PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Mempelajari
titrasi amatlah penting bagi mahasiswa yang mengambil jurusan kimia dan
bidang-bidang yang berhubungan dengannya. Titrasi sampai sekarang masih
banyak dipakai di laboratorium industri disebabkan teknik ini cepat dan
tidak membutuhkan banyak reagen. Titrasi
merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan
untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana
penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang
sudah diketahui konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume
dalam titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada kalanya
sampai saat ini banyak orang yang menyebut titrasi dengan nama analisis
volumetri.
Titik
equivalent dapat ditentukan dengan berbagai macam cara, cara yang umum
adalah dengan menggunakan indicator. Indikator akan berubah warna dengan
adanya penambahan sedikit mungkin titran, dengan cara ini maka kita
dapat langsung menghentikan proses titrasi. Tetapi selain itu juga dapat
menggunakan alat yang disebut dengan konduktometer. Tidak semua zat bisa ditentukan dengan cara titrasi akan tetapi kita harus memperhatikan syarat-syarat titrasi untuk mengetahui zat apa saja yang dapat ditentukan dengan metode titrasi untuk berbagai jenis titrasi yang ada. Mengenal berbagai macam peralatan yang dipergunakan dalam titrasipun sangat berguna agar kita mahir melakukan teknik titrasi
Titrasi konduktometri merupakan salah satu dari sekian banyak macam –
macam titrasi. Didalam titrasi konduktometri ini tidak terlalu berbeda
jauh dari titrasi – titrasi yang lainya, yang membedakan biasanya hanya
terdapat bagaimana cara untuk mengetahui titik ekivalen dari larutan
itu. Kalau kita menggunakan titrasi volumetri yang biasa kita praktikan
sebelumnya titik ekivalen diketahui ketika terjadi perubahan warna, zat
itu akan mengalami peruban warna bila zat itu dalam keadaan setimbang.
Untuk mempermudah kita untuk melihat zat itu sudah mencapai ekivalen
maka digunakan indikator. Tetpai banyak sekali para praktikan yang
merasa kesulitan untuk menentukan dengan tepat titik ekivalen dengan
menggunkan titrasi volumetri ini. Maka kami membuat makalah yang
berjudul titrasi kondutometri ini, titrasi konduktometri ini lebih mudah
jika dibandingkan dengan titrasi lainya, walaupun ada kelemahan tetapi
juga ada kelebihanya. Titik ekivalen dapat kita ketahui dari daya hantar
dari larutan yang kita ukur, jika daya hantar sudah konstan berarti
titrasi sudah mencapai ekivalen. Titrasi ini juga tidak perlu
menggunakan indikator, untuk lebih jelasnya akan dijelaskan dalam bab
selanjutnya.
B. Tinjauan Pustaka
konduktometri
merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi bukanlah prosedur
titrasi. Metode konduktansi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi
titrasi jika perbedaan antara konduktansi cukup besar sebelum dan
sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui. Berarti selama
pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda harus tetap. Hantaran
sebanding dengan konsentrasi larutan pada temperatur tetap, tetapi
pengenceran akan menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linear
lagi dengan konsentrasi (Khopkar, 2003).
Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur
hanya bergantung pada ion-ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion
tersebut. Ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya efek-efek
antar-ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat dan oleh kenaikan derajat
disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah (Bassett, J. dkk., 1994).
Untuk
mengukur konduktivitas suatu larutan, larutan ditaruh dalam sebuah sel,
yang tetapan selnya telah ditetapkan dengan kalibrasi dengan suatu
larutan yang konduktivitasnya diketahui dengan tepat, misal, suatu
larutan kalium klorida standar. Sel ditaruh dalam satu lengan dari
rangkaian jembatan Wheatstone dan resistansnya diukur (Bassett, J. dkk., 1994).
Bila
konsentrasi dinyatakan dalam normalitas, maka harus dikalikan faktor
1000. nilai d/a =S merupakan faktor geometri selnya dan nilainya
konstan untuk suatu sel tertentu sehingga disebut tetapan sel (Khopkar,
2003).
metode
konduktometri memiliki aplikasi yang jauh lebih terbatas ketimbang
prosedur-prosedur visual, potensiometri ataupun amperometri (Bassett, J.
dkk., 1994).
B. Rumusan Masalah
1. Mengapa titrasi konduktometri lebih mudah dai titrai volumetri ?
2. Mengapa titrasi kondukto metri tidak menggunakan indikator ?
3. Mengapa volume tidak berpengaruh terhadap daya hantar larutan ?
C. Hipotesa
1. Karena
titrasi konduktometri lebih efisien dan lebeh efeketif dalam
pengguanaan zat, selain itu juga, kita tidak perlu menggunakan indikator
untuk mengethaui titik ekivalen dari titrasi.
2. Karena
titik ekivalen dapat diketahui dari daya hantar larutan yang terukur
pada konduktometer, yaitu dengan konstannya nilai daya hantar.
3. Karena didalam titrasi konduktometer ini yang berperan penting yaitu konsentrasi dari suatu larutan.
D. Tujuan
1. Mempelajari kelebihan dan kelemahan dari titrasi konduktometri.
2. Mempelajari faktor yang berperan penting dalam proses titrasi konduktometri.
3. Mempelajari perbedaan antara titrasi konduktometri dengan titrasi lainya.
ISI DAN PEMBAHASAN
A.ISI
Konduktometri
merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar listrik suatu
larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan
konsentrasi ion di dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan
dengan pergerakan suatu ion di dalam larutan ion yang mudah bergerak
mempunyai daya hantar listrik yang besar. Daya hantar listrik (G)
merupakan kebalikan dari tahanan (R), sehingga daya hantar listrik
mempunyai satuan ohm-1 . Bila arus listrik dialirkan dalam suatu larutan
mempunyai dua elektroda, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus
dengan luas permukaanelektroda (A) dan berbanding terbalik dengan jarak
kedua elektroda
G = l/R = k (A / l)
dimana
k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm -1 cm -1. Daya Hantar
Ekivalen (Equivalen Conductance) . Kemampuan suatu zat terlarut untuk
menghantarkan arus listrik disebut daya hantar ekivalen (^) yang
didefinisikan sebagai daya hantar satu gram ekivalen zat terlarut di
antara dua elektroda dengan jarak kedua electroda 1cm. Yang dimaksud
dengan berat ekuivalen adalah berat molekul dibagi jumlah muatan positif
atau negatif. Contoh berat ekivalen BaCl2 adalah BM BaCl2 dibagi dua.
Volume larutan (cm3) yang mengandung satu gram ekivalen zat terlarut
diberikan oleh,
V = 100 / C
dengan
C adalah konsentrasi (ekivalen per cm-3), bilangan 1000 menunjukkan 1
liter = 1000 cm3. Volume dapat juga dinyatakan sebagai hasil kali luas
(A) dan jarak kedua elektroda (1).
V= l A
Dengan l sama dengan 1 cm
V = A = 100 / C
Substitusi persamaan ini ke dalam persamaan G diperoleh,
G = 1/R = 1000k/C
Daya
hantar ekivalen (^) akan sama dengan daya hantar listrik (G) bila 1
gram ekivalen larutan terdapat di antara dua elektroda dengan jarak 1
cm.^ = 1000k/C Daya hantar ekivalen pada larutan encer diberi simbol
yang harganya tertentu untuk setiap ion. Pengukuran Daya Hantar Listrik.
Pengukuran daya hantar memerlukan sumber listrik, sel untuk menyimpan
larutan dan jembatan (rangkaian elektronik) untuk mengukur tahanan
larutan.
1. Sumber listrik
Hantaran
arus DC (misal arus yang berasal dari batrei) melalui larutan merupakan
proses faradai, yaitu oksidasi dan reduksi terjadi pada kedua
elektroda. Sedangkan arus AC tidak memerlukan reaksi elektro kimia pada
elektroda- elektrodanya, dalam hal ini aliran arus listrik bukan akibat
proses faradai. Perubahan karena proses faradai dapat merubah sifat
listrik sel, maka pengukuran konduktometri didasarkan pada arus
nonparaday atau arus AC.
2. Tahanan Jembatan
Jembatan Wheatstone merupakan jenis alat yang digunakan untuk pengukuran daya hantar.
3. Sel
Salah
satu bagian konduktometer adalah sel yang terdiri dari sepasang
elektroda yang terbuat dari bahan yang sama. Biasanya elektroda berupa
logam yang dilapisi logam platina untuk menambah efektifitas permukaan
elektroda. Titrasi Konduktometri Metode konduktometri dapat digunakan
untuk menentukan titik ekivalen suatu titrasi, berupa beberapa contoh
titrasi konduktometri dibahas berikut, Titrasi asam kuat- basa kuat
Sebagai contoh lrutan HCl dititrasi ole NaOH. Kedua larutan ini adalah
penghantar listrik yang baik. Kurva titrasinya ditunjukkan pada gambar
di bawah ini. daya hantar H+ turun sampai titik ekivalen tercapai. Dalam
hal ini jumlah H+ makin berkurang di dalam larutan, sedangkan daya
hantar OH- berrtambah setelah titik ekivalen (Te) tercapai karena jumlah
OH- di dalam larutan bertambah. Jumlah ion Cl- di dalam larutan tidak
berubah, karena itu daya hantar konstan dengan penambahan NaOH. Daya
hantar ion Na+ bertambah secara perlahan-lahan sesuai dengan jumlah ion
Na+.
Hal-hal berikut harus selalu diingat-ingat ketika melakukan titrasi :
1. Penyesuaian pH.
Untuk banyak titrasi EDTA, pH larutan sangatt menentukan sekali;
seringkali harus dicapai batas-batas dari 1 satuan pH dan sering
batas-batas dari 0,5 satuan pH harus dicapai, agar suatu titrasi yang
sukses dapat dilakukan. Untuk mencapai batas-batas kontrol yang begitu
sempit, perlu digunakan sebuah pH-meter sewaktu menyesuaikan nilai pH
larutan, dan bahkan untuk kasus di mana batas pH adalah sedemikian
sehingga kertas uji pH boleh digunakan untuk mengontrol penyesuain pH,
hanyalah kertas dari jenis dengan jangkau yang sempit boleh digunakan.
2. Pemekatan ion logam yang akan dititrasi.Kebanyakan titrasi berhasil dengan baik dengan 0,25 milimol ion logam yang bersangkutan dalam volume 50-150 cm3
larutan. Jika konsentrasi ion logam itu terlalu tinggi; maka titik
akhir mungkin akan sangat sulit untuk dibedakan, dan jika kita mengalami
kesulitan dengan titik akhir, maka sebaiknya mulailah lagi dengan satu
porsi larutan uji yang lebih sedikit, dan encerkan ini sampai 100-150 cm3 sebelum menambahkan medium pembufer dan indikator, lalu diulangi titrasi itu.
3. Banyaknya indicator.
Penambahan indicator yang terlalu banyak merupakan kesalahan yang harus
kita hindarkan. Dalam banyak kasus, warna yang ditimbulakan oleh
indicator sanagt sekali bertambah kuat selama jalannya titrasi, dan
labih jauh, banayak indicator memperlihatkan dikroisme, yaitu terjadi
suatu perubahan warna peralihan pada satu dua tetes sebelum tiik akhir
yang sebenarnya.
4. Pencapaian titik-akhir.
Dalam banyak titrasi EDTA, perubahan warna disekitar titik akhir,
mungkin lambat. Dalam banyak hal-hal demikian, sebaiknya titran
ditambahkan dengan hati-hati sambil larutan terus menerus diaduk;
dianjurkan untuk memakai pengaduk magnetic. Sering, titik akhir yang
lebih tajam dapat dicapai jika larutan diapnaskan samapi sekitar
kira-kira 40OC. Titrasi dengan CDTA selalu lebih lambat dalam daerah titik akhir divbanding dengan titrasi EDTA padanan.
5. Deteksi perubahan warna. Dengan semua indicator ion logam yang digunakan pada titrasi kompleksometri, deteksi titik akhir
dan titrasi bergantung pada pengenalan suatu perubahan warna yang
tertentu; bagi banyak pengamat, ini dapat merupakan tugas yang sulit,
dsan bagi yang menderita buta warna, bolehlah dikata mustahil.
Kesulitan-kesulitan ini dapat diatasi dengan menggantikan mata dengan
suatu fotosel yang jauh lebih peka, dan meniadakan unsurt manusiawi.
Untuk melakukan operasi yang dituntut, perlu tersedia sebuah kolorimeter
atau spektrofotometer dalam mana kompartemen kuvetnya adaalh cukup
besar untuk memuat bejana titrasi (labu Erlenmeyer atau piala berbentuk
tinggi) Spektrofotometer Unicam SP 500 merupakan contoh dari instrumen
yang sesuai untuk tujuan ini, dan sejumlah fototitrator tersedia secara
komersial.
6. Metode lain untuk mendeeksi titik akhir. Disamping deteksi secara visualdan secara spektrofotometri
dari titik akhir dalam titrasi EDTA denagn bantuan indicator ion logam,
metode berikut ini juga tersedia untuk deteksi titik akhir.
a. Titrasi potensiometer dengan memakai sebuah electrode merkurium
b. Titrasi
potensiometer dengan memakai sebuah electrode ion selektif yang
berespons terhadap ion yang sedang dititrasi.
c. Titrasi
potensiometri dengan memekai sebuah system electrode platinum mengkilat
kalomel jenuh, ini dapat dipakai bila reaksi melibatkan dua keadaan
oksidasi berlainan (dari) suatu logam tertentu
d. Dengan titarasi titrasi konduktometri
e. Dengan titrasi amperometri
f. Dengan titrasi entalpimetri
Aplikasa Titrasi Kondukto Metri
Dasar Analisis Tablet Aspirin dengan Metode Titrasi Konduktometri
Menurut hukum Ohm I = E/Reaksi; di mana: I = arus dalam ampere, E = tegangan dalam volt, Reaksi
= tahanan dalam ohm. Hukum di atas berlaku bila difusi dan reaksi
elektroda tidak terjadi. Konduktansi sendiri didefinisikan sebagai
kebalikan dari tahanan sehingga I = EL. Satuan dari hantaran (konduktansi) adalah mho. Hantaran L suatu larutan berbanding lurus pada luas permukaan elektroda a, konsentrasi ion persatuan volume larutan Ci, pada hantaran ekivalen ionik S1, tetapi berbanding terbalik dengan jarak elektroda d, sehingga:
L = a/d x S Ci S1
Tanda S menyatakan bahwa sumbangan berbagai ion terhadap konduktansi bersifat aditif. Karena a, dan d
dalam satuan cm, maka konsentrasi C tentunya dalam ml. Bila konsentrasi
dinyatakan dalam normalitas, maka harus dikalikan faktor 1000. nilai
d/a = S merupakan faktor geometri selnya dan nilainya konstan untuk
suatu sel tertentu sehingga disebut tetapan sel. Untuk mengukur
konduktivitas suatu larutan, larutan ditaruh dalam sebuah sel, yang
tetapan selnya telah ditetapkan dengan kalibrasi dengan suatu larutan
yang konduktivitasnya diketahui dengan tepat, misal, suatu larutan
kalium klorida standar. Sel ditaruh dalam satu lengan dari rangkaian
jembatan Wheatstone dan resistansnya diukur. Pengaliran arus melalui
larutan suatu elektrolit dapat menghasilkan perubahan-perubahan dalam
komposisi larutan di dekat sekali dengan lektrode-elektrode, begitulah
potensial-potensial dapat timbul pada elektrode-elektrode, dengan akibat
terbawanya sesatan-sesatan serius dalam pengukuran-pengukuran
konduktivitas, kecuali kalau efek-efek polarisasi demikian dapat
dikurangi sampai proporsi yang terabaikan.
Konduktivitas
suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur hanya bergantung pada
ion-ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Bila larutan suatu
elektrolit diencerkan, konduktivitas akan turun karena lebih sedikit ion
berada per cm3 larutan untuk membawa arus. Jika semua
larutan itu ditaruh antara dua elektrode yang terpisah 1 cm satu sama
lain dan cukup besar untuk mencakup seluruh larutan, konduktans akan
naik selagi larutan diencerkan. Ini sebagian besar disebabkan oleh
berkurangnya efek-efek antar-ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat dan
oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah.
Penambahan
suatu elektrolit kepada suatu larutan elektrolit lain pada
kondisi-kondisi yang tak menghasilkan perubahan volume yang berarti akan
mempengaruhi konduktans (hantaran) larutan, tergantung apakah ada
tidaknya terjadi reaksi-reaksi ionik. Jika tak terjadi reaksi ionik,
seperti pada penambahan satu garam sederhana kepada garam sederhana lain
(misal, kalium klorida kepada natrium nitrat), konduktans hanya akan
naik semata-mata. Jika terjadi reaksi ionik, konduktans dapat naik atau
turn; begitulah pada penambahan suatu basa kepada suatu asam kuat,
hantaran turun disebabkan oleh penggantian ion hidrogen yang
konduktivitasnya tinggi oleh kation lain yang konduktivitasnya lebih
rendah. Ini adalah prinsip yang mendasari titrasi-titrasi konduktometri
yaitu, substitusi ion-ion dengan suatu konduktivitas oleh ion-ion dengan
konduktivitas yang lain.
Biasanya
konduktometri merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi
bukanlah prosedur titrasi. Metode konduktansi dapat digunakan untuk
mengikuti reaksi titrasi jika perbedaan antara konduktansi cukup besar
sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui.
Berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda harus
tetap. Hantaran sebanding dengan konsentrasi larutan pada temperatur
tetap, tetapi pengenceran akan menyebabkan hantarannya tidak berfungsi
secara linear lagi dengan konsentrasi. Hendaknya diperhatikan pentingnya
pengendalian temperatur dalam pengukuran-pengukuran konduktans.
Sementara penggunaan termostat tidaklah sangat penting dalam titrasi
konduktometri, kekonstanan dalam temperatur dituntut, tetapi biasanya
kita hanya perlu menaruh sel konduktivitas itu dalam bejana besar penuh
air pada temperatur laboratorium. Penambahan relatif (dari)
konduktivitas larutan selama reaksi dan pada penambahan reagensia dengan
berlebih, sangat menentukan ketepatan titrasi; pada kondisi optimum
kira-kira 0,5 persen. Elektrolit asing dalam jumlah besar, yang tak
ambil bagian dalam reaksi, tak boleh ada, karena zat-zat ini mempunyai
efek yang besar sekali pada ketepatan. Akibatnya, metode konduktometri
memiliki aplikasi yang jauh lebih terbatas ketimbang prosedur-prosedur
visual, potensiometri ataupun amperometri.
Asam
salisilat adalah golongan khusus dari asam hidroksi. Penggunaan utama
dari asam salisilat adalah dalam pembuatan aspirin. Reaksi dengan
anhidrida asetat mengubah gugus hidroksil fenolik dari asam salisilat
menjadi ester asetil, yaitu aspirin :

B. PEMBAHASAN
Didalam
titrasi konduktometri kita akan mendapatkan beberapa kemudahan yang
mungkin tidak kita dapatkan jika kita menggunkan dengan titrasi lainya,
misal tidak menggunakan indikator, karena dalam titrasi konduktometri
ini kita hanya mengukur daya hantar larutan. Jadi dalam titrasi
konduktometri ini kita tidak perlu mencari titik eivalen dengan melihat
adanya perubahan warna. Walaupun demikian masih banyak kelemahan –
kelamahan dalam titrasi konduktometri ini. Karena kita tahu bahwa dalam
titrasi konduktometri hanya terbatas untuk larutan yang tergolong
kedalam larutan elektrolit saja. Sedangkan untuk larutan non elektrolit
tidak dapat menggunakan titrasi onduktometri. Titrasi konduktometri ini
sangat berhubungan dengan daya hantar listrik, jadi juga akan
berhubungan dengan adanya ion – ion dalam larutan yang berperan untuk
menghantarkan arus listrik dalam larutan. Arus listrik ini tidak akan
bisa melewati larutan yang tidak terdapat ion – ion, sehingga larutan
non elektrolit tidak bisa menghantarkan arus listrik.
Dalam
titrasi konduktometri ini juga sangat berhubungan dengan konsentrasi
dan temperatur dari larutan yang akan ditentukan daya hantarnya.
Sehingga ikita harus menjaga temperatur larutan agar berada dalam
keadaan konstan, sehingga kita dapat memebedakan perbedaan dari daya
hantar larutan hanya berdasarkan perbedaan konsentrasi saja. Jika
temperatur berubah – ubah maka bisa saja konsentrasi yang besar
seharusnya memilki daya hantar yang besar malah memiliki daya hantar
yang kecil karena suhunya menurun. Sehingga ion – ion dalam larutan
tidak dapat begeraka dengan bebas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Daya hantar listrik dalam titrasi konduktometri sangat berhubungan dengan konsentrasi dan gerakan bebas dari ion.
2. Tiitik ekivalen dari titrasi konduktometri ditandai dengan konstanya nilai daya hantar yang tertera dalam konduktometri.
3. Titrasi kondukto metri hanya dapat digunakan untuk larutan elektrolit.
3.2 Saran
1. Dalam melakukan titrasi konduktometri kita harus memperhatikan konsentrasi dari larutan yang kita tentukan daya hantarnya.
2. Dalam titrasi konduktometri ini kita harus menjaga agar suhu tetap konstan.
3. Sebelum melakukan titrasi kita harus mengetahui terlebh dahulu apakah larutan itu merupakan larutan elektrolit atau bukan.
4. Dalam melakukan pengukuran diusahakan agar elektroda tercelup secara sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Alex Pepsega Indra putra, september 2012. http://alexschemistry.blogspot.com/
Anonim,
mei 2010. http://www.Dasar Analisis Tablet Aspirin dengan Metode
Titrasi Konduktometri _ BLoG kiTa.htm. Diakses pada 2 mei 2010.
Anonim, mei 2010. http://www. Apa itu titrasi_Kimia analisa.htm. Diakses pada 2 mei 2010.
No comments:
Post a Comment