fenolphtalein (phenolphthalein) ata biasa disingkat sebagai pp adalah
suatu senyawa organik dengan rumus C20H14O4 dan biasa dipakai sebagai
indikator untuk titrasi asam basa. Tidak bewarna dalam larutan asam dan
berwarna fuksia (pink) bila dalam larutan basa.
Akhir-akhir ini,
kebakaran gedung mulai mendapat perhatian serius dari semua pihak
setelah di Indonesia didera sejumlah kasus kebakaran gedung yang
cenderung meningkat tajam dengan skala yang cukup besar. Kebakaran dapat
diakibatkan oleh berbagai hal, mulai dari hubungan pendek arus listrik,
kompor meledak, huru-hara, maupun tindak kriminalitas. Pihak-pihak yang
terpaksa berurusan pasca gedung terbakar tidak hanya pemilik gedung,
pihak kepolisian, para pengacara hukum, maupun perusahaan asuransi,
namun lebih luas lagi juga mengimbas ke para ahli struktur (teknik
sipil). Peran ahli struktur dalam menangani gedung pasca bakar adalah
bagaimana: (a) menaksir temperatur tertinggi yang pernah dialami
elemen-elemen struktur pada saat kebakaran terjadi, (b) menaksir
kekuatan sisa struktur bangunan pasca kebakaran, dan (c) mengusulkan
teknik perkuatan elemen-elemen struktur (pelat, balok dan kolom) sesuai
keperluan sedemikian rupa sehingga bangunan dapat berfungsi seperti
sebelum kebakaran. Sebenarnya beton merupakan bahan bangunan yang
memiliki daya tahan terhadap api yang relatif lebih baik dibandingkan
dengan material lain seperti baja, terlebih lagi kayu. Hal ini
disebabkan karena beton merupakan material dengan daya hantar panas yang
rendah, sehingga dapat menghalangi rembetan panas ke bagian dalam
struktur beton tersebut. Oleh karena itu selimut beton iasanya dirancang
dengan ketebalan yang cukup yang dimaksudkan untuk melindungi tulangan
dari suhu yang tinggi di luar jika terjadi kebakaran, karena seperti
diketahui bahwa tulangan baja akan mengalami penurunan kekuatan/
tegangan leleh yang cukup drastis pada suhu yang tinggi.
Pengaruh pemanasan sampai pada temperatur 200 oC sebenarnya menguntungkan terhadap beton, karena akan menyebabkan penguapan air (dehidrasi) dan penetrasi ke dalam rongga-rongga beton lebih dalam, sehingga memperbaiki sifat lekatan antar partikel-partikel C-S-H. Penelitian Wijaya, (1999, dalam Priyosulistyo, 2000) menunjukkan bahwa kuat-tekan beton benda uji silinder maupun kuatlentur benda uji yang dipanaskan dalam tungku pada temperature 200 oC meningkat sekitar 10-15 % dibandingkan dengan beton normal yang tanpa dipanaskan. arna beton yang dipanaskan pada temperatur ini umumnya berwarna hitam gelap. Selanjutnya jika panas dinaikkan lagi, kekuatan beton nderung menurun.
interfacial zone sehingga lekatan antar batuan menjadi berkurang banyak. Pada temperatur kamar.
Pengaruh pemanasan sampai pada temperatur 200 oC sebenarnya menguntungkan terhadap beton, karena akan menyebabkan penguapan air (dehidrasi) dan penetrasi ke dalam rongga-rongga beton lebih dalam, sehingga memperbaiki sifat lekatan antar partikel-partikel C-S-H. Penelitian Wijaya, (1999, dalam Priyosulistyo, 2000) menunjukkan bahwa kuat-tekan beton benda uji silinder maupun kuatlentur benda uji yang dipanaskan dalam tungku pada temperature 200 oC meningkat sekitar 10-15 % dibandingkan dengan beton normal yang tanpa dipanaskan. arna beton yang dipanaskan pada temperatur ini umumnya berwarna hitam gelap. Selanjutnya jika panas dinaikkan lagi, kekuatan beton nderung menurun.
Pada suhu antara 400 – 600 oC,
penurunan kuat-tekan dan kuat lentur hingga mencapai 50 % dari kuat
tekan sebelumnya. Penurunan ini isebabkan karena terjadinya proses
dekomposisi unsur C-S-H yang terurai menjadi kapur bebas CaO serta SiO2 yang
tidak memiliki kekuatan sama sekali. Karena unsur C-S-H merupakan unsur
utama yang menopang kekuatan beton, maka pengurangan C-S-H yang
umlahnya cukup banyak akan sangat mengurangi kekuatan beton. Jika suhu
dinaikkan sampai mencapai 1000 oC terjadilah proses karbonisasi yaitu terbentuknya Calsium Carbonat (CaCo3)
yang berwarna keputih-putihan sehingga merubah warna permukaan beton
menjadi lebih terang (pink keputihputihan).Disamping itu pada temperatur
ini terjadi penurunan lekatan antara batuan dan pasta semen, yang
ditandai oleh retak-retak dan oleh kerapuhan beton (mudah dipecah
dengan tangan). Kerusakan beton dapat pula disebabkan oleh perbedaan
angka muai antara agregat dan pasta semen. Perbedaan ini menyebabkan
kerusakan pada
Angka muai batuan pada umumnya lebih rendah dari pada pasta-semen. Sampai pada temperature 200 oC
pasta-semen menyusut sedang batuan mengembang. Perbedaan ini dapat
menimbulkan retak-retak pada beton. Namun yang paling nyata kerusakan
beton mengelupas disebabkan oleh tekanan uap air (5 – 7,5 volume) atau
gas yang terperangkap di dalam beton. Semakin rapat beton, maka semakin
mudah terjadi pengelupasan oleh panas, karena uap air tidak mudah
mengalir melalui pori ke dalam daerah yang lebih dingin. Jika terjadi
peningkatan suhu yang cepat diikuti oleh hambatan aliran uap air ke
sebelah dalam dan jika tersumbat akibat rapatnya beton, maka berpotensi
menimbulkan ledakan, terlebih lagi pada beton mutu tinggi.
Alat yang digunakan untuk pengujian ini adalah Rebound Hammmer Test.
Cara ini paling sederhana, ringan dan mudah dilakukan. Jarak pantulan
suatu massa terkalibrasi (yang digerakkan oleh pegas) yang mengenai
permukaan beton-uji digunakan sebagai kriteria kekerasan beton. Kemudian
kekerasan beton ini dihubungkan dengan kuat-tekan beton normal,
sehingga apabila kekerasan beton tidak relevan dengan kekuatan tekan
beton normal, maka hasil pengujian dengan alat ini perlu dilakukan
kalibrasi tersendiri. Alat ini menganggap bahwa beton cukup homogen,
sehingga perubahan mutu beton di bagian dalam tidak dapat ditunjukkan
oleh alat ini. Semakin banyak titik pengamatan, semakin baik hasil yang
diperoleh. Selain penggunaan alat di atas, uji tidak merusak juga dapat
dilakukan dengan melakukan pengujian kimia (Chemical Test).
Uji ini bertujuan untuk melihat hubungan antara unsur-unsur kimia yang
terkandung dalam beton, khususnya kapur bebas (CaO), dan temperatur yang
pernah dialami beton. Dengan mengetahui temperatur beton, dapat
diprediksi uat-tekan beton. Hasil-hasil pengamatan secara kimia
selanjutnya digunakan sebagai pembanding dari hasil uji fisik. Uji ini
dapat menggunakan Phenolphtalein test (PP-Test)
dimana Phenolphatelein merupakan salah satu indicator kimia yang lazim
digunakan untuk mengetahui sifat asam atau basa suatu material, melalui
respon warna material yang diuji akibat diolesi/ditetesi phenolphthalein
tersebut. Apabila terjadi perubahan warna pada saat diolesi, berarti
material yang diuji bersifat basa, dan sebaliknya apabila tidak terjadi
perubahan warna bererti material yang diuji bersifat asam. Menurut
Parker (1983, dalam Triwiyono, 2000), rentang PK Phenolphthalein adalah
antara 8,4 – 10, yang ditunjukkan oleh respon warna: merah sangat tua (violet 3) –merah sangat muda (magenta 1). Untuk membuat indicator, setiap 1 gram Phenolphthalein dilarutkan ke dalam 50 ml (atau dapat juga 100 l ) alcohol murni.
No comments:
Post a Comment