DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR GAMBAR . iv
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Perumusan Masalah 1
1.3 Tujuan Percobaan 1
1.4 Manfaat Percobaan 1
1.5 Ruang Lingkup Percobaan 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Gravimetri 3
2.2 Gravimetri Pengendapan 4
2.3 Zat Pengendap Organik 9
2.4 Dimetilglioksimat . 9
2.5. Aplikasi 10
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN 12
3.1. Bahan dan Fungsinya 12
3.2. Peralatan dan Fungsinya 12
3.3. Rangkaian Gambar Peralatan 15
3.4. Prosedur Percobaan 16
3.5. Flowchart Percobaan 17
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 18
4.1. Hasil 18
4.2. Pembahasan 19
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 20
5.1. Kesimpulan 20
5.2. Saran 20
DAFTAR PUSTAKA 21
LAMPIRAN A LA-1
LAMPIRAN B LB-1
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Struktur Dimetilglioksima 10
Gambar 2.2. Konsep Penggunaan Analisis dalam Bidang Peternakan 11
Gambar 3.1. Gambar Rangkaian Peralatan Analisa Gravimetri 15
Gambar 3.2 .Flowchart Gravimetri 17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG PERCOBAAN
Tahap pengukuran dalam metode gravimetrik adalah penimbangan. Analitnya
secara fisik dipisahkan dari semua komponen lain dari sampel itu maupun
dari pelarutnya. Pengendapan merupakan teknik yang paling meluas
penggunaannya untuk memisahkan analit dari pengganggu-pengganggunya
Analisa gravimetri merupakan suatu cara analisa kimia kuantitatif yang
didasarkan pada prinsip penimbangan berat yang di dapat dari proses
pemisahan analit dari zat – zat lain dengan metode pengendapan. Zat yang
telah di endapkan ini di saring dan dikeringkan serta ditimabang dan
diusahakan endapan itu harus semurni mungkin. Untuk memisahkan endapan
tersebut maka sangat dibutuhkan pengetahuan dan teknik yang cukup yang
wajib dimiliki seorang enginer.
Dalam dunia teknik kimia sangat
dibutuhkan juga bagaimana cara analisa gravimetri ini. Seperti halnya
dalam industri, untuk mendukung kinerja kita sebagai insiyur teknik
cara analisa ini mungkin juga sangat penting.
1.2 TUJUAN PERCOBAAN
Adapun tujuan dari percobaan ini yang hendak dicapai adalah untuk
menentukan kadar Nikel ( Ni+2 ) yang diperoleh dari penimbangan endapan
kering dalam bentuk Ni(C4H7O2N2)2.
1.3 RUMUSAN MASALAH
Permaalahan yang di rumuskan dalam percobaan ini adalah bagaimana cara
menentukan kadar Ni dengan menimbang endapan kering Ni(C4H7O2N2)2.
1.4 MANFAAT PERCOBAAN
Manfaat dari percobaan in adalah :
1.Dapat mengetahui kadar Ni dengan menimbang endapan kering Ni(C4H7O2N2)2 pada ukuran sampel tertentu.
2.Mengetahui dan memahami konsep analisa gravimetri yang baik dan benar.
1.5 RUANG LINGKUP PERCOBAAN
Praktikum Kimia Analisa Kuantitatif dengan modul percobaan Penetapan
Nikel sebagai Dimetilglioksimat dengan Gravimetri ini dilakukan di
Laboratorium Kimia Analisa, Fakultas Teknik, Departemen Teknik Kimia,
Universitas Sumatera Utara dan dalam kondisi ruangan:
1.Temperatur : 30oC.
2.Tekanan udara : 760 mmHg.
Dilakukan
dalam ruangan dengan menggunakan bahan–bahan antara lain NiCl2, HCl
0,1N, Aquades, NH4OH 6N dan Dimetiglioksima (C4H8O2N2) 1%. Dan alat yang
kami pakai pada percobaan antara lain Beaker gelas, gelas ukur,
corong, kertas saring, pipet tetes, cawan porselen, penangas, penjepit
tabung, termometer, batang pengaduk dan neraca digital.
BAB II
TIJAUAN PUSTAKA
2.1GRAVIMETRI
Analisis
gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau
senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan senyawa gravimetri
meliputi transformasi unsur atau radikal senyawa murni stabil yang dapat
segera diubah menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Berat
unsur dapat dihitung berdasarkan rumus senyawa dan berat atom unsur –
unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan berbagai cara,
seperti : metode pengendapan; metode penguapan; metode elektroanalisis;
atau berbagai macam cara lainya. Pada prakteknya 2 metode pertama adalah
yang terpenting, metode gravimetri memakan waktu yang cukup lama,
adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila perlu faktor –
faktor pengoreksi dapat digunakan (Khopkar,1999).
Gravimetri adalah
pemeriksaan jumlah zat dengan cara penimbangan hasil reaksi pengendapan.
Gravimetri merupakan pemeriksaan jumlah zat yang paling tua dan paling
sederhana dibandingkan dengan cara pemeriksaan kimia lainnya.
Kesederhaan itu kelihatan karena dalam gravimetri jumlah zat ditentukan
dengan cara menimbang langsung massa zat yang dipisahkan dari zat-zat
lain (Rivai,1994).
Pada dasarnya pemisahan zat dengan gravimetri
dilakukan dengan cara sebagai berikut. Mula-mula cuplikan dilarutkan
dalam pelarutnya yang sesuai, lalu ditambahkan zat pengendap yang
sesuai. Endapan yang terbentuk disaring, dicuci, dikeringkan atau
dipijarkan, dan setelah itu ditimbang. Kemudian jumlah zat yang
ditentukan dihitung dari faktor stoikiometrinya. Hasilnya disajikan
sebagai persentase bobot zat dalam cuplikan semua (Rivai,1994).
Suatu metode analisis gravimetri biasanya didasarkan pada reaksi kimia seperti
aA + R → AaRr
dimana
a molekul analit, A, bereaksi dengan r molekul reagennya R. Produknya,
yakni AaRr, biasanya merupakan suatu substansi yang sedikit larut yang
bias ditimbang setelah pengeringan, atau yang bisa dibakar menjadi
senyawa lain yang komposisinya diketahui, untuk kemudian ditimbang.
Sebagai contoh, kalsium biasa ditetapkan secara gravimetri melalui
pengendapan kalsium oksalat dan pembakaran oksalat tersebut menjadi
kalsium oksida, dengan reaksi:
Ca2 + CaO42- → CaC2O4(S)
CaC2O4 → CaO(S) + CO2 (g) + CO(g)
Pemisahan
unsur atau senyawa dari senyawa atau larutan dapat dilakukan dengan
menggunakan beberapa cara atau metode analisa gravimetri. Beberapa
metode analisa gravimetri sebagai berikut :
Metode pengendapan
Pelarut yang dipilih harus lah sesuai sifatnya dengan sampel yang akan di larutkan,
Misalnya : HCl, H2SO4, dan HNO3 digunakan untuk melarutkan sampel dari logam – logam.
Metode peguapan atau pembebasan ( gas )
Metode elektroanalisis
Metode ekstraksi dan kromatogravi
Pada percobaan yang dilakukan praktikan menggunakan cara pengendapan.
2.2GRAVIMETRI PENGENDAPAN
Gravimetri pengndapan adalah merupakan gravimetri yang mana komponen
yang hendak didinginkan diubah menjadi bentuk yang sukar larut atau
mengendap dengan sempurna.
Bahan yang akan ditentukan di endapkan
dalam suatu larutan dalam bentuk yang sangat sedikit larut agar tidak
ada kehilangan yang berarti bila endapan disaring dan ditimbang.
Syarat – syarat senyawa yang di timbang :
Stokiometri
Mempunyai kestabilan yang tinggi
Faktor gravimetrinya kecil
Adapun beberapa tahap dalam analisa gravimetri adalah sebagai berikut :
1.Memilih pelarut sampel
Pelarut yang dipilih harus lah sesuai sifatnya dengan sampel yang akan di larutkan,
Misalnya : HCl, H2SO4, dan HNO3 digunakan untuk melarutkan sampel dari logam – logam.
2.Pengendapan analit
Pengendapan analit dilakukan dengan memisahkan analit dari larutan yang
mengandungnya dengan membuat kelarutan analit semakin kecil, dan
pengendapan ini dilakukan dengan sempurna.
Misalnya : Ca+2 + H2C2O4 => CaC2O4 (endapan putih)
3.Pengeringan endapan
Pengeringan yang dilakukan dengan panas yang disesuaikan dengan
analitnya dan dilakukan dengan sempurna. Disini kita menentukan apakah
analit dibuat dalam bentu oksida atau biasa pada karbon dinamakan
pengabuan.
4.Menimbang endapan
Zat yang ditimbang haruslah memiliki rumus molekul yang jelas
Biasanya reagen R ditambahkan secara berlebih untuk menekan kelarutan endapan (Day and Underwood, 2002).
Dalam menentukan keberhasilan metode gravimetri ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu :
1.Proses
pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak
terendapkan secara analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau
kurang dalam menentukan penyusunan utama dalam suatu makro)
2.Zat
yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya
murni, atau sangat hampir murni. Bila tidak akan diperoleh hasil yang
galat.
Persyaratan yang kedua itu lebih sukar dipenuhi oleh para
analis. Galat-galat yang disebabkan faktor-faktor seperti kelarutan
endapan umumnya dapat diminimumkan dan jarang menimbulkan galat yang
signifikan. Masalahnya mendapatkan endapan murni dan dapat disaring
itulah yang menjadi problema utama. Banyak penelitian telah dilakukan
mengenai pembentukkan dan sifat-sifat endapan, dan diperoleh cukup
banyak pengetahuan yang memungkinkan analis
meminimumkan masalah kontaminasi endapan (Day and Underwood, 2002).
Dalam analisa gravimetri penentuan jumlah zat didasarkan pada
penimbangan hasil reaksi setelah bahan yang dianalisa direaksikan. Hasil
reaksi ini didapatkan sisa bahan suatu gas yang dibentuk dari bahan
yang dianalisa. Dalam cara pengendapan, zat direaksikan dengan menjadi
endapan dan ditimbang. Atas dasar membentuk endapan, maka gravimetrik
dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : endapan dibentuk dengan reaksi antara
zat dengan suatu pereaksi dan endapan yang dibentuk dengan
elektrokimia. Untuk memisahkan endapan dari larutan induk dan cairan
pencuci, endapan dapat disaring. Endapan grevimetri yang disaring kertas
tidak dapat dipisahkan kembali secara kuantitatif.
Sudah dijelaskan
bahwa dalam analisa gravimetri, penentuan jumlah zat didasarkan pada
penimbangan. Dalah hal ini, penimbangan hasil reaksi setelah bahan yang
dianalisa direaksikan. Hasil reaksi ini dapat berupa sisa bahan atau
suatu gas yang terjadi, atau suatu endapan yang dibentuk dari bahan yang
dianalisa tersebut. Berdasarkan macam hasil yang ditimbang itu
dibedakan cara-cara gravimetri yaitu cara evolusi dan cara
pengendapannya (Hardjadi, 1993).
Endapan murni adalah endapan
yang bersih, artinya tidak mengandung molekul-molekul lain (zat-zat
lain yang biasanya disebut pengotor atau kontaminan). Pengotor oleh
zat-zat lain mudah terjadi, karena endapan timbul dari larutan yang
berisi macam-macam zat. Sedangkan endapan kasar adalah endapan yang
butir- butirnya tidak kecil, halus melainkan besar. Hal penting untuk
kelancaran penyaringan dan pencucian endapan. Adapun tujuan dari
pencucian endapan adalah untuk menyingkirkan kotoran yang teradsorpsi
pada permukaan endapan maupun yang terbawa secara mekanis (Harjadi,
1993).
Gravimetri dengan cara pengendapan, analat direaksikan
sehingga terjadi suatu pengendapan dan endapan itulah yang ditimbang.
Atas dasar cara membentuk endapan, maka gravimetri dibedakan menjadi 2
macam :
(1) Endapan dibentuk dengan reaksi antara analat dengan
sutau pereaksi, endapan biasanya berupa senyawa. Baik kation maupun
anion dari analat mungkin diendapkan, bahan pengendapnya anorganik
mungkin pula organik. Cara inilah yang biasa disebut dengan gravimetri.
(2)
Endapan dibentuk dengan cara elektrokimia, dengan perkataan lain analat
dielektrolisa, sehingga terjadi logam sebagai endapan. Cara ini biasa
disebut dengan elektrogravimetri.
Salah satu masalah yang paling
sulit dihadapi oleh para analis adalah menggunakan endapan sebagai cara
pemisahan dan penentuan gravimetrik adalah memperoleh endapan tersebut
dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Zat-zat yang normalnya mudah larut
dapat diturunkan selama pengendapan zat yang diinginkan dengan suatu
proses yang disebut kopresipitasi. Misalnya, bila asam sulfat
ditambahkan pada barium klorida yang mengandung sejumlah kecil ion
nitrat, endapan barium sulfat yang diperoleh mengandung barium nitrat.
Maka dikatakan bahwa nitrat tersebut terkorosipitasi dengan sulfat (Day
and Underwood, 2002).
Kontresipitasi merupakan suatu fenomena yang
ahli-ahli kimia analitik biasanya coba hindari. Namun, fakta bahwa
endapan cenderung mengabsorpsi zat-zat asing tidak selalu mengganggu;
kopresipitasi telah digunakan secara luas untuk mengisolasi runut
isotop-isotop radio aktif. Ketika isotop-isotop ini dibentuk dalam
reaksi uklir. Jumlah yang terbentuk bisa sangat kecil, dan prosedur
pengendapan umumnya gagal pada konsentrasi yang sangat kecil. Untuk
meminimalisirkan kopresipitasi dapat digunakan beberapa prosedur dibawah
ini, yaitu :
1. Metode penambahan pada kedua reagen, jika diketahi
bahwa baik sampel maupun enapan mengandung suatu ion yang mengotori,
larutan yang megandung ion tersebut dapat ditambahkan pelarut lain,
dengan cara ini konsentrasi pencemaran dijaga serendah mungkin selama
tahap awal-awal pengendapan
2. Pencucian
3. Pencernaan
4. Pengendapan kembali
Suatu endapan kristalin, seperti BaSO4, kadang-kadang
mengabsorpsi pengotor (impurities) bila partikel-partikelnya kecil.
Dengan bertumbuhnya ukuran partikel, pengotor tersebut bisa tertutup
dalam kristal. Kontaminasi jenis ini disebut dengan pengepungan
(acclusian). Untuk membedakan dari kasus dimana padatan tidak tumbuh di
sekitar pengotor. Pengotor yang terkepung tidak dapat dipindahkan dengan
mencuci endapan tersebut, tetapi mutu endapan tersebut seringkali dapat
disempurnakan dengan pencernaan (Day and Underwood, 2002).
Dalam hal ini penimbangan hasil reaksi setelah bahan yang direaksikan
dianalisa. Hasil reaksi ini dapat : sisa bahan, atau suatu gas yang
terjadi, atau suatu endapan yang terbentuk dari bahan yang diananlisa
itu. Berdasarkan macam hasil yang ditimbang itu dibedakan cara-cara
gravimetri; cara evolusi dan cara pengendapan (Harjadi, 1993).
Banyak sekali reaksi yang digunakan dalam analisis kualitatif
melibatkan endapan. Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai
suatu fase padat keluar dari larutan. Endapan mungkin berupa kristalin
atau koloid, dan dapat dilakukan dengan penyaringan atau pemusingan
(centrifuge). Endapan terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh
dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan (s) suatu endapan, menurut
definisi adalah sama dengan konsentrasi molar larutan jenuhnya.
Kelarutan suatu zat tergantung pada berbagai kondisi, seperti suhu,
tekanan, konsentrasi bahan- bahan lain dalam larutan itu, dan komposisi
pelarutnya (Svehla, 1990).
Dalam prosedur gravimetrik yang
lazim suatu endapan ditimbang dan darinya nilai analit dalam sampel
dihitung. Maka persentase analit A adalah:
%A = Bobot A x 100 %
Bobot sample
atau, jika kita tentukan faktor gravimetrik endapan, yaitu:
fg = BA atom A x 100 %
BM endapan
Maka, persentase analitnya:
%A = Berat endapan x faktor gravimetri (fg) x 100%
berat sampel
Dalam cara evolusi bahan direaksikan sehingga timbul suatu gas;
caranya dapat dengan memanaskan bahan tersebut, atau mereaksikan dengan
suatu pereaksi. Pada umumnya yang dicari ialah banyaknya gas yang
terjadi. Cara mencari jumlah gas tersebut adalh sebagai berikut :
1. Tidak langsung
Dalam
hal ini analatlah yang ditinbang setelah bereaksi; berat gas diperoleh
sebagai selisih berat analat sebelum dan sesudah reaksi.
2. Langsung
Gas
yang terjadi ditimbang setelah diserap oleh suatu bahan yang khusus
untuk gas yang bersangkutan. Sebenarnya yang ditimbang ialah bahan
penyerap itu yaitu sebelum dan sesudah penyerapan sedangkan berat gas
diperoleh dari selisih kedua penimbangan (Harjadi, 1993).
Dalam cara
pengendapan, analat sekarang direaksikan sehingga terjadi suatu endapan
dan endapan itulah yang ditimbang. Atas dasar cara membentuk endapan,
maka gravimetric dibedakan menjadi dua macam:
1. Endapan dibentuk
dengan reaksi antara analat dengan suatu pereaksi endapan biasanya
berupa senyawa. Baik anion dan kation dari analat mungkin diendapkan.
Bahan pengendapnya mungkin organik atau anorganik.
2. Endapan
dibentuk secara elektrokimia, dengan perkatan lain analat dielektrolisa,
sehingga terjadi logam sebgai endapan. Cara ini disebut dengan
elektrogravimetri (Harjadi, 1993).
2.3 ZAT PENGENDAP ORGANIK
Reagensia organik merupaka bahan untuk membantu proses pemisahan satu
atau lebih ion anorganik dari campuran, yang mana ion – ion ini biasanya
mengghasilkan senyawaan yang angat sedikit dapat larut dan sering kali
berwarna. Reagensia organik disebut juga zat pengendap organik. Zat
pengendap organik yang digunakan haruslah ideal, artinya pengendap
organik tersebut bersifat spesifik, yaitu harus membari endapan dengan
hanya satu endapan tertentu.
2.4 DIMETILGLIOKSMAT
Pengendap
organik ini ditemukan oleh L. Thusgaeff dan digunakan oleh O. Brunck
untuk penetapan nikel dalam baja. Zat ini memberi endapan merah cerah
bila direaksikan dengan larutan nikel dengan garamnya. Sedikit berlebih
reagensia ini tidak memberi reaksi apa – apa terhadap endapan, tapi ada
juga kelebihannya yang harus dihindari, yaitu :
1.Kemungkinan dimetilglioksimat ikut mengendap karena semakin kecil kelarutannya
2. Dapat menyebabkan bertambahnya kelarutan endapan dalam campuran air-etanol
CH3 – C = N – OH
|
CH3 – C = N – OH
Gambar 2.1 Struktur Dimetilglioksima
Dimetilglioksimat hanya sedikit larut dalam air sehingga dipakai sebagai larutan 1 % dalam etanol.
2.5 APLIKASI
Pengelolaan Limbah Cair Usaha Peternakan Sapi Perah
Limbah
peternakan umumnya meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu
kegiatan usaha peternakan, baik berupa limbahpadat dan cairan, gas,
ataupun sisa pakan
Pengelolaan limbah yang kurang baik akan menjadi
masalah serius pada usaha peternakan sapi perah. Sebaliknya bila limbah
ini dikelola dengan baik dapat memberikan nilai tambah. Salah satu upaya
untuk mengurangi limbah adalah mengintegrasikan usaha tersebut dengan
beberapa usaha lainnya, seperti penggunaan suplemen pada pakan, usaha
pembuatan kompos, budidaya ikan, budidaya padi sawah, sehingga menjadi
suatu sistem yang saling sinergis. Upaya memadukan tanaman, ternak dan
ikan di lahan per-tanian memiliki manfaat ekologis dan ekonomis. Laju
pertumbuhan produktivitas usaha pertanian merupakan interaksi di antara
berbagai faktor yang ada dalam sistem usahatani.
Sebagai upaya bagi
peningkatan sistem usahatani diperlukan teknologi alternatif untuk
memperbaiki produkti-vitas lahan dan meningkatkan pendapatan petani,
antara lain melalui teknologi sistem usaha peternakan yang menerapkan
konsep produksi bersih. Bapedal (1998) menyatakan bahwa produksi bersih
merupakan suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif
dan terpadu yang perlu diterapkan terus menerus pada proses produksi dan
praproduksi, sehingga mengurangi risiko terhadap manusia dan
lingkungan. Produksi bersih tidak hanya menyangkut proses produksi,
tetapi juga menyangkut pengelolaan seluruh daur hidup produksi, yang
dimulai dari pengadaan bahan baku dan pendukung, proses dan operasi,
hasil produksi dan limbahnya sampai ke distribusi serta konsumsi.
Gambar 2.2 Konsep Penggunaan Analisis dalam bidang Peternakan
Penggunakan dari pada Gravimetri disini adalah pada konsep Analisis.
Seperti menganalisa zat padat terlarut, ataupun zat padat tersuspensi.
Berdasarkan permasalahan dan konsep produksi tersebut, maka penelitian
ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui manfaat daur hidup
sistem usahatani tersebut dan mengetahui berapa besar zat pencemar yang
dihasilkan dapat diminimisasi. Hasil penelitian diharapkan dapat
memberikan gambaran tentang sistem usaha peternakan yang menerapkan
produksi bersih, sekaligus sebagai informasi dan masukan bagi pemerintah
dan swasta dalam pengembangan sistem usaha peternakan yang ramah
lingkungan.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Bahan dan Fungsinya
1. Sampel (yaitu Ni dalam garamnya, NiCl2), sebagai bahan yang akan dianalisis.
2. Asam Klorida (HCl) 0,1 N, sebagai katalis dalam reaksi
3. Aquades , sebagai pelarut dan mengencerkan sampel.
4. Amonium Hidroksida (NH4OH) 6 N , sebagai pembentuk suasana basa.
5. Dimetilglioksima 1% , sebagai reagensia spesifik.
3.2. Peralatan dan Fungsinya
1. Beaker gelas 500 ml,
Fungsinya : sebagai wadah berlangsungnya proses pencampuran sample dengan zat lainnya.
2. Gelas ukur 50 ml,
Fungsinya : sebagai wadah ukur dari zat atau larutan yang akan digunakan.
3. Corong ,
Fungsinya : sebagai alat bantu dalam pemindahan larutan dari satu beaker glass ke beaker glass lainnya.
4. Kertas saring ,
Fungsinya : sebagai alat pemisah endapan dengan larutannya.
5. Pipet tetes,
Fungsinya : sebagai alat untuk mengambil zat dengan volume yang kecil dan meneteskannya ke larutan yang dikehendaki.
6. Penangas ,
Fungsinya : sebagai alat pemanas atau menaikkan suhu larutan
7. Penjepit tabung,
Fungsinya : sebagai alat untuk menjepit dan memindahkan beaker glass
dan cawan porselin pada proses pemanasan dan pengeringan.
8. Termometer,
Fungsinya : sebagai alat pengukur suhu larutan.
9. Batang Pengaduk,
Fungsinya : sebagai alat untuk mengaduk campuran ataupun larutan sehingga bercampur dengan rata.
10. Neraca massa digital,
Fungsinya : sebagai pengukur massa dari sampel dan endapan.
11. Cawan Porselen
Fungsinya : sebagai tempat untuk pengeringan
12. Bunsen
Fungsinya : sebagai alat pengering dan alat penganas
3.3Rangkaian Gambar Peralatan
Gambar 3.1 Gambar Rangkaian Peralatan Analisa Gravimetri
Keterangan Gambar :
1.Beaker glass
2.Gelas Ukur
3.Corong
4.Kertas saring
5.Pipet Tetes
6.Penganas Air
7.Penjepit Tabung
8.Termometer
9.Pengaduk
10.Neraca Massa digital
11.Porselen
12.Bunsen
3.4 PROSEDUR PERCOBAAN
1.Sampel NiCl2 ditimbang sebanyak 0,5 gram dan dimasukkan kedalam beaker gelas.
2.Sampel didalam beaker gelas ditambah aquades hingga keseluruhan sample tenggelam.
3.Ditambahkan 5 ml asm klorida ( HCl ) 0,1 N dan diencerkan hingga volume 200 ml.
4.Larutan
dipanaskan di atas penangas hingga bersuhu 70-80 oC dan ditambahkan
dimetilglioksimat ( C4H8O2N2 ) 1% sebanyak 120 ml, kemudia segera
ditambahkan larutan ammonia 1 M sebanyak 2 tetes langsung pada larutan
bukan pada dinding gelas.
5.Didiamkan diata penangas selama 20- 30 menit atau hingga terbentuk endapan yang sempurna.
6.Larutan diangkat dari penangas dan didinginkan di dengan menyelupkan beaker gelas kedalam air dingin lalu disaring.
7.Endapan
yang telah disaring dicuci kembali dengan aquades agar bebas klorida
lalu dipindahkan ke dalam cawan porselen yang telah kering dan ditimbang
sebelumnya.
8.Endapan didalam cawan dipanaskan diatas penangas selama 50 menit atau hingga endapan membentuk serbuk.
9.Endapan didinginkan lalu ditimbang bersama dengan cawan, dan diulangi pengeringan 3 kali untuk mendapatkan hasil konstan.
10.Dihitung persentase NikelAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1HASIL
a.Pelarut sample
Berat sample : 0,75 gram
Volume pelarut : 165 ml
Didapat dari :
Jika Ar Ni = 58,75
Mr C4H8O2N2 = 237,75
Maka, (Ar Ni / Mr NiCl2) x m S = m Ni
Ni = (58,75 / 129.75) x 0,75
Ni = 330 mg
Jika 5 ml dimetilglioksima per 10 mgram Ni, maka
m1 / v1 = m2 / v2
10 / 5 = 330 / v2
V2 = 165 ml dimetilglioksima untuk 0,75 gram sampel
b. pengeringan
berat cawan kosong : 25,236 gram
berat cawan + sample : 34,921 gram
Berat cawan + sample setelah,
Pengeringan I : 30,615 gram
Pengeringan II : 27,492 gram
Pengeringan III : 25.931 gram
Berat rata - rata : 28,01 gram
Berat endapan = 28.01 – 25.236
Ni = 2.654 gram
c . Persentase Nikel (Ni)
%Ni = 145,8 %
4.2 PEMBAHASAN
Gravimetri
merupakan cara analisa yang berdasarkan prinsip penimbangan berat
endapan yang telah kering dan diubah dalam bentuk yang semurninya.
Proses pemisahan yang kami lakukan cukup sempurna sehingga terbentuknya endapan yang sempurna dan sesuai dengan teori.
Ada beberapa kesulitan yang kami hadapi saat praktikum, salah satunya
saat pengeringan analit. Dimana ketika memanaskan tahap II , analit
yang kami panaskan tersebut berasap, mungkin ini terjadi karena
praktikan memanaskan analit tersebut pada api Bunsen yang seperti kita
tahu bahwa api Bunsen itu memiliki suhu yang tidak dapat diatur konstan.
Karena seharusnya penangaslah yang praktikan gunakan sebagai pemanas
larutan.
Hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan tersebut
menetapkan bahwa persentase Nikel yang praktikan dapatkan adalah sekitar
145,8 %
Perolehan nilai persentase nikel yang tidak sesuai dengan nilai yang sebenarnya dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu :
1.Ketika
melakukan penambahan zat pelarut (dimetilglioksima), hendaknya
dilakukan penghitungan volume pengendap yang teliti dan hati-hati,
karena hal ini mempengaruhi jumlah endapan yang akan dibentuk sehingga
berdampak juga dalam perhitungan persentase nikel.
2.Pencucian endapan hendaknya dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak ada endapan yang terbuang.
3.Proses
pemanasan larutan yang dilakukan juga harus sempurna dan sesuai dengan
analit (nikel) sehingga proses pelarutan nikel oleh dimetilglioksima
dapat terjadi dengan sempurna. Dengan pelarutan yang sempurna, endapan
yang terbentuk juga akan sempurna.
4.Proses penimbangan endapan juga
hendaknya dilakukan dengan hati-hati dan teliti sehingga proses
pengukuran berat endapan benar-benar akurat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yng dapat diambil dari percobaan ini ialah :
1.Berat Nikel yang didapat dari 0,75 gram NiCl2 adalah seberat 0,33 gram
2.Kadar nikel yang di peroleh dari penimbangan endapan kering dalam bentuk Ni(C4H7O2N2)2 adalah 2,654 gram
3.Kadar nikel (Ni) yang terkandung dalam NiCL2 adalah 145.8 %
5.2 SARAN
Adapun saran yang dapat saya sampaikan pada percobaan ini :
1.Diharapkan
agar praktikan berikutnya lebih hati – hati dan teliti dalam
menganalisa secara gravimetri agar mendapatkan hasil yang kesalahannya
sedikit.
2.Sebelum masuk praktikum, dianjurkan agar setiap praktikan
mempelajari dan memahami prosedur kerja, alat dan bahan agar tidak ada
kesulitan saat praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,a, 2009, gravimetri. http//www.wikipedia.or/gravimetri. 30 Agustus 2009
Anonim,b, 2009, analisa gravimetri. http//www.google.com/analisa_gravimetri.
30 Agustus 2009
Anonim,c, 2009, laporan gravimetri. http//www. Sulae-blogspot.com.
30 Agustus 2009
Anonim,d, 2009, gravimetri. http//www. Annisanfushie.wordpress.com.
30 Agustus 2009
A. Day. N dan A.L. Anderwood. 1986. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi kelima. penerbit Erlangga: Jakarta
Harjadi, W, 1993, Ilmu Kimia Analitik Dasar, Gramedia, Jakarta.
Khopkar, S. M, 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI-Press, Jakarta.
Rivai, H, 1994, Asas Pemeriksaan Kimia, UI-Press, Padang.
Svehla, G, 1990, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro Edisi II, Kalman Media Pustaka, Jakarta.
LAMPIRAN A
DATA PERCOBAAN
1. Pelarut sample
Berat sample : 0,75 gram
Volume pelarut : 165 ml
2. Pengeringan
Berat cawan kosong : 25,236 gram
Berat cawan + sample : 34,921 gram
Berat cawan + sample setelah,
Pengeringan I : 30,615 gram
Pengeringan II : 27,492 gram
Pengeringan III : 25.931 gram
Berat konstan : 2.654 gram
Perhitungan % Ni
%Ni =
%Ni =
%Ni = 145,8 %
LAMPIRAN B
PERHITUNAN
LB.1 Volume Larutan Dimetilglioksima 1 % yang Digunakan
Maka, volume dimetilglioksima 1 % yang digunakan untuk 0,75 gr NiCl26H2O adalah :
LB.2 Berat Konstan Endapan Nikel
Berat konstan Nikel = rata-rata berat pengeringan
= 2,654 gr
LB.3 Menentukan Faktor Gravimetrik (Fg)
LB.4 Menentukan Persentase Nikel
%Ni = 145,8 %
LB.5
Nilai Persentase Nikel Sebenarnya berdasarkan Perbandingan Massa Atom
relatifnya dengan Massa Atom Senyawanya / Sampel (Nicl2 . 6H2O)
No comments:
Post a Comment