BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Di kota-kota besar, roti dapat dikatakan
hampir dapat menggeser kedudukan nasi sebagai makanan pokok terutama untuk
sarapan pagi.Seiring dengan berjalannya waktu, roti tidak lagi
dikaitkan dengan sarapan pagi, tetapi sudah meluas sebagai menu makanan
alternatif di segala kondisi dan waktu. Roti tidak lagi dinikmati di
pagi hari, tetapi juga di siang hari, malam hari, atau sebagai snack di antara
dua waktu makan.
Salah satu bentuk industri pengolahan
hasil pertanian adalah roti.Rotimerupakan salah satu bentuk makanan pokok yang
cukup diminati masyarakatIndonesia.Sebagai contoh roti tawar ataupun sejenis
roti basah yang seringdikonsumsi oleh sebagian masyarakat Indonesia khususnya
yang tinggal diwilayah perkotaan.Umumnya mereka memilih roti karena roti
dapatdijadikan makanan alternatif pengganti nasi.Selain itu roti
merupakanmakanan instan yang siap saji (Anonim 2, 2004).
Peran roti kelak tidak lagi
sebatas sebagai menu untuk sarapan,
tetapi juga untuk menu makan siang dan makan malam.Oleh karena itu, kandungan gizi roti sangat perlu untuk
diperhatikan agar dapat memberikan sumbangan gizi yang
berarti bagi manusia.
Secara garis besar produk bakery bisa dikelompokkan
menjadikelompok roti dan kelompok biskuit. Produk roti mempunyai
strukturberongga-ronga dan dikembangkan dengan ragi roti dan produk
akhirnyabersifat plastis, elastis karena kadar air tinggi. Produk biskuit
terdiri dariberbagai bentuk dan mempunyai struktur lebih padat dengan tektur
mulai darirapuh atau renyah sampai relatif keras, serta kadar airnya rendah
sehingga lebih awet daripada roti (Anonim 3, 2006).
BAB IITINJAUAN PUSTAKA
A.
Roti
Pengertian roti adalah proses tepung terigu
yang difermentasikandengan ragi roti (Saccharomyces cerevisiae), air dan atau
tanpa penambahan makanan lain yang dipanggang kedalam adonan, Kemudian ditambahkan
gula,garam, susu atau susu bubuk, lemak, pengemulsi dan bahan-bahan
pelezatseperti cokelat, keju, kismis dan lain-lain (Haryono,1992).
Manfaat roti diperkaya dengan berbagai
macam zat gizi, sebut sajabeta karoten, thiamin (vit B1), riboflavin (vit B2),
niasin, serta sejumlahmineral berupa zat besi, iodium, kalsium dan
sebagainya.Roti juga diperkayadengan asam amino tertentu untuk meningkatkan
mutu protein bagi tubuh.Menurut Dr. Clara, M. Kusharto MS, dari Departemen Gizi
Institut PertanianBogor, kandungan protein yang terdapat dalam roti mencapai
9,7%,
lebihtinggi ketimbang nasi yang hanya 7,8%. Selain itu tidak
seperti nasi yanghanya memiliki kadar pati 4-8%, dalam roti terdapat
13%
pati.Empat iris roti, roti tawar akan menghasilkan kalori yang setara
dengansepiring nasi (Jenie, 1993).
Bahan baku yang digunakan dalam
pembuatan roti dapat digolongkanbahan utama dan bahan pembantu. Bahan utama
yang digunakan dalampembuatan roti adalah tepung terigu, air, ragi roti, dan
garam.Bahanpembantu adalah bahan-bahan yang menyertai bagian utama dalam
pembuatanroti untuk mendapatkan aroma, rasa dan tekstur yang diinginkan.
Bahanpembantu ini terdiri dari shortening, bread improver, susu skim, telur,
gula,bahan pengisi serta flavoring. Pemberian anti oksidan (asam
askorbat,bromat), dan anti kapang seperti kalium propionat dan kalsium
pospatditambahkan untuk memperpanjang keawetan roti. Bahan baku jugamempunyai
karakteristik fisik, kimia dan mekanik yang berbeda, demikianjuga perubahan
sifat–sifat tersebut akibat pengolahan mungkin berbeda. Olehkarena itu sebelum
mengetahui cara pembuatan roti, terlebih dahulu mengenal 2 jenis bahan yang
akan digunakan, fungsinya dalam pembuatan roti serta sifat-sifat yang
dibutuhkan. Hal ini perlu diketahui untuk bisa memilih bahan secaraekonomis dan
mengendalikan mutu produk sesuai dengan keinginan(Kamarijani, 1983).
Jenis roti bakery diantaranya adalah
roti cake, pastery, dan cokies.Untuk memproduksi roti yang baik yaitu memilih
dan menangani bahan untukproses produksi berupa jenis dan jumlah kebutuhan
bahan baku dan jumlahbahan pembantu untuk satu periode telah tersusun. Faktor
mutu bahan bakudan bahan pembantu telah terukur, bahan baku dan bahan
pembantudipastikan tersedia untuk memenuhi persyaratan produksi. Memilih
danmenyiapkan peralatan produksi, peralatan produksi roti telah
disiapkan,persyaratan kebersihan dan status peralatan teridentifikasi dan siap,
jenis danfungsi alat produksi telah dikuasai, komponen peralatan yang
terkaitdicocokkan dan disesuaikan dengan kebutuhan proses produksi,
parameterproses yang diperlukan memenuhi persyaratan keselamatan dan
produksi,pemeriksaan per-start dilakukan sebagaimana kebutuhan tempat
kerja,peralatan pencampur, pengaduk, pembagi, pemipih, pemanggang dan alatbantu
lain dioperasikan sesuai alat (Mudjajanto, eddy dan noor, 2004).
Kualitas roti secara umum disebabkan
karena variasi dalampenggunaan bahan baku dan proses pembuatannya. Jika bahan
baku yangdigunakan mempunyai kualitas yang baik dan proses pembuatannya
benarmaka roti yang dihasilkan akan mempunyai kualitas yang baik pula. Jenis
danmutu produk bakeri sangat bervariasi tergantung jenis bahan-bahan
danformulasi yang digunakan dalam pembuatannya.Variasi produk rotidiperlukan
untuk memenuhi adanya variasi selera dan daya beli konsumen(Moehji, 1971).
Selain kedua kelompok bakery tersebut
ada jenis lain yaitu cake, yangmerupakan produk hasil pemanggangan yang
dikembangkan denganpengembang kimia. Sel-sel udara yang terbentuk dihasilkan
dengan carapengocokan (terutama putih telur) yang menyebabkan udara
terperangkapdalam adonan, serta adanya pembentukan gas dari bahan pengembang
danterbentuk uap air pada waktu pemanggangan (Anonim 4, 2004).
Produk lain yang dibuat dari terigu
adalah donat. Produk ini berbedadengan produk-produk bakery lainnya karena pada
tahap akhir prosespembuatannya tidak dipanggang, melainkan digoreng. Donat
mengembangkarena ragi roti, juga akibat terbentuknya gas dari bahan pengembang
dan uapair pada waktu penggorengan (Anonim 5, 2009).
Berdasarkan formulasi adonan roti dapat
dibedakan menjadi tiga jenisyaitu adonan roti manis, roti tawar dan adonan soft
rolls. Adonan roti manisadalah adonan yang dibuat dari formulasi yang banyak
menggunakan gula,lemak dan telur. Adonan roti tawar adalah adonan roti yang
mengunakansedikit tanpa gula, susu skim dan lemak. Sedangkan adonan soft roll
adalahadonan roti yang dibuat dari formula yang menggunakan gula dan
lemakrelatif lebih banyak dari adonan roti tawar (Anonim 6, 2000).
Kualitas roti secara umum disebabkan
karena variasi dalampenggunaan bahan baku dan proses pembuatannya. Jika bahan
baku yangdigunakan mempunyai kualitas yang baik dan proses pembuatannya
benarmaka roti yang dihasilkan akan mempunyai kualitas yang baik pula. Jenis
danmutu produk bakery sangat bervariasi tergantung jenis bahan-bahan
danformulasi yang digunakan dalam pembuatannya. Variasi produk ini
diperlukanuntuk memenuhi adanya variasi selera dan daya beli konsumen
(Auingerpfund,1999).Setiap bahanjuga mempunyai
karakteristik fisik, kimia dan mekanik yang berbeda, demikian juga
perubahan sifat - sifat tersebut akibat
pengolahan mungkin berbeda. Oleh karena itu sebelum mengetahui cara pembuatan
roti, terlebih dahulu mengenal jenis bahan yang akan digunakan, fungsi dalam pembuatan
roti serta sifat - sifat yang dibutuhkan. Hal ini perlu
diketahui untuk bisa memilih bahan secara ekonomis dan mengendalikan mutu
produk sesuai dengan keinginan (Buckle,1985).
B. Bahan Baku Pembuatan Roti
B. Bahan Baku Pembuatan Roti
1. Tepung
Terigu
Tepung terigu merupakan hasil olahan
dari gandum, jenis bahan baku yang paling ideal untuk pembuatan roti, tepung
terigu yang digunakan dalam pembuatan roti adalah tepung yang mempunyai
kualitas baik, karena tepung terigu mampu menyerap air dalam jumlah besar,
dapat mencapai konsistensi adonan yang tepat, memiliki elastisitas yang baik
untuk menghasilkan roti dengan remah halus, tekstur lembut, volume besar serta
mengandung protein paling tinggi yaitu berkisar antara 8%-14%. Didalam tepung
terigu terdapat senyawa yang dinamakan gluten.Hal ini yang membedakan tepung terigu
dengan tepung tepung lainnya (Anomim 1,
2007).
Tepung terigu mengandung dua macam
protein yang memegang peranan penting dalam pembuatan roti, yaitu protein glutenberfungsi
menentukan struktur produk roti dan memberikan kekuatan pada adonan untuk menahan
gas dari aktivitas ragi, dan glutenin memberikan elastisitas
dan
kekuatan untuk perenggangan terhadap gluten. Kandungan gizi tepung terigu yang
baik akan mempunyai komposisi kadar air 13%, kadar protein 12-13%, kadar hidrat
arang 72-73%, kadar lemak 1,5%,
pada saat bercampur dengan air yang berfungsi sebagai kerangka roti, membuat
adonan tidak mudah pecah pada waktu diroll dan menahan gas CO2
hasil fermentasi. Gas CO2
yang tertahan dalam kerangka jaringan gluten dapat
lolos kembali apabila kerangka gluten yang terbentuk tidak kuat, akibatnya roti
menjadi kempes kembali setelah dioven (Haryono, 1992).
Kualitas tepung terigu dipengaruhi oleh
moisture (kadar air), ash (kadar abu), dan beberapa parameter fisik lainnya,
seperti water absorption, development time, stability, dan lain-lain. Moisture
adalah jumlah kadar air pada tepung terigu yang mempengaruhi kualitas tepung,
bila jumlah moisture melebihi standar maksimum maka memungkinkanterjadinya
penurunan daya simpan tepung terigu karena akan semakincepat rusak, berjamur
dan bau apek. Ash adalah kadar abu yang ada padatepung terigu yang mempengaruhi
proses dan hasil akhir produk antara
lain,
warna produk (warna crumb pada roti, warna mie) dan tingkatkestabilan adonan,
semakin tinggi kadar Ash semakin buruk kualitastepung dan sebaliknya semakin
rendah kadar Ash semakin baik kualitastepung, hal ini tidak berhubungan dengan
jumlah dan kualitas protein(Anomim 2, 2007).
2. Margarin
Margarin pada umumnya dibuat dari minyak
nabati. Margarin merupakan emulsi yang terdiri atas lemak nabati, air dan garam
denganperbandingan (80:18:2). Margarin dapat dikonsumsi tanpa
dimasak.Sifatfisik margarin pada suhu kamar adalah berbentuk padat, berwarna
kuning,dan bersifat plastis.Komposisi gizi margarin adalah sekitar 80 %.Merupakan zat gizi
penting untuk menjaga kesehatan manusia.Selain itu,lemak dan minyak merupakan
sumber energi yang lebih efektifdibandingkan dengan karbohidrat dan
protein.Sumbangan energi per gramlemak, protein, dan karbohidrat masing-masing
9, 4, dan 4 kkal,(Mudjajanto, Eddy dan Noor, 2004).
Margarin merupakan salah satu sumber
energi dengan vitamin A,D, E dan K serta memiliki jumlah kalori yang lebih
sedikit dari padamentega biasa.Margarin memberi cita rasa gurih, mengurangi
remah roti,mempermudah pemotongan, serta dapat memperlunak kulit roti,
berfungsiuntuk memperpanjang daya simpan, memperkeras tekstur agar tidakmeleleh
pada suhu kamar, dan mempertinggi titik didih untuk memenuhitujuan
pengovenan.Ciri-ciri margarin yang menonjol adalah bersifatplastis, padat pada
suhu ruang, agak keras pada suhu rendah, teksturnyamudah dioleskan, serta
segera dapat mencair di dalam mulut, (Anonym 5,2004).
3. Air
Air merupakan komponen penting dalam
bahan baku pembuatan rotibakery, karena air dapat mempengaruhi penampilan,
tekstur, serta cita rasamakanan, kandungan air dalam bahan makanan roti ikut
menentukanacceptability, kesegaran, dan daya tahan bahan, kandungan air
padaproduk roti di tentukan pada saat penggolahan dimulai penggadonan,
airsangat menentukan pada pengolahan makanan roti, tanpa air pengolahanmakanan
tidak dapat berlangsung, air juga di gunakan sebagai ingredient makanan olahan
(Auinger Pfund, 1999).
Air pada proses penggolahan juga dapat
berfungsi sebagaipenghantar panas dan pelarut dan sebagai media reaksi antara
glutendengan karbohidrat, air yang digunakan sebaiknya memiliki pH antara
6-9,makin tinggi pH maka roti yang dihasilkan tidak mudah hancur karenaabsorbsi
air meningkat dengan meningkatnya pH, selain pH air yangdigunakan harus air
yang memenuhi persyaratan air minum, diantaranyatidak berwarna, tidak berbau,
tidak berasa (Auinger Pfund, 1999).
Jumlah air yang ditambahkan pada umumnya
sekitar 26-38% daricampuran bahan yang akan digunakan, jika lebih dari 38%
adonan akanmenjadi sangat lengket dan jika kurang dari 28% adonan akan
menjadirapuh sehingga sulit dicetak (Astawan, 2006).
Air yang berhubungan denagan hasil-hasil
industri pengolahan harusmemenuhi standar mutu yang harus diperlukan untuk air
minum dengannilai pH satu larutan ialah angka antara 0 sampai dengan 14
yangmenunjukan keasaman (acidity) atau pengaraman (alkality) dalam
larutan.Apabila apabila nila pH 7 berarti netral, bila di bawah 7 larutan
asam(acid), semakin rendah pH larutan semakin asam, sebaliknya semakintinggi pH
berarti larutan bersifat alkali (garam), semakin tinggi pHsemakin tinggi pula
alkali (Cauvain Stanley, Linda, Dan Young, 2000).Industri pengolahan pangan
perlu mengembangkan syarat-syaratmutu air khusus untuk mencapai hasil
pengolahan yang memuaskan,dalam banyak hal diperlukan air minum, dimana
diperlukan penanganantambahan semua mikroorganisme yang ada, untuk
menghilangkan semuabahan-bahan di dalam air yang mungkin dapat
mempengaruhipenampakan, rasa, dan stabilitas hasil akhir, untuk menyesuaikan pH
padatingkat yang diinginkan dan supaya mutu air sepanjang tahun dapatkonsisten
(Buckle, 1985).
Kadar air merupakan salah satu
karakteristik yang sangat pentingpada bahan pangan, karena air dapat
mempengaruhi penampakan, tekstur,dan cita rasa pada bahan pangan. Kadar air
dalam bahan pangan ikutmenentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan
tersebut, kadar airyang tinggi mengakibatkan mudahnya bakteri, kapang, dan
khamir untukberkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada bahan
pangan(Winarno, 1997).
C. Bahan Tambahan Pembuatan
Roti
1. Ragi
Ragi roti adalah bahan penggembang pada
adonan yaitu sebagaibahan tambahan pangan yang digunakan dalam pembuatan roti
dan kue,menambah volume pada adonan, dan pada saat adonan dipanggang dapatlebih
menggembang, jika bahan penggembang dicampurkan kedalam adonan maka akan
terbentuk gas karbon dioksida, gas inilah yangkemudian terperangkap didalam
gluten (komponen protein yang ada dalamtepung terigu) sehingga adonan menjadi
menggembang karena gas yangdihasilkan semakin lama akan semakin banyak (Sultan,
1981).
2. Telur
Telur adalah suatu bahan makanan sumber
protein hewani yangbernilai gizi tinggi.untuk dunia kuliner, telur berfungsi
sebagaipengembang adonan, membentuk warna, perbaikan rasa, menambah nilaigizi,
sebagai pelembut atau pengempuk, sebagai penambah aroma dan zatgizi. Jika telur
tidak digunakan dalam adonan maka adonan harusditambahkan cairan walaupun
hasilnya kurang lunak.Roti yang lunakdapat diperoleh dengan penggunaan kuning
telur yang lebih banyak.Kuning telur banyak mengandung lesitin (emulsifier).
Bentuknya padat,tetapi kadar air sekitar 50%. Sementara putih telur, kadar air
86%. Putihtelur mempunyai sifat creaming yang lebih baik dibandingkan
kuningtelur.
Telur adalah suatu bahan makanan sumber
zat protein hewani yangbernilai gizi tinggi.Fungsi telur dalam penyelenggaraan
gizi adalahsebagai pengental, perekat atau pengikat Tarwotjo Soejoeti, 1998).
Nilai Gizi yang terkandung dari kuning
telur dan putih telur berbeda,kuning telur memiliki kadar protein 16% dan kadar
lemak 31%,sedangkan putih telur memiliki kadar protein 13 %. Oleh karena itu
bagiantelur yang mempunyai nilai gizi paling tinggi sebagai bahan makananyaitu
kuning telur.Pada bagian kuning telur terdapat asam aminoessensial yang sering
disebut triptofane. Garam yang banyak terdapatdidalam kuning telur adalah garam
ferum dan fosfor, akan tetapi garamtersebut sedikit mengandung kalsium, vitamin
yang banyak terdapat dalamtelur adalah vitamin B, komplek dalam jumlah cukup
(Moehji, 1971).
Salah satu tolak ukur dalam menentukan
mutu telur adalahberdasarkan berat, ukuran telur ada yang besar, sedang dan
kecil, mututelur dapat dinilai dari kondisi dan kebersihan kulit, besar kantong
udara,kekompakan putih telur, letak dan bentuk kuning telur, telur yang
barudikeluarkan oleh induk ayam merupakan telur yang segar, telur yangmasih
baru, kuning telurnya masih rapat, terletak di tengah-tengah putihtelur yang
tebal, dilihat dari segi nutrisi telur baru dan telur lama tidak adaperbedaan,
kecuali rasa dan penampilanya tidak menarik, telur yangberumur lebih dari dua
minggu hanya baik untuk membuat kue (Anonim 6,2009).
3. Gula
Gula adalah karbohidrat murni yang tidak
tersusun atas nutrient lainnya seperti, lemak, protein, vitamin, dan mineral
karena gula itukarbohidrat yang murni maka gula disebut sebagai kalori kosong.
Gulapasir merupakan hasil dari batang tebu yang digiling dan diperas
kemudiancairannya yang manis diolah menjadi gula, gula pasir atau sukrosa
adalahdisakarida yang tersusun dari satu gugus glukosa dan satu gugus
fruktosa(Tiench Tirtowinata, 2006).
Fungsi gula sebagai makanan ragi,
memberi rasa, mengaturfermentasi, memperpanjang umur roti (shelf life),
menambah kandungangizi, membuat tekstur roti menjadi lebih empuk, memberi
dayapembasahan pada roti dan memberi warna cokelat yang menarik pada
kulitkarena proses maillard atau karamelisasi (Moehji, 1971).
Gula ditambahkan pada jenis roti
tertentu untuk melengkapikarbohidrat yang ada untuk fermentasi dan untuk
memberikan rasa yanglebih manis. Tapi gula lebih banyak dipakai untuk pembuatan
kue danbiskuit dimana selain rasa manis gula juga mempengaruhi tekstur.
Jumlahgula yang tinngi membuat remah kue lebih lunak dan lebih basah, danpada
biskuit juga melunakkan (Moehji, 1971).
Mutu kualitas dari sisi kebersihan
produk yaitu warna kuning lebihdisukai, karena rsa lebih manis, terlihat lebih
asli, tidak banyak terpaparbahan kimia, lebih hemat, sebagian tidak terlalu
membedakan warna, yangmenyukai gula berwarna putih, alasan hanya estetika,
terlihat lebih bersih,lebih pantas disajikan. Ukuran kristal lebih besar,
kualitas lebih bagus,penyuka gula putih, kristal lebih halus (anonim 7, 2009).
4. Susu
Tujuan pemakaian susu dalam pembuatan
produk bakery yaitu untukmemperbaiki gizi karena susu mengandung protein
(kasein), gula laktosadan kalsium, memberikan pengaruh terhadap warna kulit
(terjadipencoklatan protein dan gula), digunakan untuk mengoles permukaan
roti,memperkuat gluten karena kandungan kalsium, menghasilkan kulit yangenak
dan crispy serta bau aromatic smell (Subarna, 2002).
Jenis susu yang banyak digunakan dalam
proses bakery adalah susububuk, full krim dan skrim. Susu bubuk full krim
mengandung lemak yangtinggi sehingga memberikan kelembutan dan aroma yang
menyenangkan.Susu skim banyak mengandung protein kasein yang cenderungmeningkatkan
penyerapan dan daya menahan air, sehingga mengeraskanadonan dan memperlambat
proses fermentasi adonan roti. Keuntungansusu skim adalah kandungan air dan
kandungan lemaknya rendah sehinggadapat disimpan lebih lama dan tidak cepat
tengik. Kada air susu skimadalah 2,5% dan kandungan lemaknya 1,1% (Wheat
associates, 1983).
Susu yang digunakan untuk pembuatan roti
pada umumnya dalambentuk bubuk (powder). Hal ini disebabkan alasan
kemudahanpenyimpanan dan mempunyai umur simpan yang lebih panjang dari padasusu
segar. Sebaiknya penyimpanan susu bubuk senantiasa dijaga agartetap kering, hal
ini dilakukan karena susu bubuk bersifat sangat rentanterhadap kerusakan dari
lingkungan terutama air (Subarna, 1992).
D. Teknologi Fermentasi
Menurut (Moentamaria, Dwina : 2011
). Teknologi fermentasi merupakan ilmu dan teknik terapan yang saat ini
berkembang pesat.Teknologi fermentasi menerapkan secara terpadu cabang-cabang
ilmu ilmu mikrobiologi, biokimia, kimia, keteknikan, biologi molekuler dan
genetika.Teknologi fermentasi telah membuka lembaran baru dalam upaya manusia
untuk memanfaatkan bahan-bahan yang murah harganya bahkan tidak berharga
menjadi produk-produk yang bernilai ekonomi tinggi dan berguna bagi
kesejahteraan umat manusia. Lebih lanjut lagi kemajuan – kemajuan yang dicapai
dalam bidang teknologi fermentasi telah memungkinkan manusia untuk memproduksi
berbagai jenis produk yang tidak dapat
atau sulit diproduksi melalui proses kimia.
Teknologi fermentasi mempunyai
bidang cakupan luas, yaitu mulai dari teknik produksi makanan fermentasi,
minuman beralkohol, produksi biomassa (inokulum, protein sel tunggal), produksi
asam-asam organik, asam-asam amino, enzim, vitamin, antibiotika, dan sebagainya
sampai pada teknik penanganan limbah.
Setiap proses fermentasi mendayagunakan
aktivitas metabolisme suatu mikroba tertentu atau campuran dari beberapa
spesies mikroba. Dari sudut industri, mikroba merupakan pabrik kimiayang
mengubah bahan baku menjadi berbagai jenis produk. Industri fermentasi modern
mendayagunakan teknologi mutakhir berdasarkan ilmu keteknikan yang maju dan
pengetahuan yang mendalam mengenai biokimia dan aktivitas metabolisme mikroba.
Industri fermentasi modern di
Indonesia masih sangat terbatas. Mengingat potensi bahan baku yang melimpah di
Indonesia, maka upaya pengembangan industri fermentasi untuk memproduksi
berbagai jenis produk yang bernilai tinggi, perlu mendapat perhatian. Aktivitas
metabolisme mikroba mempunyai dasar yang sama, tetapi masih ditemukan berbagai
ragam variasi terhadap pola dasar. Hal inina terbukti dari banyaknya ragam
bahan baku atau substrat yang dapat dicerna oleh suatu jenis mikroba dan
banyaknya jenis produk yang dapt dihasilkan pada berbagai kondisi lingkungan
yang diberikan.
Menurut (Moehji, 1971). Fermentasi dapat dilakukan dengan metode
fermetasi permukaan dan fermentasi terendam (submerged). Fermentasi kultur
terendam lebih
luas pemakaiannya. Fermentasi ini bisa menggunakan inokulum bakteri,
kapang dan khamir, sedangkan fermentasi permukaan, kebanyakan
untuk produksi enzim dan asam organik dengan menggunakan kapang. Dalam
hal aerasi medium cair lebih mudah diaerasi. Untuk fermentasi padataerasi sangat bergantung pada porositas
bahan, dimana pertumbuhan mikroorganisme hanya pada bagian yang dapat dikenai
oleh udara atau oksigen.Medium
fermentasi biasanya
berupa cairan dan dapat pula berupa padat dan semi padat. Fermentasi yang menggunakan medium
cair disebut fermentasi kultur terendam yang pada umumnya memerlukan
aerasi dan atau agitasi. Fermentasi medium padat dan fermentasi semi padat dikenal
juga sebagai fermentasi permukaandimana
mikroorganismenya ditumbuhkan pada permukaan bahan.
a.
Fermentasi media padat :
Fermentasi media padat ini
sering disebut sebagai proses “ koji “. Bahan padat yang banyak digunakan
sebagai substrat ialah berbagai jenis hasil pertanian dan limbah pertanian.
Fermentasi media padat mempunyai bebrapa kelebihan, antara lain cara operasinya
sederhana, kontaminasi bukan masalah penting, bahan untuk media atau substrat
mudah diperoleh dan relative murah harganya. Sedangkan kelemahannya antara lain
memerlukan ruang yang luas, membutuhkan banyak tenaga kerja, sulit mengatur
komposisi komponen-komponen media dan meniadakan komponen yang berpengaruh
negatif terhadap media fermentasi, dan sulit mengatur kondisi lingkungan
fermentasi.
Fermentasi media padat
telah lama diterapkan, misalnya proses koji untuk memproduksi enzim yang
dibutuhkan dalam pembuatan shoyu, miso, sake, produksi asam-asam organik,
enzim, dan sebagainya.
Proses fermentasi media
padat biasanya dilakukan pada suhu ruang yang relatif konstan dan merupakan
kultur yang statis walaupun sekali-sekali dilakukan pengadukan. Pertumbuhan
kapang pada media padat dengan kelembaban yang tinggi (kadar air tinggi)
menyerupai sifat pertumbuhannya di alam. Karena itu melalui fermentasi medi
padat sering diperoleh enzim-enzim yang spesifik yang sulit timbul dalam kultur
cair.
§ Kultur statis tanpa aerasi
Contoh spesifik kultur statis yang menggunakan substrat padat ialah
proses koji tradisional dalam pembuatan sake yang diproduksi oleh kapang
Aspergillus Oryzae, dimana pada permuaan beras yang telah dikukus ditaburkan
spora A. Oryzae. Juga dapat ditemukan pada pembuatan tempe gandum yang telah
dikukus dilakukan Wang dan Hesseltrine (1966), yang diinokulasi dengan suspensi
Rhizopus Oligosporus. Akan terjadi pelepasan air akibat metabolisme karbohidrat
setelah germinasi spora (8 jam).
§ Kultur statis dengan aerasi
Untuk dapat mempertahankan suhu optimum dan kelembapan yang merata
di seluruh bagian kultur, industry fermentasi telah menerapkan otomatisasi
dalam proses fermentasi yang menggunakan media padat. Untuk memproduksi asam
sitrat digunakan media campuran molasses, bekatul beras, serbuk gergaji dan air
dan inoculum Aspergillus niger dengan mengalirkan udara (RH mendekati 100%,
suhu 30oC) untuk aerasinya.
b.
Fermentasi terendam (submerged)
Dibandingkan dengan mediu
padat, medium cair mempunyai beberapa kelebihan, yaitu antara lain (1) jenis
dan konsentrasi komponen-komponen medium dapat diatur sesuai dengan yang
diiinginkan, (2) dapat memberikan kondisi yang optimum untuk pertumbuhan, dan
(3) pemakaian medium lebih efisien.
Medium cair dapat digunakan
pada fermentasi permukaan dan terendam. Fermentasi permukaan medium cair
merupakan cara fermentasi yang sejak lama dipraktekkan untuk memproduksi
berbagai produk fermentasi, misalnya produksi asam asetat secara tradisional.
Fermentasi permukaan medium cair ini mulai ditinggalkan sejak fermentasi
teredam terbukti lebih efisien, khususnya dalam memproduksi produk-produk
fermentasi yang bernilai ekonomis tinggi dan menghendaki sterilisasi yang
tinggi, misalnya produksi antibiotika.
Pembibitan untuk fermentasi
secara industrial
Penyediaan bibit untuk
fermentasi secara besar-besaran dengan menggunkan ragi atau bakteri tidak
merupakan persoalan yang sulit, karena bentuk vegetatifnya yang aktif dari
mikroorganisme ini terdiri dari sel-sel tunggal yang dapat dipakai secara
langsung untuk pembibitan. Lain halnya dengan kapang, jika digunakan sebagai
bibit agak sukar karena bentuk vegetative aktifnya merupakan serabut yang
terjalin satu sama lain dan membentuk suatu massa yang kompak, sehingga hanya
sebagaian saja bersinggungan dengan perbenihannya.
Cara pembibitan tidak dapat
secara langsungdari agar-agar miring (biakan miring) ke fermentor, karena akan
memerlukan waktu yang lama sehingga tidak ekonomis. Selama pembuatan
bibit-bibit secara bertahap ini sampai ke fermentor, harus dilakukan secara aseptic
dengan peralatan yang steril.Bibit yang dibuat dengan suspensi daripada hasil
fragmentasi mycelium terdiri dari mycelium dalam keadaan aktif, yang dapat
segera tumbuh dan melakukan fermentasi begitu bibit dimasukkan ke dalam
fermentor. Distribusi daripada mycelium lapuk seperti di atas dapat berlangsung
dengan mudah dan lebih sama rata dari pada dengan spora-sporanya, karena
spora-spora ini pada umumnya lebih sukar dibasai oleh cairan, sehingga akan
terjadi suspense yang tak sama rata.
Pembuatan inoculum /
bibit-bibit tadi dilakukan secara bertahap, yaitu dari biakan murni pada agar
miring, mikroorganisme diaktifkan dalam perbenihan yang akan difermentasikan
selama 24-48 jam. Perbenihan cair yang pertama ini dimasukkan ke dalam perbenihan
cair yang volumenya lebih besar dari volume yang pertama.Volume bibit ini terus
ditingkatkan sampai volume bibit mencapai 5-20% dari volume perbenihan yang
difermentasi.
Pembibitan secara bertahap
ini dimasukkan untuk memberi kesempatan pada mikroorganisme untuk menyesuaikan
dirinya dengan kondisi perbenihan, sehingga apabila bibit dimasukkan ke dalam
fermentor bibit itu sudah benar-benar aktif dan tidak perlu penyesuaian
lagi.Hal ini berlaku bagi semua mikroorganisme.
E.
FERMENTASI
Fermentasi
merupakan kegiatan mikrobia pada bahan pangan sehingga dihasilkan produk yang
dikehendaki.Mikrobia yang umumnya terlibat dalam fermentasi adalah bakteri,
khamir dan kapang. Contoh bakteri yang digunakan dalam fermentasi adalah Acetobacter
xylinum pada pembuatan nata decoco, Acetobacter
aceti pada pembuatan asam asetat. Contoh khamir dalam fermentasi
adalah Saccharomyces cerevisiae dalam pembuatan alkohol
sedang contoh kapang adalah Rhizopus sp pada pembuatan
tempe, Monascus purpureus pada pembuatan angkak dan
sebagainya. Fermentasi dapat dilakukan menggunakan kultur murni ataupun alami
serta dengan kultur tunggal ataupun kultur campuran.
Fermentasi
menggunakan kultur alami umumnya dilakukan pada proses fermentasi tradisional
yang memanfaatkan mikroorganisme yang ada di lingkungan. Salah satu contoh
produk pangan yang dihasilkan dengan fermentasi alami adalah gatot dan growol
yang dibuat dari singkong. Tape merupakan produk fermentasi tradisional yang
diinokulasi dengan kultur campuran dengan jumlah dan jenis yang tidak diketahui
sehingga hasilnya sering tidak stabil. Ragi tape yang bagus harus dikembangkan
dari kultur murni.
Kultur
murni adalah mikroorganisme yang akan digunakan dalam fermentasi dengan sifat
dan karaktersitik yang diketahui dengan pasti sehingga produk yang dihasilkan
memiliki stabilitas kualitas yang jelas. Dalam proses fermentasi kultur murni
dapat digunakan secara tunggal ataupun secara campuran. Contoh penggunaan
kultur murni tunggal pada fermentasi kecap, yang menggunakan Aspergillus
oryzae pada saat fermentasi kapang dan saat fermentasi garam
digunakan bakteri Pediococcus sp dan khamir Saccharomyces rouxii.
Industri fermentasi
dalam pelaksanaan proses dipengaruhi oleh beberapa faktor:
1. mikrobia
2. bahan dasar
3. sifat-sifat proses
4. pilot-plant
5. faktor sosial ekonomi
Ø Fermentasi
pada pengolahan roti
Dalam
industri roti menggunakan enzim amilase dan protease untuk mempercepat proses
fermentasi, meningkatkan volume adonan, memperbaiki kelunakan dan tekstur.
Enzim bersumber dari jamur dan bakteri.
Proses fermentasi pada
pengolahan roti sudah dilakukan sejak lama. Tahapan ini dilakukan untuk
menghasilkan potongan roti (loaves) dengan bagian yang porus dan tekstur roti
yang lebih lembut. Metode ini didasarkan pada terbentuknya gas akibat proses
fermentasi yang menghasilkan konsistensi adonan yang frothy (porus seperti
busa). Pembentukan gas pada proses fermentasi sangat penting karena gas yang
dihasilkan akan membentuk struktur seperti busa, sehingga aliran panas ke dalam
adonan dapat berlangsung cepat pada saat baking. Panas yang masuk ke dalam
adonan akan menyebabkan gas dan uap air terdesak ke luar dari adonan, sementara
terjadi proses gelatinisasi pati sehingga terbentuk struktur frothy.
Fermentasi
adonan didasarkan pada aktivitas-aktivitas metobolis dari khamir dan bakteri
asam laktat. Aktivitas mikroorganisme ini pada kondisi anaerob akan
menghasilkan metabolit fungsional yang penting pada pembentukkan adonan. Dengan
mengendalikan parameter proses fermentasi dan metode preparasi adonan dapat
dimungkinkan mempengaruhi aktivitas mikroorganisme dan enzim untuk menghasilkan
adonan roti yang dikehendaki seperti volume, konsistensi, dan pembentukkan.
Pengaruh Fermentasi Adonan
menurut jenis dan fungsinya pada proses baking
Pengaruh Jenis Fungsi
Primer Pembentukan metabolit fungsional Volume, tekstur,rasa,
(karbon dioksida,etanol, umur simpan
asam laktat, asam asetat)
Sekunder Degradasi senyawa makromolekul Konsistensi, tekstur,
(pentosan, ɑ-glukan,protein) umur
simpan
Tersier Pembentukan metabolit precursor Flavor, warna
(precursor flavor,komponen
reaksi Maillard)
Fermentasi
Adonan
Berbagai metode fermentasi adonan berkembang untuk
memperolehhasil sesuai dengankarakteristik berbagai jenis produk bakery.
Walaupun berbagai metode dikembangkan, namunsecara umum terjadi kecenderungan
untuk menyederhanakan,memperpendek dan automatisasiproses fermentasi. Proses
biologis yang kompleks selama fermentasi perlu dikendalikan
untuk menghasilkan adonan sesuai dengan yang diinginkan. Untuk itu,
pengendalian haruslahdilakukan selama periode fermentasi.Semua faktor seperti
suhu, mutu dan jumlah sel, serta lajupertumbuhan harus terkendali, sehingga
terbentuk gas di dalam adonan.
Adonan
yang frothy dapat dihasilkan dengan terbentuknya atau
terdispersinyagelembung-gelembung gas di dalam adonan. Gas yang dibutuhkan
untuk terbentuknya adonandapat dihasilkan melalui proses biologis, kimia,
maupun fisik. Gas yang dihasilkan terdispersi kedalam adonan dalam bentuk
gelembung untuk menghasilkan pori yang halus seperti gabus. Gas yang terbentuk
merupakan gas CO2.
Kehalusan
pori yang terbentuk selama proses pengadonantergantung
pada karakteristik tepung yang digunakan seperti viskoelastisitas
dari gluten dan daya ikat air (water-binding capacity) pentosan. Pori yang
halus bisa juga terbentuk oleh karena udara masuk kedalam adonan dan
terdispersi dalam bentuk gelembung yang halus ketika tepung dan
air dicampur dan diulen. Gelembung udara yang terperangkap berperan
sebagai inti yang menyerapgas CO2yang terbentuk akan membuat adonan
mengembang membentuk struktur spon.Pengembangan adonan dapat melebihi 1:6
karena gas CO2terbentuk selama fermentasi.Pembentukan gas selama
fermentasi diikuti oleh reaksi-reaksi fermentatif lainnya sepertiterbentuknya
metabolit-metabolit intermediet yang berpengaruh pada konsistensi adonan
danterbentuknya senyawa-senyawa volatil yang merupakan prekursor aroma.
Gas
yang terdispersi dan terperangkap di dalam adonan dalam bentuk
gelembungdibutuhkan untuk pembentukan pori. Terbentuknya dinding pori yang
elastis (extensible)tergantung pada kandungan protein yang spesifik yang dapat
membentuk film yang elastis.Karakteristik semacam ini diperlihatkan oleh gluten
(gliadin dan glutenin) yang merupakan jenisprotein yang terkandung di dalam
tepung gandum. Ketika tepung gandum dicampur dengan air,gluten akan membentuk
massa viskoelastis yang mengikat semua bahan adonan terutama patimenjadi suatu
jaringan. Lapisan film yang terbentuk bersifat impermiabel terhadap gas,
sehinggadapat memerangkap gas dan membentuk pori. Selanjutnya pada saat proses
pemanggangan(baking) terjadi gelatinisasi pati dan koagulasi gluten yang dapat
membentuk crumb dan tekstur yang lembut.
Lama
penyiapan dan fermentasi adonan sangat bervariasi yang harus dapat
dikendalikandengan baik. Penggunaan proporsi khamir yang tinggi akan
menyebabkan pembentukan gasyang cepat. Hal ini dapat menyulitkan dalam
pengaturan waktu fermentasi dan penyiapanadonan.Untuk itu, penjadwalan yang
ketat dibutuhkan saat penyiapan adonan karenapengembangan volume adonan terjadi
dengan cepat. Pengakhiran proses fermentasi sangatmempengaruhi volume dan
bentuk akhir produk bakery.
Peranan khamir dalam
pembuatan roti
Khamir
jenis Saccharomyces cereviceae merupakan jenis khamir yang
paling umum digunakan pada pembuatan roti.Khamir ini sangat mudah ditumbuhkan,
membutuhkan nutrisi yang sederhana, laju pertumbuhan yang cepat, sangat stabil,
dan aman digunakan (food-gradeorganism). Dengan karakteristik tersebut,
S. Cereviceae lebih banyak digunakan dalam pembuatan roti dibandingkan
penggunaan jenis khamir yang lain. Dalam perdagangan khamir ini sering disebut
dengan baker’s yeast atau ragi roti.
Pengembangan Adonan.Penggunaan
mikroorganisme dalam pengembangan adonan masih menjadi fenomena yang asing bagi
masyarakat yang tidak familiar dengan pabrik roti. Udara (oksigen) yang masuk
ke dalam adonan pada saat pencampuran dan pengulenan (kneading) akan
dimanfaatkan untuk tumbuh oleh khamir. Akibatnya akan terjadi kondisi yang
anaerob dan terjadi proses fermentasi. Gas CO2 yang dihasilkan
selama proses fermentasi akan terperangkap di dalam lapisan film gluten yang
impermiabel. Gas akan mendesak lapisan yang elastis dan extensible yang
selanjutnya menyebabkan pengembangan (penambahan volume) adonan.
Asidifikasi.
Selama proses fermentasi selain dihasilkan gas CO2 juga
dihasilkan asam-asam organik yang menyebabkan penurunan pH adonan. Karena
tingginya kapasitas penyangga (buffer capacity) protein di dalam adonan,
maka tingkat keasaman dapat ditentukan dengan menentukan total asam adonan.
Proses asidifikasi ini dapat dijadikan sebagai indikator bahwa fermentasi
adonan berjalan dengan baik. Dengan demikian pengukuran pH mutlak diperlukan
dalam pengendalian proses.
Produksi
Flavor. Terbentuknya alkohol, penurunan pH, dan terbentuknya metabolit
lainnya secara langsung akan berperan sebagai prekursor flavor dan rasa roti.
Akibat proses fermentasi tersebut dapat menghasilkan roti dengan mutu
organoleptik yang tinggi.
F. Proses Produksi Roti
1. Seleksi Bahan
Bahan baku merupakan faktor yang
menentukkan dalam prosesproduksi atau pembuatan bahan makanan. Jika bahan baku
yang digunakanmutunya baik maka diharapkan produk yang dihasilkan juga
berkualitas.Evaluasi mutu dilakuakan untuk menjaga agar bahan yang
digunakandapat sesuai dengan syarat mutu yang telah ditetapkan oleh
perusahaan,sehingga dihasilkan produk yang sesuai dengan standar mutu
yangditetapkan (Kamarijani, 1983).
2. Penimbangan
Semua bahan ditimbang sesuai dengan
formula.Penimbanganbahan harus dilakukan dengan benar agar tidak terjadi
kesalahan dalampenggunaan jumlah bahan.Ragi, garam, dan bahan tambahan
makananmerupakan bahan yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, tetapi
sangatpenting agar dihasilkan roti yang berkualitas baik sehingga harus
diukurdengan teliti.Dalam penimbangan, sebaiknya tidak menggunakan sendokatau
cangkir sebagai takaran (Mujajanto, 2004).
3. Pengadukan atau pencampuran (Mixing)
Mixing berfungsi mencampur secara
homogen semua bahan,mendapatkan hidrasi yang sempurna pada karbohidrat dan
protein,membentuk dan melunakkan gluten, serta menahan gas pada gluten
(gasretention).Tujuan mixing adalah untuk membuat dan mengembangkandaya
rekat.Mixing harus berlangsung hingga tercapai perkembanganoptimal dari gluten
dan penyerapan airnya.Dengan demikian, pengadukanadonan roti harus sampai
kalis.Pada kondisi tersebut gluten baru tebentuksecara maksimal.Adapun yang
dimaksud kalis adalah pencapaianpengadukan maksimum sehingga terbentuk
permukaan film pada adonan.Tanda-tanda adonan roti telah kalis adalah jika adonan
tidak lagimenempel di wadah atau di tangan atau saat adonan dilebarkan,
akanterbentuk lapisan tipis yang elastis. Kunci pokok dalam pengadukkanadalah
waktu yang digunakan harus tepat karena jika pengadukkan terlalulama akan
menghasilkan adonan yang keras dan tidak kompak, sedangkanpengadukkan yang
sangat cepat mengakibatkan adonan tidak tercampurrata dan lengket (Mudjajanto,
2004).
4. Peragian (Fermentation)
Fungsi ragi (yeast) dalam pembuatan roti
adalah untuk prosesaerasi adonan dengan mengubah gula menjadi gas
karbondioksida,sehingga mematangkan dan mengempukan gluten dalam adonan. Kondisidari
gluten ini akan memungkinkan untuk mengembangkan gas secaramerata dan
menahannya, membentuk cita rasa akibat terjadinya prosesfermentasi. Suhu
ruangan 350C dan kelembaban udara 75% merupakankondisi yang ideal dalam proses
fermentasi adonan roti. Semakin panassuhu ruangan, semakin cepat proses
fermentasi dalam adonan roti.Sebaliknya, semakin dingin suhu ruangan semakin
lama proses fermentasi.Selama peragian, adonan menjadi lebih besar dan ringan
(Mudjajanto,2004).
5. Pengukuran atau penimbangan adonan
(Deviding)
Roti agar sesuai dengan besarnya cetakan
atau berdasarkan bentukyang digunakan adonan perlu ditimbang, Sebelum
ditimbang, adonandipotong-potong dalam beberapa bagian. Proses penimbangan
harusdilakukan dengan cepat karena proses fermentasi tetap berjalan (Anomim3,
2007).
6. Pembulatan adonan (Rounding)
Tujuan membuat bulatan-bulatan adonan
adalah untukmendapatkan permukaan yang halus dan membentuk kembali strukturgluten.Setelah
istirahat singkat lagi, adonan dapat dibentuk menjadipanjang seperti yang
dikehendaki. Jika adonan terlalu ditekan maka kulitakan menjadi tidak seragam
dan pecah (Anomim 3, 2007).
7. Pengembangan singkat (Intermediate
Proof)
Intermediate proof adalah tahap
pengistirahatan adonan untuk beberapa saat pada suhu 35-36 °C dengan kelembaban
80-83% selama 6-10menit. Langkah tersebut dilakukan untuk memepermudah adonan
dirolldengan roll pin dan digulung. Selanjutnya, adonan yang telah dicampurhingga
kalis dilanjutkan dengan proses peragian (Mudjajanto, 2004).
8. Pembentukan Adonan (Moulding)
Tahap pembentukan adonan dilakukan
dengan cara adonan yangtelah di istirahatkan digiling pakai roll pin, kemudian
digulung ataudibentuk sesuai dengan jenis roti yang di inginkan. Pada saat
penggilingan,gas yang ada di dalam adonan keluar dan adonan mencapai ketebalan
yangdi inginkan sehingga mudah untuk digulung atau dibentuk (Mudjajanto,2004).
9. Peletakan adonan dalam cetakan
(Panning)
Adonan yang sudah digulung dimasukkan
kedalam cetakan dengancara bagian lipatan diletakkan di bawah agar lipatan
tidak lepas yangmengakibatkan bentuk roti tidak baik. Selanjutnya, adonan di
diamkandalam cetakan (pan proof). Sebelum dimasukkan kedalam pembakaranproses
ini dilakukan agar roti berkembang sehingga hasil akhir rotidiperoleh dengan
bentuk dan mutu yang baik (Mudjajanto , 2004).
10. Pembakaran (baking)
Setelah dibentuk sesuai yang dikehendaki
dan dikembangkansecara optimal, adonan siap dipanggang di dalam oven. Ada dua
caramemanggang roti, yaitu dengan uap dan tanpa uap, tergantung jenis rotiyang
dibuat. Untuk beberapa jenis roti, memanggang dengan uap itu lebihbaik, atau
memang perlu untuk memberikan uap di dalam oven. Ini akanmenghasilkan
kelembapan yang tinggi dalam oven yang akan menjagakulit roti tetap basah,
sehingga oven proof lebih baik dan pengembanganvolume roti dicapai. Proses
pemasakan roti memerlukan suhu mulai dari suhu 26 °C-100 °C. Proses fisik
adalah penguapan alkohol dan air. Prosespemanggangan terjadi di kulit, dimana
berbagai jenis gula menjadikaramel dan memberi warna pada kulit (Anomim 3,
2007).
makasih alhamdulilah pembahasanya dapat membantu saya...
ReplyDeleteKak di mohon bantuanya mampir ya kak karena disini juga ada kak
ReplyDeletehttp://breadsss.moonfruit.com/
.
kak bibliografinya adakah?
ReplyDeleteSayangnya nggak ada daftar pustakanya
ReplyDelete