Monday, September 3, 2012

KEBUTUHAN COD & BOD


Kebutuhan Oksigen Biokimia (BOD
BOD (Biochemical Oxygen Demand) merupakan parameter yang menunjukkan banyaknya jumlah oksigen (mg/l) yang dibutuhkan selama proses stabilitasi bahan-bahan organik oleh aktifitas bakteri aerob.
Proses stabilisasi secara aerob ini akan mengakibatkan sel-sel mikroba mengkonsumsi protoplasmanya sendiri sedangkan jaringan selnya teroksidasi menjadi karbondioksida, air dan amoniak dan hanya sekitar 20-25% bahan organik yang tidak terurai secara biologis. Untuk mengetahui nilai BOD dilakukan analisa berdasarkan pada selisih antara oksigen terlarut sebelum dan sesudah inkubasi selama 5 hari pada suhu 200C. Selisih ini merupakan nilai BOD yang menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk dekomposisi bahan-bahan organik. Nilai BOD merupakan ukuran untuk menentukan kualitas air limbah. BOD yang bernilai rendah menunjukkan kualitas air limbah yang baik sehingga tidak mencemari lingkungan.
Analisis oksigen terlarut merupakan dasar utama dalam penentuan nilai BOD. Sampai saat ini metode penentuan oksigen terlarut yang dikenal luas adalah metode Winkler. Secara garis besar metode Winkler melibatkan reaksi contoh dengan garam Mangan (II) secara berlebih dan Natrium Iodida serta Natrium hidroksida. Terbentuknya endapan Mn(OH)2 akan dioksidasikan oleh oksigen menjadi Mn(OH)3 yang berwarna coklat dan melalui pengasaman maka Mn(OH)3 akan mengoksidasi iodida menjadi iodium. Natrium thiosulfat yang normalitasnya telah diketahui dapat digunakan untuk titrasi larutan iodium yang dibebaskan tersebut.
Terdapatnya ion-ion logam beracun dan zat kimia seperti fenol, khlor bebas, cyanide, formalin didalam air limbah akan mempengaruhi hasil analisa BOD oleh karena zat-zat tersebut akan menghambat aktifitas mikroba sehingga mengakibatkan nilai BOD bukan yang sebenarnya. Prosedur lengkap analisis BOD disajikan dalam lampiran I.


Kebutuhan Oksigen Kimiawi (COD)
Seperti halnya BOD, COD juga merupakan salah satu parameter untuk mengetahui adanya suatu pencemaran yang disebabkan oleh air limbah. Prinsip dasar penentuan COD adalah proses oksidasi total oleh kalium dikromat dalam lingkungan asam sulfat pekat. Sisa kalium dikromat yang tidak tereduksi dititrasi dengan larutan standard larutan fero ammonium sulfat. Untuk mengefektifkan proses oksidasi terutama bagi contoh yang mengandung senyawa alifatis maka digunakan perak sulfat sebagai katalisator.
COD tidak dapat diukur dengan baik dalam suatu contoh yang mengandung ion klorida lebih dari 2.000 mg/lt larutan contoh. Hal ini oleh karena ion klorida dapat bereaksi dengan kalium dikromat membentuk klorin dengan reaksi sebagai berikut
Cr2O7-  +  6Cl-   +  14H+                            3Cl2  +  2Cr3+  +  7H2O
Adanya gangguan ion klorida ini tentu saja akan menyesatkan hasil analisis yang diperoleh. Pencegahan gangguan ini dapat dilakukan dengan menggunakan merkuri sulfat sebagai pengikat ion klorida menjadi bentuk merkuri (II) klorida. Penggunaan merkuri sulfat disesuaikan dengan jumlah contoh yang digunakan dan kandunagn kadar kloridanya. Dalam prosedur AOAC, merkuri sulfat yang digunakan adalah 1 gr untuk 50 ml contoh. Lebih rendah volume contoh lebih rendah pula penambahan merkuri sulfat. Misalnya  10, 20, 30, 40 ml contoh maka mekuri sulfat yang digunakan masing-masing 0.2, 0.4, 0.6, 0.8 gr. Sesungguhnya penggunaan merkuri ini mengandung resiko oleh karena merkuri dan garam-garamnya adalah zat yang sangat beracun.
Jika muncul alternatif untuk menghindari merkuri dalam analisis COD, maka hal ini semata-mata untuk menghindari merkuri yang beracun tersebut. Sebagai pengganti merkuri sulfat digunakan perak nitrat.

Oksigen Terlarut
Analisis oksigen terlarut dapat digunakan sebagai petunjuk kestabilan air limbah. Kestabilan ini merupakan suatu ukuran mengenai jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan untuk dapat mengoksidasi bahan organik dengan sempurna. Air limbah dapat dikatakan stabil jika tidak mempunyai kemungkinan mengalami perubahan dan tetap bersifar aerob dalam jangka waktu tertentu. Hal ini disebabkan air limbah yang stabil mengandung oksigen terlarut yang cukup untuk tetap aerobik walaupun dalam keadaan teroksidasi dan tidak berhubungan dengan oksigen dari udara. Kelarutan oksigen tergantung dari beberapa factor anatara lain suhu, luasan daerah permukaan air, tekanan udara dan kandungan oksigen dalam udara disekelilingnya. Meningkatnya suhu akan menyebabkan meningkatnya aktifitas oksidasi biologis. Namun demikian kebutuhan oksigen juga akan bertambah. Analisis oksigen ini juga sangat berperan terutama dalam menangani air limbah dengan cara aerob.

Zat Padat Terlarut
Zat padat terlarut adalah semua zat dalam air yang lolos melalui saringan berpoti 0,45 µm, kemudian diuapkan dan dikeringkan pada 103-105ºC. setelah dingin ditimbang hingga diperoleh bobot konstan. Untuk jumlah padatan terlarut yang diperkirakan lebih besar 200 mg maka diperlukan pengenceran contoh. Gangguan lain yang terjadi adalah adanya kandungan unsur Ca, Mg, Cl, sulfat dengan kadar yang tinggi sehingga dapat menganggu pada penimbangan karena unsur-unsur tersebut bersifat higroskopis. Demikian pula contoh yang mengandung bikarbonat yang tinggi dapat mengakibatkan waktu pengeringan yang lama. Zat padat tersuspensi adalah semua zat yang tertahan pada saringan berpori 0,45 µm. setelah dikeringkan pada 103-105 0C maka berat dari residu adalah zat padat tersuspensi.

No comments:

Post a Comment