A.
Bahan Dasar Teflon
Teflon adalah
polytetrafluoroethylene (PTFE) yang berasal dari bahan dasar fluorocarbon solid, karena berat molekul
senyawa seluruhnya terdiri dari karbon dan fluor. Struktur
molekul teflon adalah berupa rantai atom karbon yang panjang, mirip dengan
polimer lainnya. Rantai atom yang panjang ini dikelilingi oleh atom fluor.
Ikatan antara atom karbon dengan fluor sangat kuat.
Karbon terdapat di dalam semua makhluk hidup dan merupakan dasar kimia organik. Unsur ini juga memiliki keunikan
dalam kemampuannya untuk membentuk ikatan kimia dengan sesama karbon maupun
banyak jenis unsur lain, membentuk hampir 10 juta jenis senyawa yang diketahui. Unsur ini adalah unsur
yang paling stabil diantara unsur-unsur yang lain.
Fluor adalah unsur yang paling elektronegatif
dan reaktif bila dibandingkan dengan semua unsur. Berwarna kuning pucat, gas
korosif, yang bereaksi dengan banyak senyawa organik dan anorganik, seperti
logam, kaca, keramik, karbon, bahkan air terbakar dalam fluor dengan nyala yang
terang. Fluor sangat reaktif sehingga jarang ditemukan dalam keadaan bebas,
fluor biasa dijumpai berikatan dengan unsur atau senyawa lain.
Pada
proses pembuatan teflon digunakan juga zat kimia lain yang bernama
Perfluorooctanoic acid (PFOA atau C8) yang merupakan garam ammonia. Zat
ini digunakan sebagai surfaktan dalam emulsi polimer PTFE. Karena itu zat kimia
pada lapisan antilengket mengandung berbagai logam yang berbahaya seperti
mercuri dan zat PFOA yang bersifat karsinogen.
Teflon juga merupakan bahan sintetik yang sangat
kuat, umumnya berwama putih. Teflon tahan terhadap panas sampai kira-kira
250°C, dan diatas 250°C teflon mulai melunak, di dalam api akan meleleh dan
sulit menjadi arang. Berat jenisnya kira-kira 2,2 g/cmI. Teflon tidak tahan
terhadap larutan alkali hidroksida. Juga kurang tahan terhadap hidrokarbon yang
mengandung khlor.
B.
Cara Pembuatan
Pembentukan Material PTFE pada dasarnya adalah
sebuah bentuk tetrafluoroetilena dipolimerisasi (TFE), yang merupakan
senyawa yang dapat diciptakan melalui kombinasi kloroform, asam klorida, dan
fluorspar. Zat kimia ini ditempatkan dalam ruang reaksi dipanaskan sampai
antara 1000 dan 1700 derajat Fahrenheit, kemudian didinginkan dan
dimurnikan untuk menghilangkan kontaminan. Pada tahap awal, TFE adalah gas
beracun tidak berbau dan biasanya bertekanan dan disimpan dalam keadaan cair
sebelum produksi teflon dapat dimulai. TFE sangat mudah terbakar, terutama
dalam bentuk gas, sehingga beberapa produsen PTFE memproduksi on-site untuk
menghindari potensi risiko yang terlibat dalam pengangkutan ke fasilitas
terpisah.
Teflon (polytetrafluoroethylene) dapat
diproduksi melalui beberapa cara, tergantung pada sifat tertentu yang
diinginkan untuk produk akhir. Many specifics of the process are proprietary
secrets of the manufacturers.Ada dua metode utama untuk memproduksi Teflon
(polytetrafluoroethylene). One is suspension polymerization. Pertama adalah
polimerisasi suspensi, In this method, the TFE is polymerized in water,
resulting in grains of PTFE. dalam metode ini TFE (tetrafluoroetilena) ini
dipolimerisasi dalam air, sehingga menjadi butiran PTFE. Biji-bijian ini bisa
diolah lebih lanjut menjadi pelet yang dapat dibentuk . In the dispersion method, the
resulting PTFE is a milky paste which can be processed into a fine powder.
Kedua adalah metode dispersi, teflon
(polytetrafluoroethylene) yang dihasilkan adalah susu pasta yang dapat diolah
menjadi bubuk halus, baik pasta dan bubuk yang digunakan dalam aplikasi
coating.
1. Polimerisasi Suspensi
a.
Ruang reaksi diisi dengan air murni dan agen reaksi atau inisiator,
bahan kimia yang akan memicu pembentukan polimer. Kemudian TFE cair disalurkan
ke dalam ruang reaksiAs the TFE meets the initiator, it begins to polymerize.
maka polimerisasi dimulai. The resulting PTFE forms solid grains that float to
the surface of the water. PTFE dihasilkan bentuk butiran padat yang mengapung
ke permukaan air. As this is happening, the reaction chamber is mechanically
shaken.The chemical reaction inside the chamber gives off heat, so the chamber
is cooled by the circulation of cold water or another coolant in a jacket around
its outsides.Reaksi kimia di dalam ruangan mengeluarkan panas, sehingga ruangan
didinginkan oleh sirkulasi air dingin atau pendingin lain. Controls
automatically shut off the supply of TFE after a certain weight inside the
chamber is reached. Kontrol otomatis mematikan pasokan TFE setelah berat
tertentu di dalam ruang tercapai. The water is drained out of the chamber,
leaving a mess of stringy PTFE which
looks somewhat like grated coconut.
b.
Selanjutnya, PTFE dikeringkan dan dimasukkan ke sebuah gilingan. The
mill pulverizes the PTFE with rotating blades, producing a material with the
consistency of wheat flour.Gilingan pulverizes dengan pisau yang berputar akan
menghasilkan bubuk halus. This fine powder is difficult to mold.Bubuk halus ini
masih sulit untuk dicetak, It has "poor flow," meaning it cannot
be processed easily in automatic equipment.So manufacturers convert this fine
powder into larger granules by a process called agglomeration .jadi harus
diubah menjadi butiran yang lebih besar dengan proses yang disebut Aglomerasi. This can be done
in several ways.Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara. One method is to
mix the PTFE powder with a solvent such as acetone and tumble it in a
rotating drum.Salah satu metode adalah untuk mencampur bubuk PTFE dengan pelarut seperti aseton. The PTFE grains stick
together, forming small pellets. Butiran PTFE tetap menyatu, membentuk pelet
kecil. The pellets are then dried in an oven .Pelet kemudian
dikeringkan dalam oven.
c.
Pelet PTFE dapat dicetak menjadi bagian-bagian dengan menggunakan
berbagai teknik. However, PTFE may be sold in bulk already pre-molded into
so-called billets, which are solid cylinders of PTFE.The billets may be 5 ft
(1.5 m) tall.Billet dengan ukuran tinggi 5 ft (1,5 m)These can be cut into
sheets or smaller blocks, for further molding. ini dapat dipotong menjadi lembaran
atau blok yang lebih kecil, untuk dicetak lebih lanjut. To form the billet , PTFE pellets are
poured into a cylindrical stainless steel mold. Untuk membentuk billet , pelet PTFE yang
dituangkan ke dalam cetakan baja stainless silinder. The mold is loaded onto a
hydraulic press, which is something like a large cabinet equipped with weighted
ram. Cetakan dimasukkan ketekanan hidrolik
d.
The molded PTFE is heated in the sintering oven for several hours,
until it gradually reaches a temperature of around 680°F (360°C).PTFE dicetak
dan dipanaskan dalam oven sintering selama beberapa jam, sampai secara bertahap
mencapai suhu sekitar 680 ° F (360 ° C)This is above the melting point of PTFE.
diatas titik leleh PTFE. The PTFE particles coalesce
and the material becomes gel-like.Partikel ini menyatu
dan materi menjadi seperti gel. Then the PTFE is gradually cooled. Kemudian
PTFE secara bertahap didinginkan, kemudianThe finished billet can be shipped to
customers, who will slice
or shave
it into smaller pieces, for further processing. setelah selesai dapat
dikirimkan kepada pelanggan, yang akan mengiris
menjadi potongan-potongan kecil, untuk diproses lebih lanjut.
2.
Dispersi polimerisasi
Polymerization of PTFE by the dispersion
method leads to either fine powder or a paste-like substance, which is more
useful for coatings and finishes. Polimerisasi dari PTFE dengan metode dispersi
berupa bubuk halus atau zat pasta yang lebih berguna untuk coating. TFE is
introduced into a water-filled reactor along with the initiating chemical TFE
dimasukkan ke reaktor berisi air bersama dengan karbon dan fluor. Instead of
being vigorously shaken, as in the suspension process, the reaction chamber is
only agitated gently.Sebagian air
akan dikurangi, dengan menyaring atau dengan menambahkan bahan kimia. Hasilnya
adalah zat susu disebut dispersi PTFE. It can be used as a liquid, especially
in applications like fabric finishes. Hal ini dapat digunakan sebagai Or it may
be dried into a fine powder used to coat metal.pelapis logam.Suspension
Polymerization
Setelah pendinginan, siap untuk setiap langkah
perakitan akhir, dan pengemasan dan pengiriman.
Now the pan is ready for
coating with PTFE dispersion
C. Sifat Mekanik
Beberapa sifat mekanik yang ada pada bahan teflon antara lain sebagai
berikut.
1)
Kekuatan (strength) dan ketangguhan (toughness)
A.
Sifat sintetisnya sangat Kuat
·
tahan panas dari 100 sampai 250 °C.
·
tidak bisa menjadi arang jika dibakar
B.
Teflon memiliki titik leleh 342°C.
C.
Tidak tahan oleh alkali hidroksida dan kurang tahan dengan hidrokarbon
yang mengandung khlor.
D.
Tahan akan gesekan.
E.
Tahan akan kimia kecuali alkali hidroksida dan hidrokarbon.
F.
Karena teflon adalah termasuk bahan penyekat maka teflon tahan oleh uap
air.
2) Memiliki
resistivitas atau hambatan listrik yang besar.
3) Kekerasan
(thougness)
Karena teflon termasuk bahan penyekat bentuk padat maka teflon memiliki
kekerasan yang tinggi.
4) Elastisitas
Karena teflon termasuk bahan penyekat bentuk
padat maka teflon memiliki kemampuan elastisitas yang rendah.
PTFE memiliki titik lebur yang relatif tinggi
(dikarenakan oleh kekuatan gaya tarik antara rantai-rantainya) dan sangat
resisten terhadap serangan kimia. Rantai karbon begitu melekat pada atom-atom
fluorin sehingga tidak ada yang bisa mencapainya untuk bereaksi dengannya. Ini
bermanfaat dalam industri kimia dan dalam industri makanan untuk melapisi wadah
dan membuat wadah-wadah tersebut kebal terhadap hampir segala sesuatu yang
dapat membuatnya korosi.
D. Sifat Non Mekanik
Teflon memiliki sifat-sifat yang unik, berikut
diantaranya:
1) Tahan
terhadap banyak bahan kimia, termasuk ozone, chlorine, acetic acid, ammonia, sulfuric
acid, dan hydrochloric
acid. Satu-satunya bahan kimia yang bisa merusak lapisan teflon adalah lelehan
logam alkali.
2)
Anti radiasi Ultra Violet dan tahan segala cuaca.
3) Anti lengket.
4) Bersifat
hidrofobik (tidak suka air).
|
Properti
|
Value Nilai
|
|
Density Kepadatan
|
2200 kg/m 3 2200 kg / m 3
|
|
Melting point Titik lebur
|
327°C 327 ° C
|
|
0.5 GPa 0,5 GPa
|
|
|
23 MPa 23 MPa
|
|
|
Coefficient of friction Koefisien gesekan
|
0.05-0.10 0.05-0.10
|
|
ε=2.1,tan(δ)<5(-4) ε = 2.1, tan (δ) <5 (-4)
|
|
|
Dielectric constant (60 Hz) konstanta dielektrik (60 Hz)
|
ε=2.1,tan(δ)<2(-4) ε = 2.1, tan (δ) <2 (-4)
|
|
60 MV/m 60 MV / m
|
E. Pemanfaatan
Teflon digunakan
sebagai bahan isolator listrik, seal, gasket, bushing dan alat anti gesek pada
industri kimia, listrik dan textile. Teflon juga dimanfaatkan sebagai bahan
penyekat, misalnya untuk kotak penyekat (stuffing box), cincin geser (sifat
geseran dapat diperbaiki dengan bagian-bagian alat dari teflon menambahkan
graft ke dalamnya). Teflon digunakan juga untuk cincin 0 atau o-ring, untuk
gasket konsentrik dengan diberi bahan lunak (sebab teflon tidak begitu
elastis), alat-alat yang kecil, pipa, slang selubung pipa.
PTFE bisa digunakan untuk mencegah serangga memanjat, permukaan yang dicat
dengan materi PTFE sangat licin mengakibatkan serangga tidak bisa mendapatkan
pegangan dan cenderung jatuh. Penggunaan PTFE juga sangat beragam karena sifatnya
yang antilengket dan tidak menghantar listrik. PTFE digunakan antara lain
sebagai berikut.
·
Penggorengan atau Frying Pan.
·
Rice cooker dan Rice Warmer Jar pada pancinya.
·
Pelapis tapak dasar dari setrika agar lebih licin dalam menyetrika.
·
Melapisi Pipa -pipa zat kimia yang sangat sensitif seperti pada uranium hexafluoride.
·
Sebagai insulator pada kabel dan konektor perakitan Microwave.
·
Membran pori pori pada kain sintetic.
·
Pada spare part mesin dan alat alat elektronik.
·
Pada peralatan laboratorium karena sifatnya yang anti korosi
PTFE
atau lapisan antilengket di Indonesia banyak digunakan pada peralatan rumah
tangga sehari hari. Peralatan yang sering kita lihat adalah seperti
Penggorengan (frying pan), kuali (wok), penanak nasi electric (rice cooker) dan
juga setrika ( Iron). Lapisan ini sangat menolong karena kegunaanya dalam
memasak yaitu :
1. mengurangi penggunaan minyak goreng atau margarine yang berlemak tinggi
2. mudah dibersihkan, pada peralatan setelah digunakan.
1. mengurangi penggunaan minyak goreng atau margarine yang berlemak tinggi
2. mudah dibersihkan, pada peralatan setelah digunakan.
Tingkat perekonomian dan pendidikan masyarakat
Indonesia yang belum tinggi menyebabkan mereka tetap menggunakan peralatan
rumah tangganya meskipun sudah rusak atau tidak layak pakai. Lebih
memprihatinkan lagi kurangnya minat baca dan juga perhatian pemerintah terhadap
isu kesehatan menyebabkan informasi mengenai bahaya penggunaan lapisan
antilengket ini belum banyak diketahui.
Bahaya penggunaan antilengket di Indonesia
lebih dikarenakan antilengket tersebut mudah tergores dan terkelupas dan
digunakan pada peralatan masak. Lapisan yang terkelupas
ini apabila tercampur pada makanan sangat berbahaya. Karena itu zat kimia pada
lapisan antilengket mengandung berbagai logam yang berbahaya seperti mercuri
dan zat POFA yang bersifat karsinogen. Penggunaan lapisan antilengket yang terkelupas
sering tidak disadari terjadi pada panci Rice Cooker, karena biasanya
kita kurang memperhatikan panci Rice Cooker dibanding dengan
penggorengan.
No comments:
Post a Comment