Kebutuhan Oksigen Biokimia
(BOD
BOD (Biochemical Oxygen Demand) merupakan parameter yang
menunjukkan banyaknya jumlah oksigen (mg/l) yang dibutuhkan selama proses
stabilitasi bahan-bahan organik oleh aktifitas bakteri aerob.
Proses stabilisasi secara aerob ini akan mengakibatkan
sel-sel mikroba mengkonsumsi protoplasmanya sendiri sedangkan jaringan selnya
teroksidasi menjadi karbondioksida, air dan amoniak dan hanya sekitar 20-25%
bahan organik yang tidak terurai secara biologis. Untuk mengetahui nilai BOD
dilakukan analisa berdasarkan pada selisih antara oksigen terlarut sebelum dan
sesudah inkubasi selama 5 hari pada suhu 200C. Selisih ini merupakan
nilai BOD yang menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob
untuk dekomposisi bahan-bahan organik. Nilai BOD merupakan ukuran untuk
menentukan kualitas air limbah. BOD yang bernilai rendah menunjukkan kualitas
air limbah yang baik sehingga tidak mencemari lingkungan.
Analisis oksigen terlarut merupakan dasar utama dalam
penentuan nilai BOD. Sampai saat ini metode penentuan oksigen terlarut yang
dikenal luas adalah metode Winkler. Secara garis besar metode Winkler melibatkan reaksi contoh dengan garam
Mangan (II) secara berlebih dan Natrium Iodida serta Natrium hidroksida.
Terbentuknya endapan Mn(OH)2 akan dioksidasikan oleh oksigen menjadi
Mn(OH)3 yang berwarna coklat dan melalui pengasaman maka Mn(OH)3
akan mengoksidasi iodida menjadi iodium. Natrium thiosulfat yang normalitasnya
telah diketahui dapat digunakan untuk titrasi larutan iodium yang dibebaskan
tersebut.
Terdapatnya ion-ion logam beracun dan zat kimia seperti
fenol, khlor bebas, cyanide, formalin didalam air limbah akan mempengaruhi
hasil analisa BOD oleh karena zat-zat tersebut akan menghambat aktifitas
mikroba sehingga mengakibatkan nilai BOD bukan yang sebenarnya. Prosedur
lengkap analisis BOD disajikan dalam lampiran I.
Kebutuhan Oksigen Kimiawi
(COD)
Seperti halnya BOD, COD juga merupakan
salah satu parameter untuk mengetahui adanya suatu pencemaran yang disebabkan
oleh air limbah. Prinsip dasar penentuan COD adalah proses oksidasi total oleh
kalium dikromat dalam lingkungan asam sulfat pekat. Sisa kalium dikromat yang
tidak tereduksi dititrasi dengan larutan standard larutan fero ammonium sulfat.
Untuk mengefektifkan proses oksidasi terutama bagi contoh yang mengandung
senyawa alifatis maka digunakan perak sulfat sebagai katalisator.
COD tidak dapat diukur dengan baik
dalam suatu contoh yang mengandung ion klorida lebih dari 2.000 mg/lt larutan
contoh. Hal ini oleh karena ion klorida dapat bereaksi dengan kalium dikromat
membentuk klorin dengan reaksi sebagai berikut
Adanya gangguan ion klorida ini tentu saja akan menyesatkan hasil
analisis yang diperoleh. Pencegahan gangguan ini dapat dilakukan dengan
menggunakan merkuri sulfat sebagai pengikat ion klorida menjadi bentuk merkuri
(II) klorida. Penggunaan merkuri sulfat disesuaikan dengan jumlah contoh yang
digunakan dan kandunagn kadar kloridanya. Dalam prosedur AOAC, merkuri sulfat
yang digunakan adalah 1 gr untuk 50 ml contoh. Lebih rendah volume contoh lebih
rendah pula penambahan merkuri sulfat. Misalnya
10, 20, 30, 40 ml contoh maka mekuri sulfat yang digunakan masing-masing
0.2, 0.4, 0.6, 0.8 gr. Sesungguhnya penggunaan merkuri ini mengandung resiko
oleh karena merkuri dan garam-garamnya adalah zat yang sangat beracun.
Jika muncul alternatif untuk
menghindari merkuri dalam analisis COD, maka hal ini semata-mata untuk
menghindari merkuri yang beracun tersebut. Sebagai pengganti merkuri sulfat
digunakan perak nitrat.
Oksigen Terlarut
Analisis oksigen terlarut dapat
digunakan sebagai petunjuk kestabilan air limbah. Kestabilan ini merupakan
suatu ukuran mengenai jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan untuk dapat
mengoksidasi bahan organik dengan sempurna. Air limbah dapat dikatakan stabil
jika tidak mempunyai kemungkinan mengalami perubahan dan tetap bersifar aerob
dalam jangka waktu tertentu. Hal ini disebabkan air limbah yang stabil
mengandung oksigen terlarut yang cukup untuk tetap aerobik walaupun dalam
keadaan teroksidasi dan tidak berhubungan dengan oksigen dari udara. Kelarutan
oksigen tergantung dari beberapa factor anatara lain suhu, luasan daerah
permukaan air, tekanan udara dan kandungan oksigen dalam udara disekelilingnya.
Meningkatnya suhu akan menyebabkan meningkatnya aktifitas oksidasi biologis.
Namun demikian kebutuhan oksigen juga akan bertambah. Analisis oksigen ini juga
sangat berperan terutama dalam menangani air limbah dengan cara aerob.
Zat Padat Terlarut
Zat padat terlarut adalah semua zat
dalam air yang lolos melalui saringan berpoti 0,45 µm, kemudian diuapkan dan dikeringkan pada 103-105ºC. setelah dingin ditimbang hingga diperoleh bobot konstan. Untuk
jumlah padatan terlarut yang diperkirakan lebih besar 200 mg maka diperlukan
pengenceran contoh. Gangguan lain yang terjadi adalah adanya kandungan unsur
Ca, Mg, Cl, sulfat dengan kadar yang tinggi sehingga dapat menganggu pada
penimbangan karena unsur-unsur tersebut bersifat higroskopis. Demikian pula
contoh yang mengandung bikarbonat yang tinggi dapat mengakibatkan waktu
pengeringan yang lama. Zat padat tersuspensi adalah semua zat yang tertahan
pada saringan berpori 0,45 µm. setelah
dikeringkan pada 103-105 0C maka berat dari residu adalah zat padat
tersuspensi.
No comments:
Post a Comment