlebih dahulu dicelupkan
ke dalam larutan HCl 10%, kemudian dipijarkan diatas nyala api.
Tujuannya untuk menghilangkan sisa logam atau kotoran-kotoran yang masih
menempel pada kawat platina. Kawat platina telah bersih jika tidak
memberikan warna nyala. Setelah dipijarkan, kawat platina dicelupkan ke
dalam larutan uji dan diberi serbuk logam yang sesuai dengan larutan
uji lalu dipijarkan dan diamati warna nyala yang dihasilkan. Nyala yang
digunakan adalah nyala oksidasi pada daerah zona mengoksid bawah dimana
pada daerah ini terdapat kelebihan oksigen sehingga baik digunakan pada
uji nyala.
Dari hasil percobaan diperoleh warna nyala untuk larutan NaCl warna
kuning, larutan BaCl2 warna hijau, larutan MgCl2 warna putih, larutan
CaCl2 warna jingga dan larutan SrCl2 warna merah. Setiap larutan
menghasilkan warna nyala yang berbeda, hal ini dikarenakan tiap atom
memiliki konfigurasi elektron yang berbeda serta karakteristik atau
sifat khas dari atom tersebut. Hasil percobaan yang diperoleh sesuai
dengan teori.
Uji kelarutan dilakukan untuk mengetahui kelarutan logam alkali tanah
pada basa, senyawa sulfat dan karbonat. Pada uji kelarutan logam alkali
dalam senyawa sulfat, masing-masing ion Mg2+, Ca2+, Sr2+ dan Ba2+
dilarutkan dalam larutan Na2SO4 0,01 N dan diperoleh hasil
berturut-turut yaitu larut, larut, sedikit larut dan sukar larut. Hasil
yang diperoleh sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa dalam satu
golongan dari atas ke bawah logam alkali tanah semakin sukar larut dalam
senyawa sulfat.
Pada uji kelarutan logam alkali tanah dalam senyawa basa, masing-masing
ion Mg2+, Ca2+, Sr2+ dan Ba2+ dilarutkan dalam larutan NaOH 0,1 N dan
diperoleh hasil berturut-turut yaitu sukar larut, sukar larut, sedikit
larut dan larut. Hasil yang diperoleh sesuai dengan teori yang
menyebutkan bahwa dalam satu golongan dari atas ke bawah logam alkali
tanah semakin mudah larut dalam senyawa basa.
Pada uji kelarutan logam alkali tanah dalam senyawa karbonat,
masing-masing ion Mg2+, Ca2+, Sr2+ dan Ba2+ dilarutkan dalam larutan
Na2CO3 0,01 N dan diperoleh hasil berturut-turut yaitu, larut, larut,
sedikit larut dan sukar larut. Hasil yang diperoleh sesuai dengan teori
yang menyebutkan bahwa dalam satu golongan dari atas ke bawah logam
alkali tanah semakin sukar larut dalam senyawa karbonat.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini ialah:
1. Warna nyala logam Natrium, Barium, Magnesium, Kalsium dan Stronsium
berturut-turut adalah Kuning, Hijau, Putih, Jingga dan Merah.
2. Kelarutan logam alkali tanah dalam satu golongan dari atas ke bawah
dalam senyawa basa adalah semakin mudah larut. Kelarutan logam alkali
tanah dalam satu golongan dari atas ke bawah dalam senyawa sulfat dan
karbonat adalah semakin sukar larut.
B. Saran
Adapun saran dalam percobaaaan ini sebaiknya pembakar spritus agar warna nyala dalam api lebih jelas.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.“WarnaNyalaLogamAlkali”.file:///F:/Praktek%20anorganik/Referens
Lap Anorganik/referensi alkali/warna-nyala-logam-alkali.html.
Cotton, Kimia Anorganik Dasar, (Jakarta: Universitas Indonesia (UI_Press), 1989.
Hamdani, “Uji Nyala”, http://praktek anorganik/referens lap anorganik/referensi alkali/uji nya alkali.html,
keenan, Kimia Untuk Universitas jilid 2. Jakarta: Erlangg, 1999.
Ratna, dkk, “Logam Akali dan Alkali tanah”, 07 februari 2009),
file:///F:/Praktek Anorganik/Referens Lap Anorganik/referensi
alkali/akali tanah.htm
No comments:
Post a Comment