B. Tujuan Percobaan :
Membuat asam asetil salisilat dari asam
salisilat dan anhidrida asam asetat melalui reaksi asetilasi (sejenis
reaksi esterifikasi).
C. Dasar Teori
Aspirin adalah obat
pertama yang dipasarkan dalam bentuk tablet. Sebelumnya, obat
diperdagangkan dalam bentuk bubuk (puyer). Dalam menyambut Piala Dunia
FIFA 2006 di Jerman, replika tablet aspirin raksasa dipajang di Berlin
sebagai bagian dari pameran terbuka Deutschland, Land der Ideen
("Jerman, negeri berbagai ide").
Asam salisilat (o-hidroksi asam
benzoate) merupakan senyawa bifungsional yang mengandung gugus fungsi
hidroksi dan karboksil. Dengan demikian asam salisilat dapat berfungsi
sebagai fenol (hidroksibenzena) dan juga berfungsi sebagai asam
benzoate. Baik sebagai asam maupun sebagai fenol, asam salisilat dapat
mengalami reaksi esterifikasi. Bila direaksikan dengan anhidrida asam,
akan mengalami reaksi esterifikasi menghasilkan asam asetil salisilat
(aspirin). Dan apabila direaksikan dengan methanol (alcohol), juga
mengalalmi reaksi esterifikasi menghasilkan ester metal salisilat
(minyak gandapura).
Aspirin adalah salah satu jenis obat
yang paling dikenal. Orang Romawi dan Yunani kuno telah menggunakan
sejenis aspirin yang diekstak dari sejenis tumbuhan sebagai analgesic
(enghilang rasa sakit). Selain itu, aspirin juga dikenal sebagai
antipyretic (penurun demam), dan antiinflammatori.
Asam
asetilsalisilat pemerian hablur putih, umumnya seperti jarum atau
lempengan tersusun, atau serbuk hablur putih, tidak berbau atau berbau
lemah. Stabil di udara kering, di dalam udara lembab secara bertahap
terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat. Sukar larut dalam
air, mudah larut dalam etanol, larut dalam kloroform dan eter, agak
sukar larut dalam eter mutlak.
Farmakope Indonesia edisi IV, hal.31
Khasiat ASPIRIN
Aspirin
atau asam asetilsalisilat (asetosal) adalah suatu jenis obat dari
keluarga salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik (terhadap
rasa sakit atau nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan
anti-inflamasi. Aspirin juga memiliki efek antikoagulan dan digunakan
dalam dosis rendah dalam tempo lama untuk mencegah serangan jantung.
Penggunaan
aspirin bisa mengurangi resiko sakit jantung dan jenis kanker tertentu,
yang merupakan penyumbang utama kematian di kalangan perempuan. Tetapi
belum jelas apakah penggunaan aspirin untuk jangka-panjang memang
berkaitan dengan pengurangan resiko kematian dari semua sebab.
Penggunaan
aspirin saat ini berhubungan dengan 25 persen pengurangan resiko
kematian dari setiap penyebab, dibandingkan dengan orang yang tak
menggunakan aspirin secara rutin. Penggunaan aspirin selama 1 sampai 5
tahun tampaknya memberi perlindungan terhadapi penyakit jantung,
sedangkan penggunaan sedikitnya selama 10 tahun diperlukan guna mencegah
penyakit berbahaya. Manfaat kelangsungan hidup dari penggunaan aspirin
untuk jangka panjang paling terlihat pada perempuan berusia lanjut dan
di kalangan mereka yang memiliki banyak faktor resiko serangan jantung.
Studi
terdahulu menyatakan pil yang ditemukan 100 tahun silam ini juga mampu
mencegah kanker paru-paru, penyakit jantung dan artritis.
Kesimpulan
para peneliti dari Institute of Pharmacological Research, Milan, Italia
ini muncul setelah dilakukan analisis terhadap 965 orang pasien kanker
dan 1779 orang di rumah sakit. Kepada mereka diberikan daftar pertanyaan
atau kuesioner seputar kebiasaan merokok, minum, diet dan seberapa
sering mereka mengonsumsi aspirin.
Hasilnya, pada orang yang
menenggak aspirin secara teratur selama lima tahun atau lebih bisa
mengurangi potensi mereka mengidap kanker mulut, dan kerongkongan
dibanding mereka yang tak pernah atau jarang mengonsumsi aspirin.
Banyak
di antara pasien tersebut yang meminum aspirin berkaitan dengan
gangguan jantung yang dideritanya. Seperti kita tahu, obat ini kerap
digunakan dalam pengobatan penyakit kardiovaskuler untuk mengurangi
pembekuan darah. Dalam hal ini, aspirin mampu menghambat penggumpalan
trombosit, butir pembeku darah. Dengan mekanisme itu, aspirin mengurangi
kecenderungan darah untuk membeku, yang berarti membantu mengurangi
atau mencegah timbulnya pembekuan pada arteri yang menyempit.
Dari
hasil studi yang dipublikasikan dalam The British Journal of Cancer ini
diyakini bahwa apabila aspirin dikonsumsi lebih awal sebelum seseorang
menderita kanker maka bisa dipakai sebagai obat antikanker. Namun
sebelum hal ini direkomendasikan kepada khalayak umum, tetap dibutuhkan
studi lanjutan.
Pembuatan ASPIRIN
Reaksi dengan fenol sendiri
tidak terlalu penting, tetapi kita bisa membuat aspirin dengan sebuah
reaksi yang sangat mirip dengan reaksi ini. Molekul berikut adalah asam
2-hidroksibenzoat (juga disebut sebagai asam
2-hidroksibenzenkarboksilat). Nama lama untuk senyawa ini adalah asam
salisilat.
Senyawa ini dituliskan dengan salah satu dari dua cara
berikut. Keduanya adalah struktur yang sama dengan molekul yang hanya
diputar. Senyawa ini juga dituliskan dengan gugus -OH pada bagian ujung
atas dan gugus -COOH di sebelah kiri atau kanannya. Ini terkadang sangat
membingungkan.
Apabila senyawa ini bereaksi dengan anhidrida
etanoat, maka akan teretanoilasi (atau terasetilasi untuk istilah lebih
umumnya). Walaupun reaksi ini juga bisa dilakukan dengan etanoil klorida
, namun aspirin diproduksi dengan cara mereaksikan asam
2-hidroksibenzoat dengan anhidrida etanoat pada suhu 90°C.
2. Bahan
Asam Salisilat (C7H6O3), BM 138,12 gr/mol
Hablur
putih, berbentuk jarum halus, rasa agak manis, tajam,dan stabil di
udara. Sukar larut dalam air dan benzene, mudah larut dalam etanol,
larut dalam air mendidih, dan agak sekar larut dalam klorofom.
Farmakope Indonesia edisi IV, hal.51
Asam Asetat (CH3COOH), BM 60,05 gr/mol
Cairan jernih, tak berwarna, bau khas, menusuk, rasa asam yang tajam, dapat bercampur dengan air dan gliserol.
Farmakope Indonesia edisi IV, hal.46
Asam Sulfat (H2SO4), BM 98,07 gr/mol
Cairan
jenuh seperti minyak, tak berwarna, bau sangat tajam dan korosif,
bercampur dengan air dan etanol dengan menimbulkan panas.
Farmakope Indonesia edisi IV, hal.52-53
F. Hasil Pengamatan
No.
Waktu
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
09.50
Sebanyak 2 gram asam salisilat ditimbang pada neraca analitik
2.
09.52
2 gram Asam salisilat dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
3.
10.50
Campuran larutan sebelumnya ditambahkan lagi dengan 5 tetes H2SO4 pekat.
Larutan berwarna keruh
4.
10.07
Campuran larutan dipanaskan diatas kompor listrik selama 5-10 menit
Larutan menjadi bening dan baunya menyengat
5.
10.15-10.20
Campuran larutan diangkat dari kompor listrik dan dibiarkan mendingin
Agar terbentuk Kristal asam asetilsalisilat (aspirin)
6.
10.21
Campuran dimasukan kedalam air es
Mulai terbentuk Kristal aspirin
Data Hasil Pengamatan :
Berat kertas saring = 0,42 gram
Berat krital + kertas saring = 2,4127 gram
Jadi, berat krital = (Berat krital + kertas saring) – (Berat kertas saring)
= 2,4127 gram – 0,42 gram
= 1,9927 gram
Rendemen = x 100%
1,9927 gram x 100%
2,52 gram
= 79,07 %
G.Pembahasan
Pembuatan
aspirin dapat dilakukann dengan tiga cara namun dalam praktikum ini
kami menggunakan cara ketiga. cara ketiga ini dimulai dengan menimbang
asam salisilat sebanyak 2 gram, diamasukkan dalam Erlenmeyer,
ditambahkan dengan 5 ml asam asetat, Campuran larutan tidak berwarna,
Campuran larutan sebelumnya ditambahkan lagi dengan 5 tetes H2SO4 pekat
diaduk sampai campuran larutan larut. H2SO4 bersifat sebagai katalis.
Selanjutnyan Campuran larutan dipanaskan diatas kompor listrik selama
5-10 menit Campuran larutan diangkat dari kompor listrik apabiula
seluruh larutan telah larut dan dibiarkan hingga terbentuk kristal .
Kristal yang terbentuk sebelumya, didinginkan dalam air es maka kristal
yang terbentuk semakin banyak. Selanjtnya ditambahkan 50 ml aquadest ke
dalam kristal yang telah terbentuk. Kristal yang telah bercampur dengan
aquadest disaring dengan corong Buchner. Maka akan terpisah antara
kristal asam asetil salisilat dengan filtratnya. Filtrate yang
dihasilkan digunakan untuk mencuci kristal, Banyaknya filtrate yang
dihasilkan 50 ml. setelah itu kristal yang dihasilkan dikeringkan
diudara terbuka,setelah kering emudian dilakukan uji kemmurnian. Caranya
yaitu dengan meneteskan Feriklorida pada kristal yang telah terbentuk
sebelumnya. Setelah ditetesi dengan periklorida kristal berwarna ungu,
hal ini berarti kristal berarti masih mengandung pengotor lain.
Selanjutnya dilakukan pemurnian kembali dengan menambahkan 2,5 ml
Natrium bikarbonat setelah itu Kristal disaring dengan menggunakan
kertas saring dan Corong Buchner,dari proses ini terbentuk filtrate dan.
Filtrat yang terbentuk sebelumnya ditampung dalam gelas kimia, dan
ditambahkan dengan 10 ml aquadest dan 3,5 ml HCl pekat. Dari proses ini
dihasilkan buih yang lama kelamaan hilang, tetapi tidak terbentuk
endapan aspirin. Hal ini disebabkan oleh karena kristal yang tebentuk
sebelumnya belumterlalu kering dan tidak didinginkan kembali dalm air
es.
H. Kesimpulan
Dari hasil pereobaan diatas dapat
disimpulkan bahwa aspirin dapat dibuat dari asam salisilat dan
anhidrida asam asetat melalui reaksi asetilasi (sejenis reaksi
esterifikasi). Namun tidak dihasilkan krisrtalaspirin yang murni.
I. Pertanyaan
1. Hitung hasil teoritis aspirin yang diperoleh !
2. Mengapa penghilangan asam asetat dapat meningkatkan aspirin yang terbentuk ?
3. Apa fungsi asam sulfat dalam reaksi ini ?
4. Usaha apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil reaksi ?
5. Apakah fungsi penambahan larutan natrium bikarbonat ? Bolehkah diganti dengan natrium hidroksida ?
Jawab :
1. 1 mol asam salisilat = 1 mol aspirin
Mol asam salisilat =
=
= 0,014 mol
1 Mol aspirin = 1 Mol asam salisilat = 0,014 mol
Massa aspirin = Mol aspirin x BM aspirin
= 0,014 mol x 180,16 gram / mol
= 2, 52 gram
3. Asam sulfat pekat dalam reaksi ini berdungsi sebagai katalis ( dapat mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi ).
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jendral POM. 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Tim Asistensi Kimia Organik II. 1993. Penuntun Praktikum Kimia Organik. Bandung: Fakultas MIPA Bandung
http://id.wikipedia.org/wiki/Aspirin
http://en.wikipedia.org/wiki/Aspirin
http://kapanlagi.com/a/0000004147.html
No comments:
Post a Comment