Menurut Eur.Ph (2002,Bab 01/2002-765) ekstrak adalah sediaan pekat
bahan cair (ekstrak atau tingture cair) atau bahan antara (semi cairan)
atau bahan padat (ekstrak kering) yang umumnya secara konsisten
dihasilkan dari bahan tanaman atau hewan yang dikeringkan melalui tehnik
yang melibatkan penggunaan pelarut secukupnya untuk memperoleh campuran
senyawa. (Maicheal, 2010) Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik
komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. Ekstraksi ini didasarkan
pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut dimana
perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi
masuk ke dalam pelarut.
Jenis-jenis ekstraksi Penyarian secara dingin yaitu:
- Maserasi
- Soxhletasi
- Perkolasi
Penyarian secara panas yaitu :
1.Refluks
2. Destilasi uap air
Cara-cara ekstraksi
- Penyarian secara dingin, meliputi :
- Maserasi
Penyarian yang sederhana dengan cara merendam serbuk simplisia dalam
75 bagian cairan penyari selama 3 hari pada temperatur kamar dan
terlindung dari cahaya, sambil berulang-ulang diaduk. Setelah 3 hari
disaring pada bejana penampung dan ampasnya diperas, ditambahkan lagi
cairan penyari secukupnya, diaduk, lalu disaring lagi hingga diperoleh
sari 100 bagian, sari yang diperoleh ditutup dan disimpan pada tempat
yang terlindung cahaya, dibiarkan selama 2 hari. Endapan yang terbentuk
dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. Dimana cairan akan menembus
dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat
aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan
zat aktif di dalam dan diluar sel sehingga terjadi difusi, peristiwa
ini berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di
luar sel dan di dalam sel (Najib, 2006).
- Soxhletasi
Penyarian simplisia secara berkesinambungan dimana cairan penyari
dipanaskan hingga menguap. Uap cairan penyari terkondensasi menjadi
molekul-molekul cairan oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia
di dalam klonsong, selanjutnya cairan penayri bersama-sama dengan
kandungan kimia akan turun kembali ke labu alas bulat atau labu
penampung. Proses ini berlangsung hingga penyarian zat aktif dianggap
sempurna yang ditandai dengan beningnya cairan penyari yang melalui pipa
siphon dan jika diidentifikasi dengan KLT tidak memberikan noda (Najib,
2006).
- Perkolasi
Serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian
bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke
bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif,
sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak ke bawah
disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan di atasnya,
dikurangi dengan gaya kapiler yang cenderung untuk menahan (Najib,
2006).
- Penyarian secara panas, meliputi :
- Reflux
Refluks adalah mempunyai komponen kimia yang tahan terhadap pemanasan
dan mempunyai tekstur yang keras seperti akar, batang, buah/biji, dan
herba. Sampel atau bahan yang akan diekstraksi ditimbang kemudian
dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan diisi dengan cairan penyari yang
sesuai misalnya metanol sampai serbuk simplisia terendam kurang lebih 2
cm diatas permukaan simplisia, atau 2/3 volume labu kemudian labu alas
bulat dipasang kuat pada statif dan ditempatkan diatas water bath atau
heating mantel lalu dipasang kondensor pada labu alas bulat yang
dikuatkan dengan klem pada statif. Aliran air dan pemanas dijalankan
sesuai dengan suhu pelarut yang digunakan. Setelah 4 jam dilakukan
penyaringan, filtrat ditampung dalam wadah penampung dan ampasnya
ditambah laju dengan pelarut dan dikerjakan seperti semula.
Ekstraksi dilakukan selama 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh
dikumpulkan dan dipekatkan dengan alat rotavapor (Makhmud, 2001).
- Destilasi uap air
Metode destilasi uap air digunakan untuk mengekstraksi simplisia yang
mengandung minyak menguap dan memiliki titik didih dan tekanan normal
tinggi digunakan untuk mencegah kerusakan zat aktif pada pemanasan yang
terlalu tinggi (Makmud, 2001).
Penyiapan bahan yang akan diekstrak dan plarut (Chemistry.org)
Selektivitas
Pelarat hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan
komponen-komponen lain dari bahan ekstraksi. Dalam praktek,terutama pada
ekstraksi bahan-bahan alami, sering juga bahan lain (misalnya lemak,
resin) ikut dibebaskan bersama-sama dengan ekstrak yang diinginkan.
Dalam hal itu larutan ekstrak tercemar yang diperoleh harus dibersihkan,
yaitu misalnya diekstraksi lagi dengan menggunakan pelarut kedua.
Kelarutan
Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar (kebutuhan pelarut lebih sedikit).
Kemampuan tidak saling bercampur
Pada ekstraksi cair-cair, pelarut tidak boleh (atau hanya secara terbatas) larut dalam bahan ekstraksi.
Kerapatan
Terutama pada ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat perbedaan
kerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi. Hal ini
dimaksudkan agar kedua fasa dapat dengan mudah dipisahkan kembali
setelah pencampuran (pemisahan dengan gaya berat). Bila beda
kerapatannya kecil, seringkali pemisahan harus dilakukan dengan
menggunakan gaya sentrifugal (misalnya dalam ekstraktor sentrifugal).
Reaktivitas
Pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada
komponenkornponen bahan ekstarksi. Sebaliknya, dalam hal-hal tertentu
diperlukan adanya reaksi kimia (misalnya pembentukan garam) untuk
mendapatkan selektivitas yang tinggi. Seringkali Ekstraksi juga disertai
dengan reaksi kimia. Dalam hal ini bahan yang akan dipisahkan mutlak
harus berada dalam bentuk larutan.
Titik didih
Karena ekstrak dan pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara
penguapan, destilasi atau rektifikasi, maka titik didit kedua bahan itu
tidak boleh terlalu dekat, dan keduanya tidak membentuk
ascotrop.Ditinjau dari segi ekonomi, akan menguntungkan jika pada proses
ekstraksi titik didih pelarut tidak terlalu tinggi (seperti juga halnya
dengan panas penguapan yang rendah).
Ekstraksi cair-cair biasa juga disebut sebagai metode corong pisah.
Jika suatu cairan ditambahkan ke dalam ekstrak yang telah dilarutkan
dalam cairan lain yang tidak dapat bercampur dengan yang pertama, akan
terbentuk dua lapisan. Satu komponen dari campuran akan memiliki
kelarutan dalam kedua lapisan tersebut dan setelah beberapa waktu
dicapai kesetimbangan konsentrasi dalam kedua lapisan. Waktu yang
diperlukan untuk tercapainya kesetimbangan biasanya dipersingkat oleh
pencampuran keduanya dalam corong pisah (Ditjen POM, 1986).
Pelarut yang mudah menguap tidak dicampur dengan fase air yang panas
(atau bahkan hangat). Hal ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan uap
sangat besar yang dihasilkan sehingga tutup corong pisah terbang dan
isinya tersemprot keluar. Hal ini dapat juga terjadi dengan cairan
dingin jika terjadi reaksi eksotermis misal pencampuran asam dan basa,
pengenceran asam-asam kuat (Ditjen POM, 1986).
Dikenal 3 macam bentuk corong pisah yaitu :
- Bentuk bulat, untuk mengekstraksi komponen kimia yang mengandung terpen glikosida
- Bentuk lonjong untuk mengekstraksi bahan alam yang mengandung lemak dan saponin
- Bentuk segi empat untuk mengekstraksi senyawa sintetik murni.
Faktor-farktor yang mempengaruhi mutu ekstrak
- Faktor biologi
Mutu ekstrak dipengaruhi oleh bahan asal yaitu tanaman obatnya dan
khusus dipandang dari segi biologi. Faktor biologik baik untuk bahan
dari tumbuhan obat asli budidaya ataupun dari tumbuhan liar yang
meliputi :
- Identitas jenis
Jenis tanaman dari sudut keragaman hayati dapat dikonfirmasi sampai
informasi genetik sebagai faktor internal untuk validasi jenis
- Lokasi tanaman asal
Lokasi berarti faktor eksternal, yaitu lingkungan (tanah dan
atmosfer) dimana tanaman berinteraksi berupa energi (cuaca,
temperatur,cahaya) dan materi ( air, senyawa organik, dan anorganik)
- Priode pemanenan hasil tumbuhan
Faktor ini merupakan dimensi waktu dari proses kehidupan tanman
terutama metabolisme sehingga menentukan senyawa kandungan. Kapan
senyawa kandungan mencapai kadar optimal dari proses biosintesis dan
sebaliknya kapan sebelum senyawa tersebut dikonversi atau
dibiotransformasi atau biodegradasi menjadi senyawa lain.
- Penyimpanan bahan tanaman
Menrupakan faktor yang dapat diatur karena dapat berpengaruh pada stabilitas bahan serta adanya kontaminasi.
- Umur tanaman dan bagian yang digunakan
Selain kelima faktor diatas, maka untuk bahan dari tanaman obat
hasil budidaya maka faktor GAP (Good Agriculture Practice) harus
dipertimbangkan sedangkan untuk bahan dari tumbuhan liar maka faktor
kondisi selama proses pengeringan yang umumnya dilakukan di lapangan
menjadi faktor yang dipertimbangkn
- Faktor kimia
Faktor kimia baik untuk bahan dari tanman obat hasil budidaya ataupun dari tumbuhan liar meliputi beberapa hal yaitu :
- Faktor internal :
- Jenis senyawa aktif dalam bahan
- Komposisi kualitatif senyawa aktif
- Komposisi kuantitatif senyawa aktif
- Kadar total rata-rata senyawa aktif
- Faktor eksternal
- Metode ekstraksi
- Perbandingkan ukuran alat ekstraksi
- Ukuran, kekerasan dan kekeringan bahan
- Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi
- Kandungan logam berat
- Kandungan pestisida
DAFTAR PUSTAKA
Makhmud, AI. 2001.
“Metode Pemisahan”. Departemen Farmasi Fakultas Sains Dan tekhnologi. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Najib Ahmad. 2007.
“Penuntun Praktikum Fitokimia II”. Universitas Muslim Indonesia. Makassar.
Departemen Kesehatan Republuk Indonesia. 1985.
“Tanaman Obat Indonesia”. Direktorat jenderal Pengawasan Obat Dan makanan. Jakarta.
No comments:
Post a Comment