Bakteri Eschericia coli umumnya dikenal sebagai bakteri merugikan
pemicu penyakit. Namun, berdasarkan hasil penelitian para ilmuwan
Amerika Serikat bakteri itu bisa dimanfaatkan dalam pembuatan
biofuel.Selama ini, bakteri Eschericia coli (E.coli) dikenal sebagai
bakteri merugikan yang bisa menyebabkan penyakit diare. Namun, jangan
dulu skeptis terhadap bakteri itu. Pasalnya, tidak semua jenis Exoli
merugikan.
Mikroorganisme itu, selain ditemukan di dalam usus besar manusia,
terdapat di alam. Pada dasarnya, E.coli aman bagi kesehatan manusia,
namun saat terelaborasi dengan virus atau bakteri patogen, bakteri
tersebut akan bertransformasi menjadi mikroba berbahaya.
Bakteri yang dapat memproduksi vitamin K2 itu juga biasa
dimanfaatkan dalam bidang rekayasa genetika, terutama sebagai vektor
penyisip gen. Pertumbuhan dan metabolismenya yang sangat cepat
menjadikan bakteri Ecoli cocok dimanfaatkan di bidang rekayasa genetika.
Jika dibandingkan dengan bakteri jenis Actinomycetes yang mampu
merombak struktur kimiawi sebuah tanaman dalam waktu 12 jam, E.coli
hanya memerlukan waktu enam jam.Demi meningkatkan sisi positif E.coli,
sekelompok peneliti dari US Department of Energy (DOE), Amerika Serikat
(AS), me ngembangkan teknik menuai ba-han bakar biodiesel dari asam
lemak bakteri gram negatif itu.
Adalah lay Keasling, ahli biologi sintetis dari DOE Joint Bio-energy
Institute (IBEI), yang terpilih mengepalai penelitian tersebut. Dalam
melalaikan penelitian, JBEI berkolaborasi dengan tim dari LS9, sebuah
industri bioteknologi swasta di San Francisco, AS.
Keasling mengatakan fakta bahwa E.coli dapat langsung menjadi
biomassa (bahan dasar pembuat bahan bakar) tanpa modifikasi kimia
tambahain merupakan penemuan menarik dan penting untuk dijaga
kesi-nambungannya. Dia memperkirakan ongkos untuk membuat biodiesel
dari E.coli lebih rendah dari biaya saat menyuling etanol untuk menjadi
biodiesel.
"Kami memercayai hasil yang kami dapat berpengaruh signifikan dengan
tujuan utama untuk memproduksi bahan bakar hayati {biofuel] yang
efektif dan dapat direproduksi dari bahan kimia terbarukan," papar
Keasling seperti dikutip Reuters.
Pati dan Gula
Bahan bakar hayati merupakan bahan bakar yang dapat berupa padatan,
cairan, atau gas dan dihasilkan dari bahan organik. Ada biofuel yang
berbahan baku tanaman, ada pula biofuel yang merupakan hasil dari
pengolahan bahan buangan, seperti limbah industri, komersial, domestik,
atau pertanian.
Ada tiga opsi yang umum diberlakukan dalam pembuatan bahan bakar
hayati konvensional. Pertama, pembakaran limbah organik kering. Kedua,
fermentasi limbah basah. Ketiga, proses fermentasi tanaman seperti tebu
atau jagung. Proses-proses itu akan menghasilkan jenis-jenis biofuel
generasi pertama, seperti minyak sayur, biodiesel, bioalko-hol, dan
biogas.
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran
mono-alkyl ester, yaitu senyawa organik yang terbentuk melalui
penggantian satu atau lebih atom hidrogen dalam gugus hidroksil dengan
gugus organik di sebuah rantai asam lemak. Biodiesel dapat dipakai
sebagai alternatif bahan bakar mesin diesel pengganti bahan bakar fosil.
Untuk memproduksi biofuel konvensional, para produsen memiliki dua
strategi yang diterapkan. Strategi pertama ialah menanam tanaman yang
mengandung gula semisal tebu, bit gula, dan sorgum manis atau tanaman
yang kaya kandungan pati, seperti jagung.
Pemilihan tanaman-tanaman yang mengandung gula dan pati berdasarkan
alasan tanaman-tanaman tersebut mengandung glukosa yang jika
difermentasi-kan dengan ragi dapat menghasilkan etil alkohol.Strategi
kedua, menanam tanaman-tanaman yang berkadar minyak nabati tinggi,
seperti kelapa sawit, kedelai, alga, atau jathropa. Apabila
dipanaskan,kekentalan minyak nabati akan berkurang dan dapat langsung
dibakar di dalam mesin, tepatnya mesin diesel.
Namun, agar dapat beradaptasi penuh dengan mesin diesel, bahan bakar
hayati dari minyak nabati itu harus diproses secara kimia hingga
menjadi biodiesel.Peneliti dari pusat penelitian bioteknologi Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),Yopi, mengatakan pada pembuatan
biofuel konvensional, bakteri berperan sebagai perombak susunan
struktur kimiawi dari biomassa sehingga dapat dikonversi menjadi bahan
bakar hayati.
"Misalkan pada tumbuhan pati, agar dapat menjadi etanol, maka
susunannya direkayasa dengan penambahan bakteri perombak,"
jelasnya.Meski cukup efektif menghasilkan etanol, proses tersebut
memakan waktu lama dan menghabiskan dana besar. Menurut Dwi
Sulistyaningsih, peneliti dari pusat penelitian bioteknologi LIPI,
untuk dapat menciptakan biofuel murni yang memiliki titik nyala 70
hingga 80 persen, dibutuhkan proses penyulingan lebih dari empat kali.
"Umumnya, dalam satu kali penyulingan menggunakan mikroba hanya
menghasilkan 40 sampai 60 persen etanol," ujarnya. Proses yang panjang
itulah yang coba dipangkas agar tercapai efisiensi.Salah satu caranya
ialah dengan memanfaatkan E.coli yang bukan ditujukan sebagai bakteri
perombak asam lemak nabati pada tumbuhan, tetapi sebagai sumber asam .
lemak untuk biodiesel.
Asam lemak merupakan sebuah molekul kaya energi yang ditemukan dalam
minyak tumbuhan dan hewani. Dari temuan DOE, E.coli dapat secara
natural menyintesis-kan asam lemak dan relatif mudah untuk diubah
secara genetik. Hal itu membuat bakteri temuan Theodor Escherich
tersebut menjadi mikroorganisme ideal untuk penelitian biofuel. Bekerja
sama dengan Eric Steen, ahli biologi JBEI, Keasling menggunakan reaksi
biokimia untuk memproduksi struktur biodiesel, alkohol, dan lilin
langsung dari ekstrak E.coli.
Para ahli menginjeksikan gen yang dapat membuat E.coli mengeluarkan
enzim yang biasa bertugas memecah material terkuat dalam tumbuhan,
yaitu enzim selulosa atau lebih spesifiknya hemiselulosa. Enzim itu
akan memproduksi gula yang dibutuhkan untuk proses pembuatan biodiesel
dan bisa dikatakan enzim tersebut merupakan biomassa selulosa.
Karena modifikasi itulah E.coli dapat memproduksi biodiesel secara
langsung dari tubuhnya. Hal itu membuat proses distilasi dan purifikasi
bisa dipangkas."Sebagai perbandingan, apabila menggunakan lemak atau
minyak dari tumbuhan, maka harus melewati proses esterifika-si terlebih
dahulu sebelum dapat digunakan," jelas Keasling.
Lebih jauh, Keasling menerangkan proses pengkloningan gen berasal
dari Clostridium ster-corarium dan Bacteroides ovalus (bakteri yang
tumbuh subur di tanah dan usus binatang herbi-vora) yang memproduksi
enzim pemecah selulosa.
Para peneliti juga menambahkan kode genetik tambahan untuk membentuk
asam amino pendek agar E.coli dapat mengeluarkan enzim hemiselulosa dan
mengubahnya menjadi gula. Gula itulah yang kemudian diolah menjadi
biodiesel.
Proses tersebut memang terbilang sempurna untuk pembuatan
hidrokarbon, namun belum bisa mencapai tahap pembuatan bensin.
Karenanya, para peneliti kini bermaksud memaksimalkan efisiensi dari
pengolahan modifikasi turunan E.coli. Mereka juga telah mengeksplorasi
berbagai cara untuk meningkatkan jumlah biodiesel yang diproduksi dari
reaksi tunggal
No comments:
Post a Comment