Proses Flokulasi
Dilakukan
setelah proses koagulasi. Setelah proses koagulasi, partikel-partikel
terdestabilisasi dapat saling bertumbukan membentuk agregat sehingga terbentuk
flok, tahap ini disebut “Flokulasi”. Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (
penggumpalan ) partikel-partikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran
yang memungkinkan dapat dipisahkan oleh proses sedimentasi dan filtrasi. Dengan
kata lain proses flokulasi adalah adalah proses pertumbuhan flok (partikel
terdestablisasi atau mikroflok) menjadi flok dengan ukuran yang lebih besar (
makroflok ).
Flokulator
berjalan dengan kecepatan lambat dengan maksud terjadi pembentukan flok yang
siap untuk diendapkan. Di dalam proses flokulasi ini pengadukan dilakukan
secara bertahap yaitu dari kekuatan besar kemudian mengecil supaya flok yang
sudah dibentuk tidak terpecah kembali.
Mekanisme
terjadinya gumpalan
Aluminium
atau besi akan bereaksi dengan alkalinitas dalam air. Alkalinitas adalah
kemampuan untuk menetralkan asam. Poly Aluminium Chlorida bekerja pada interval
pH 6-9 dengan pH netral adalah 7. Reaksi ini menghasilkan Al(OH)3 yang
mengendap. Pada reaksi ini akan membebaskan asam yang menurut pH larutan dan
bereaksi dengan alkalinitas. Reaksi tersebut tidak sederhana karena
hidroksida-hidroksida Al dan Fe ternyata terbentuk ion-ion yang lain
menunjukkan reaksi yang amat kompleks.
Pada
penambahan garam Aluminium atau besi, akan segera terbentuk ion-ion polimer dan
dapat terserap oleh partikel-pertikel. PAC benar-benar menggumpalkan zat-zat
tersuspensi dan koloid dalam air untuk menghasilkan flok yang belum sempurna,
lalu Ca(OH)2 berperan untuk mengikat flok-flok yang belum sempurna tersebut
menjadi flok-flok yang lebih sempurna, dengan perbandingan 0,30 ml PAC dan 0,90
ml Ca(OH)2 dalam 500 ml air baku pada uji jar test di laboratorium. Ca(OH)2
bekerja pada pH basa sebagai flokulan yang menetralisir pH asam yaitu PAC
sebagai koagulan, yang kemudian membentuk flok-flok yang lebih sempurna dan
mempercepat pengendapan dalam penyaringan partikel koloid, yang akan
terselubungi oleh koagulan. Muatan partikel koloid dan hasil hidrolisa akan
saling menetralkan sehingga muatan dari partikel ini mengecil, hingga
tergantung dari pH serta semacam dosis koagulan, maka besarnya zat potensial
yang akan diturunkan atau diubah dari sedikit negatif menjadi netral dan
akhirnya posif, dan suspensi ini tidak stabil sehingga terjadi penggumpalan
sampai ukuran yang dapat mengendap.
Bahkan
koagulan dapat terhidrolisa dan dapat terbentuk masa yang lebih besar, dalam
hal ini partikel koloid menarik dan menggabungkan sehingga terbentuk gumpalan
dan terjadilah pengendapan yang sempurna dalam tangki flokulator.
Reaksi
kimia untuk menghasilkan flok adalah :
Al2(SO4)3.14H2O+3Ca(HCO3)2
à
2Al(OH)3+3CaSO4+14H2O+6CO2
Pada
air yang mempunyai alkalinitas tidak cukup untuk bereaksi dengan alum, maka
perlu ditambahkan alkalinitas dengan menambah kalsium hidroksida.
Al2(SO4)3.14H2O
+ 3Ca(HCO3)2 à 2Al(OH)3 +
3CaSO4 + 14H2O
Ferro
sulfat membutuhkan alkalinitas dalam bentuk ion hidroksida agar menghasilkan
reaksi yang cepat. Untuk itu, Ca(OH)2 ditambahkan untuk mendapatkan
pH pada level dimana ion besi diendapkan sebagai Fe(OH)3. Reaksi ini
adalah reaksi oksidasi-reduksi yang membutuhkan oksigen terlarut air. Dalam
reaksi koagulasi, oksigen direduksi dan ion besi dioksida menjadi ferri, dimana
akan mengendap sebagai Fe(OH)3.
2FeSO4.7H2O
+ 2Ca(OH)2 + 1/2 O2 à 2Fe(OH)3 +
2CaSO4 + 13H2O
Untuk
berlangsungmya reaksi ini, pH harus sekitar 9,5 dan kadang-kadang stabilisasi
membutuhkan kapur berlebih.
Penggunaan
ferri sulfat sebagai koagulan berlangsung mengikuti reaksi :
Fe2(SO4)3
+ 3Ca(HCO3)2 à 2Fe(OH)3 +
3CaSO4 + 6CO2
Reaksi
ini biasanya menghasilkan flok yang padat dan cepat mengendap. Jika alkilinitas
alami tidak cukup untuk reaksi, diperlukan penambahan kapur. Rentang pH optimum
adalah sekitar 4 hingga 12, karena ferri hidroksida relatif tidak larut dalam
rentang pH ini.
Reaksi
ferri klorida sebagai koagulan berlangsung sebagai berikut:
2FeCl3+3Ca(OH)2
à
2Fe(OH)3+CaCl2+6CO2
Penambahan
kapur diperlukan bila alkalinitas alami tidak mencukupi.
2FeCl3+3Ca(OH)2
à
2Fe(OH)3+3CaCl2
Reaksi
ferri klorida berlangsung pada pH optimum 4 sampai 12. Flok yang terbentuk
umumnya padat dan cepat mengendap.
Terdapat
2 perbedaan pada proses flokulasi yaitu :
1. Flokulasi
perikinetik, adalah Aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran µm dengan
mengandalkan gerakan Brownian, biasanya koagulan ditambahkan untuk meningkatkan
flokulasi perikinetik.
2. Flokulasi
ortokinetik, adalah Aglomerasi partikel-partikel sampai ukuran diatas 1 µm,
dimana gerakan Brownian diabaikan pada kecepatan tumbukan antar partikel,
tetapi memerlukan pengaduk buatan ( artificial mixing ). dapat dikurangi dengan
proses koagulasi (proses destabilisasi) melalui penambahan bahan kimia dengan
muatan berlawanan. Terjadinya muatan pada partikel menyebabkan antar partikel
yang berlawanan cenderung bergabung membentuk inti flok. Proses koagulasi
selalu diikuti oleh proses flokulasi, yaitu penggabungan inti flok atau flok
kecil menjadi flok yang berukuran besar.
Alat
dan bahan
Alat
:
1. Terjunan
hidrolis
Metode pengadukan
terjunan air merupakan metode pengadukan hidrolis yang simple dalam
operasional. Besar headloss selama pengadukan dipengaruhi oleh tinggi jarak
terjunan yang dirancang. Metode ini tidak membutuhkan peralatan yang bergerak
dan semua peralatan yang digunakan berupa peralatan diam/statis.
2. loncatan
hidrolis
3. parshall
flume
4. baffle
basin ( baffle channel )
Bentuk aliran dalam
saluran baffle ada dua macam, yang paling umum digunakan yaitu pola aliran
mendatar (round end baffle channel) dan pola aliran vertikal (over and under
baffle).
5. perforated
wall
6. gravel
bed
Pengadukan
Faktor
penting pada proses koagulasi-flokulasi adalah pengadukan. Tujuan pengadukan
adalah untuk menciptakan tumbukan antar partikel yang ada dalam air baku. Dalam
proses koagulasi, pengadukan akan membantu meratakan koagulan yang telah
dibubuhkan dengan partikel-partikel koloid. Sedangkan pada proses flokulasi,
pengadukan akan menumbukkan partikel-partikel flok yang telah terbentuk hingga
menjadi suatu gumpalan yang cukup besar untuk diendapkan. Dengan demikian, yang
menjadi fokus utama dalam pengadukan adalah proses tumbukan.
Berdasarkan
kecepatannya, pengadukan dibedakan menjadi dua, yaitu pengadukan cepat dan
pengadukan lambat.
Pengadukan
cepat (flash mixing) merupakan bagian integral dari proses koagulasi. Tujuan
pengadukan cepat adalah untuk mempercepat dan menyeragamkan pe nyebaran zat
kimia melalui air yang diolah. Pengadukan cepat yang efektif sangat penting
ketika menggunakan koagulan logam seperti alum dan ferric chloride, karena
proses hidrolisisnya terjadi dalam hitungan detik dan selanjutnya terjadi
adsorpsi partikel koloid.
proses hidrolisisnya terjadi dalam hitungan detik dan selanjutnya terjadi
adsorpsi partikel koloid.
Kecepatan
pengadukan dinyatakan dengan gradient kecepatan (G), yang merupakan fungsi dari
tenaga yang disuplai (P)
Rumus
: √P/V.µ
Dalam
hal ini :
P
= suplai tenaga ke air (N.m/detik)
V
= volume air yang diaduk, m3
µ
= viskositas absolute air, N.detik/m2
Pengadukan
cepat adalah pengadukan yang dilakukan dengan gradient kecepatan besar ( 300
sampai 1000 detik -1 ), sementara pengadukan lambat adalah
pengadukan yang dilakukan dengan gradient kecepatan kecil ( 20 sampai 100 detik-1
). Waktu pengadukan juga berbeda. Pada pengadukan cepat, waktu yang diperlukan
tidak lebih dari 1 menit, sementara pengadukan lambat membutuhkan waktu 15
hingga 60 menit.
Pengadukan
dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara mekanis, hidrolis dan pneumatik.
Pengadukan mekanis adalah metode pengadukan dengan menggunakan alat pengaduk
berupa impeller yang digerakkan dengan motor bertenaga listrik. Umumnya
pengadukan mekanis terdiri dari motor, poros pengaduk, dan gayung pengaduk (
impeller ). Pengadukan lambat secara mekanis umumnya memerlukan tiga
kompartemen dengan ketentuan G di kompartemen I lebih besar daripada G di
kompartemen II dan G di kompartemen III adalah yang paling kecil.
Pengadukan
hidrolis adalah pengadukan yang memanfaatkan gerakan air sebagai tenaga
pengadukan. Sistem pengadukan ini menggunakan energi hidrolik yang dihasilkan
dari suatu aliran hidrolik. Energi hidrolik dapat berupa energi gesek, energi
potensial (jatuhan) atau adanya lompatan hidrolik dalam suatu aliran. Beberapa
contoh pengadukan hidrolis adalah terjunan, loncatan hidrolis, parshall flume,
baffle basin (baffle channel), perforated wall, gravel bed, dan sebagainya.
Pengadukan
pneumatis adalah pengadukan yang menggunakan udara ( gas ) berbentuk gelembung
yang dimasukkan ke dalam air sehingga menimbulkan gerakan pengadukan pada air.
Injeksi udara bertekanan ke dalam suatu badan air akan menimbulkan turbulensi,
akibat lepasnya gelembung udara ke permukaan air. Makin besarnya tekanan udara,
kecepatan gelembung udara yang dihasilkan makin besar dan diperoleh turbulensi
yang makin besar pula.
informasinya sangat bermanfaat
ReplyDeletethanks gan
ReplyDelete