Lipid adalah nama suatu
golongan senyawa organik yang meliputi sejumlah senyawa yang terdapat di
alam yang semuanya dapat larut dalam pelarut-pelarut organik tetapi
sukar larut atau tidak larut dalam air. Pelarut organik yang dimaksud
adalah pelarut organik nonpolar, seperti benzen, pentana,dietil eter,dan
karbon tetraklorida.Dengan pelarut-pelarut tersebut lipid dapat
diekstraksi dari sel dan jaringan tumbuhan ataupun hewan.
Lipid di kelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok lipid sederhana (simple lipids) dan kelompok lipid kompleks (complex lipid). Lipid sederhana mencakup senyawa-senyawa yang tidak mudah terhidrolisis oleh larutan asam atau basa dalam air dan terdiri dari subkelompok-kelompok: steroid,prostaglandin dan terpena.
Lipid kompleks meliputi subkelompok-kelompok yang mudah terhidrolisis
menjadi zat-zat penyusun yang lebih sederhana, yaitu lilin (waxes) dan
gliserida.
Komponen-komponen campuran lipid dapat difraksionasi lebih lanjut
dengan menggunakan perbedaan kelarutannya didalam berbagai pelarut
organik. Sebagai contoh; fosfolipid dapat dipisahkan dari sterol dan
lemak netral atas dasar ketidaklarutannya di dalam aseton.
Suatu reaksi yang sangat berguna untuk fraksionasi lipid, adalah reaksi
penyabunan. Alkali menghidrolisa lipid kompleks dan menghasilkan sabun
dari komponen-komponen yang mengandung asam-asam lemak yang dapat
diesterkan.
A. ALAT DAN BAHAN
a. Reaksi uji lipid
1).Uji Akrolein
Alat-alat
- Mortir - Spatula
- Tabung reaksi - Pipet tetes
- Penjepit tabung - Neraca analitik
- Pembakar bunsen
Bahan-bahan
- Gliserol - KHSO4
- Lemak - Aquades
2). Uji Penyabunan
Alat-alat
- Tabung reaksi - Penangas air
- Pipet tetes - Gelas kimia
- Gelas ukur
Bahan-bahan
- KOH alkoholis 10 %
- Lemak
- Aquades
3). Uji Peroksida
Alat-alat
- Gelas ukur
- Pipet tetes
- Tabung reaksi
Bahan-bahan
- Minyak olive - laritan KI 10 %
- Kloroform - Asam asetat glasial
b. Sifat-sifat kimia lipid
1). Penentuan Angka Iod
Alt-alat
- Neraca analitik - Statif dan buret
- Erlemeyer - Pipet tetes
- Gelas ukur
Bahan-bahan
- Lipid
- Kloroform
- Larutan iodin hanus
- Larutan KI 15 %
- Na2S2O3 0,1 N
- Larutan kanji 1 %
A.HASIL PENGAMATAN
PERLAKUAN
HASIL PENGAMATAN
1). Uji Akrolein
- 0,5 gr lemak + 0,5 gr KHSO4, dipanaskan
- 0,5 gr gliserol + 0,5 gr KHSO4, dipanaskan
2). Uji Penyabunan
- 10 ml larutan KOH alkoholis 10 % + minyak,dikocok
- Dipanaskan di atas penangas air
- + 10 ml air
- Dipanaskan sampai semua alkohol menguap
3). Uji Peroksida
- 1 ml minyak olive + 1 ml kloroform
- + 1 ml asam asetat glasial,dikocok
- + 1 tetes larutan KI 10 %
- didiamkan selama 5 menit
- Bau lemak (tengik)
- Berbau
- Larutan berwarna kuning muda tidak saling bercampur
- Minyak larut dalam KOH alkoholis dan larutan berwarna kuning muda
- KOH alkoholis bercampur dengan lemak dan larutan berwarna kuning muda.
- minyak larut dalam kloroform
- terbentuk 2 lapisan,lapisan atas minyak yg berwarna kuning dan lapisan bawah
berwarna putih.
- larutan berwarna kuning
- terbentuk 2 lapisan,lap.atas berwarna putih dan lap. Bawah kuning
4). Penentuan Angka Iod
- 0,25 gr lipid padat + 10 ml kloroform
- + 30 ml larutan iodin hanus
- didiamkan selama 30 menit
- + 10 ml larutan KI 15 %
- + 100 ml aquades
- dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N
- + 2 ml indikator kanji
- dititrasi kembali dengan Na2S2O3 sampai larutan berwarna biru
- lipid tidak larut dalam kloroform
- Larutan berwarna cokelat tua
-larutan berwarna cokelat muda
- larutan berwarna kuning
- larutan berwarna putih
- tidak terjadi perubahan warna larutan
B.PEMBAHASAN
Lipid
merupakan senyawa yang banyakterjadi di alam. Senyawa ini dapat
diperoleh dengan jalan mengekstraksi bahan-bahan alam baik tumbuhan
maupun hewan dengan pelarut tidak polar sperti petroleum eter, benzena,
kloroform, dan lain-lain. Dilihat dari strukturnya senyawa lipida
tersusun oleh rantai hidrokarbon yang panjang, sehingga lipida ini tidak
larut dalam air. Senyawa lipida diberi nama berdasarkan sifat fisikanya
(kelarutan) dari pada secara struktur kimianya. Secara umum lipid
dibagi menjadi dua golongan besar yaitu lipid sederhana dan lipid
kompleks. Lipid yang termasuk dalam golongan sederhana adalah
senyawa-senyawa yang tidak mempunyai gugus ester dan tidak dapat
dihidrolisis. Golongan ini merupakan steroid. Golongan lipida kompleks
tersusun oleh senyawa-senyawa yang mempunyai gugus ester dan dapat
dihidrolisis, yang melipti minyak lemak dan lilin.
Yang dimaksud
dengan lemak disini adalah suatu ester asam lemak dengan gliserol.
Gliserol ialah suatu trihidroksi alkohol yang terdiri atas tiga atom
karbon.Jadi tiap atom karbon mempunyai gugus –OH.Satu molekul gliserol
dapat mengikat satu,dua atau tiga molekul asam lemak dalam bentuk
ester,yang disebut monogliserida,digliserida atau trigliserida. Pada
lemak,satu molekul gliserol mengikat tiga molekul asam lemak,oleh karena
itu lemak adalah Suatu trigliserida, R1-COOH, R2-COOH, dan R3-COOH
ialah molekul asam lemak yang terikat pada gliserol. Ketiga molekul asam
lemak itu boleh sama,boleh berbeda. Pada percobaan ini dilakukan 3
reaksi uji lipid, yaitu uji akrolein, uji penyabunan, dan uji peroksida.
Selain itu dilakukan percobaan penentuan angka iod untuk sifat larutan
kmia lipid.
1.Uji akrolein
Uji akrolein
untuk gliserol tergantung pada dehidrasi dan oksidasi gliserol menjadi
akrolein. Dalam uji ini ada dua percobaan yaitu percobaan pertama 0,5
gram lemak cair + 0,5 gram KHSO4 yang sudah digerus, kemudian dimasukkan
dalam tabung reaksi kering, selanjutnya dipanaskan dengan pembakar
Bunsen, mula-mula dengan api kecil kemudian dilanjutkan dengan api
dengan nyala besar. Pada saat dan KHSO4 medidih menghasilkan bau lemak
(tengik). Pada percobaan yang kedua untuk uji akrolein, 2 ml gliserol
ditambahkan dengan 0,5 gr KHSO4 kemudian dipanaskan. Dari hasil yang
diperoleh, campuran tersebut menghasilkan bau. Reaksi yang terjadi
adalah:
Apabila gliserol dicampur dengan KHSO4 dan dipanaskan hati-hati,akan
timbul bau yang tajam khas seperti bau lemak yang terbakar yang
disebabkan oleh terbentuknya akrilaldehida atau akrolein. Oleh karena
timbulnya bau yang tajam itu,akrolein mudah diketahui dan reaksi ini
telah dijadikan reaksi untuk menentukan adanya gliserol atau senyawa
yang mengandung gliserol seperti lemak dan minyak.
Bila lemak dan
minyak dicampur dengan KHSO4 dan dipanaskan hati-hati juga akan terjadi
akrolein. Glierol digunakan dalam industri kosmetika sebagai bahan
dalam pembuatan preparat yang dihasilkan. Disamping itu gliserol berguna
bagi kita untuk sintesis lemak didalam tubuh
2.Uji Penyabunan
Uji penyabunan
untuk asam-asam lemak dilakukan dengan menambahkan 10 ml KOH alkoholis
10% kedalam minyak yang hendak diuji, kemudian dikocok. Pencampuran ini
menghasilkan larutan berwarna kuning muda yang tidak saling campur.
Setelah itu minyak dan KOH alkoholisis 10% dipanaskan diatas penangas
air. Pada proses pemanasan ini minyak dapat larut dalam KOH alkoholisis
dan larutan berwarna kuning muda. Adapun reaksi kimia yang terjadi
adalah:
Reaksi di atas
dikenal dengan reaksi penyabunan (saponifikasi). Reaksi ini bertujuan
untuk pengambilan asam-asam lemak dari minyak, sehingga dihasilkan
campuran sabun dan gliserol yang mudah larut dalam air dan alkohol. Pada
pengambilan asam lemak ini, minyak dihidrolisis dengan larutan alkali
yaitu KOH (Kalium hidrosida).
Proses
hidrolisis yang menggunakan basa disebut proses penyabunan. Jumlah mol
basa yang digunakan dalam proses penyabunan ini tergantung pada jumlah
mol asam lemak.Untuk lemak dengan berat tertentu,jumlah mol asam lemak
tergantung pada panjang rantai karbon pada asam lemak tersebut. Apabila
rantai karbon itu pendek,maka jumlah mol asam lemak besar,sebaliknya
apabila rantai karbon itu panjang,jumlah mol asam lemak kecil. Jumlah
miligram KOH yang diperlukan untuk menyabunkan 1gram lemak disebut
bilangan penyabunan. Jadi besar atau kecilnya bilangan penyabunan ini
tergantung pada panjang atau pendeknya rantai karbon asam lemak atau
dapat dikatakan juga bahwa besarnya bilangan penyabunan tergantung pada
berat molekul lemak tersebut. Makin kecil berat molekul lemak,makain
besar bilangan penyabunannya.
3.Uji Peroksida
Minyak atau
lemak yang mengandung asam-asam lemak tidak jenuh dapat teroksi dari
oksigen yang menghasilkan suatu senyawa peroksida. Apabila minyak
mengalami oksidasi maka senyawa peroksida yang dihasilkan akan
meningkat.
Pada percobaan
ini 1 ml minyak olive ditambahkan dengan 1 ml kloroform. Pada proses
penambahan ini minyak larut dalam kloroform, karena kloroform merupakan
pelarut nonpolar.
Campuran
minyak olive dan kloroform kemudian ditambahkan 1 ml asam asetat
glasial, kemudian dikocok. Peranan asam asetat glasial dalam pemisahan
asam lemak yaitu sebagai katalis, artinya asam asetat dapat mempercepat
reaksi yang sedasng berlangsung sehingga reaksinya lebih cepat membentuk
asam lemak. Minyak olive yang ditambahkan 1 ml kloroform dan 1 ml
CH3COOH glasial kemudian dikocok, menyebabkan terbentuknya 2 lapisan,
yaitu pada lapisan atas minyak berwarna kuning dan pda bagian bawah
berwarna putih. Campuran tersebut kemudian ditambahkan dengan 1 tetes
larutan KI 10% sehingga larutan berwarna kuning. Langkah selanjutnya
didiamkan selama 5 menit. Dari proses ini kembali terbentuk 2 lapisan.
Lapisan atas berwarna putih dan bawah berwarna kuning.
4.Penentuan Angka Iod
Lipid
mengandung bermacam-macam asam lemak tak jenuh yang bereaksi dengan ion.
Jumlah iod yang diabsorpsi menetukan jumlah ketidak jenuhan dalam
lipid. Jadi angka iod didefinisikan sebagai berikut: banyaknya gram iod
diabsorpsi oleh 100 gr lipid. Dua metode yang umumnya dipakai yaitu:
metode Hanus yang memakai iodin bromida sebagai carrier dan metode Wijs
yang memakai iodin klorida. Namun metode yang digunakan pada percobaan
ini adalah metode iodin Hanus. Sebanyak 0,25 gr lipid padat ditambahkan
10 ml kloroform. Lipid padat ini tidak larut dalam kloroform karena
lipid yang digunakan adalah lipid padat, bukan lipid yang sudah
dicairkan dengan proses pemanasan.
Selanjutnya
ditambahkan 30 ml larutan iodin Hanus kemudian didiamkan selama 30 menit
dengan sesekali dikocok. Hasil yang diperoleh, larutan menjadi cokelat
tua.
Setelah 30
menit larutan ini ditambahkan dengan 10 ml larutan KI 15%. Larutan
berubah warna menjadi cokelat muda. Selanjutnya ditambahkan 100 ml
aquadest kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N, larutan menjadi
kuning, setelah itu ditambahkan dengan 2 ml indikator kanji sampai
larutan berwarna putih dan dititrasi lagi dengan Na2S2O3. Pada titrasi
kedua ini larutan tidak berubah atau tidak terjadi perubahan warna
larutan.
Lemak hewan pada umumnya berupa zat padat pada suhu ruangan,sedangkan
lemak yang barasal dari tumbuhan berupa zat cair.Lemak yang mempunyai
titik lebur tinggi mengandung asam lemak jenuh,sedangkan lemak cair
atau yng basa disebut minyak mengandung asam lemak tidak jenuh. Lemak
hewan dan tumbuhan mempunyai susunan asam lemak yang berbeda-beda. Untuk
menentukan derajat ketidakjenuhan asam lemak yang terkandung didalamnya
diukur dengan bilangan iodium. Iodium dapat bereaksi dengan ikatan
rangkap dalam asam lemak. Tiap molekul iodium mengadakan reaksi adisi
pada suatu ikatan rangkap. Oleh karenanya makin banyak ikatan
rangkap,makin banyak pula iodium yang dapat bereaksi.
Bilangan
lodium ialah banyaknya gram iodium yang dapat bereaksi dengan 100 gram
lemak. Jadi makin banyak ikatan rangkap makin besar bilangan iodium
KEISMPULAN
- Uji akrolein untuk gliserol tergantung pada dehidrasi dan oksidasi gliserol menjadi akrolein.
- Reaksi pembentukan sabun dari minyak dilarutkan dengan cara mereaksikan alkali dengan minyak sehingga didapatkan suatu sabun.
- Pada reaksi safonifikasi dihasilkan campuran gliserol dan sabun
- Minyak atau lemak mengandung asam-asam lemak tidak jenuh dapat teroksidasi oleh oksigen yang menghasilkan suatu senyawa peroksida.
- Pada percobaan angka iod tidak dihasilkan seperti yang diharapkan, mungkin karena kesalahan pada prosedur kerja.
KEMUNGKINAN KESALAHAN
Adapun kemungkinan keslahan pada saat percobaan adalah:
1.Saat mereaksikan larutan.
2.Pemanasan larutan.
3.Pengukuran larutan.
4.Pengamatan warna.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar Chairil. 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Yogyakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi.
Kristian. 2003. Kimia Organik I JICA. Malang: Universitas Negeri Malang
Teaching Team. 2007. Penuntun Praktikum Biokimia. Gorontalo: Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNG.
No comments:
Post a Comment